Energi Positif Kebudayaan

Dilihat 64 kali
Kabupaten Magelang merupakan gudangya peristiwa kebudayan, seperti perhelatan Fesival Lima Gunung yang sudah berlangsung konsisten lebih dari dua dasawarsa atau seperempat abad telah merambah skala internasional.

Dalam akselerasi dinamika perubahan yang sangat pesat saat ini, tidak jarang kecenderungan manusia selalu mengkultuskan banyak hal yang bernafas modern. Mereka berasumsi segala sesuatu yang didapatkan instan pertanda mereka dapat dikatakan sebagai sosok komunitas modern. Malahan ada arogansi di antara mereka, kalau kelompok yang masih berorientasi hidup tidak mangikuti dinamika zaman dianggap kuno atau terbelakang.


Padahal, tidak mesti mereka yang tidak mengikuti perkembangan zaman mesti berpikiran kuno. Mereka kemungkinan besar akan mempertimbangkan dengan prinsip bahwa tidak mesti dinamika zaman harus diikuti, cukup diketahui saja. Jadi tidak harus ikut kecanduan dalam pola hidup yang mengikuti derasnya arus. Seperti maraknya plafon digital saat ini, tidak harus semua diikuti namun hanya cukup diketahui. Tindakan seperti itu dinamakan sebagai prinsip kebudayaan.


Prinsip kebudayaan merupakan asas, nilai dasar, atau pedoman fundamental yang mendasari pembentukan, pelaksanaan, dan pelestarian sistem gagasan, tindakan, serta hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, prinsip kebudayan dari masing-masing masyarakat harus dihargai. Prinsip saling menghargai tersebut merupakan wujud dari substansi multikulturalisme yang menegaskan bahwa tidak ada budaya yang lebih unggul dari budaya lainnya.


Dalam konteks Indonesia, prinsip ini diformulasikan dengan sangat eksotis dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu. Menghargai bukan berarti semua orang harus mengadopsi atau menyetujui seluruh aspek budaya tersebut, melainkan mengakui hak mereka untuk tetap eksis dan hidup berdampingan secara damai.


Gerakan Kebudayaan


Atensi pemerintah terhadap kebudayaan saat ini juga perlu diapresiasi. Sekarang sudah terbentuk Kementerian Kebudayaan seperti yang diinginkan publik. Terbentuknya Kementerian Kebudayaan tersebut merupakan gerakan kebudayaan agar semua aspirasi publik dapat terakomodir dalam satu kementerian sendiri. Selalin itu pemerintah juga memfasilitasi agar ekspektasi publik dapat terakomodasi selaras dengan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayan yang perlu dimanifestasikan dengan aksi nyata yang berkelanjutan.  


Pada dasarnya kebudayaan bukan sekadar bersinggungan dengan aspek kesenian, adat istiadat, atau pewarisan masa lalu, melainkan sebagai nyawa dan fondasi penggerak kemajuan bangsa di tengah arus globalisasi. Tidak bisa dipungkiri, kebudayaan merupakan suatu potensi dinamis yang bukan sekadar warisan untuk direvitalisasi, namun sebagai daya hidup yang memiliki kekuatan sebagai pemantik dan stimulasi pembangunan berkelanjutan.


Hal itu selaras dengan tema Hari Kebudayaan Nasional (HKN) tahun ini yang diperingati setiap 17 Oktober yaitu Harmoni dalam Keberagaman. Tema ini mengandung makna bahwa kekayaan budaya, tradisi, bahasa, serta adat istiadat dari Sabang sampai Merauke bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang menyatukan bangsa Indonesia di bawah payung Bhinneka Tunggal Ika.


Dengan demikian, HKN dapat menjadi suatu gerakan kebudayaan yang dapat diaktualisasikan secara faktual. Peringatan HKN ini hendaknya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan dorongan bagi masyarakat, komunitas seni, hingga generasi muda untuk aktif merawat, melestarikan, dan memajukan kebudayaan lokal di tengah derasnya arus globalisasi.


Adapun hal yang sangat substansial dalam HKN ini paling tidak merujuk pada empat aspek filosofis yang saling berkelindan, yaitu cipta, rasa, karsa, dan karya. Aspek filosofis cipta menegaskan, daya pikir dan akal budi manusia akan menghasilkan inovasi, ilmu pengetahuan, serta teknologi berbasis kearifan lokal.


Filosofis rasa merujuk pada pemahaman bahwa kepekaan hati dan estetika yang melahirkan seni, keindahan, dan tradisi lisan. Aspek karsa merupakan aspek yang menekankan bahwa kehendak atau niat luhur yang mendorong manusia untuk melakukan perbaikan, menjaga lingkungan, dan melestarikan nilai spiritual. Sedangkan karya merupakan resultansi nyata dari perpaduan cipta, rasa, dan karsa yang berbentuk benda, bangunan, atau tradisi yang diwariskan.


Keempat aspek filosofis tersebut paling tidak dapat menjadi pedoman dasar untuk berpikir dan bertindak. Karena perlu disadari bahwa kebudayaan saat ini perlu bertransformasi dengan dinamika zaman. Persoalan yang paling elementer saat ini, bukan hanya sebatas kita sebagai warga bangsa untuk cukup melindungi kebudayaan dari berbagai tantangan, pengaruh, dan imbasnya.


Akan tetapi yang paling substansial yaitu seharusnya menyambut perubahan tersebut sebagai sebuah peluang sekaligus pendorong untuk menumbuhkan kreativitas kebudayaan tetap hidup dalam era transformasi yang dinamis. Pada prinsipnya kebudayaan bukan hanya berkutat pada nilai-nilai luhur beserta perwujudannya untuk diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan juga terkait dengan kreativitas. Perlu diingat pula bahwa kreativitas yang dilakukan manusia merupakan salah satu kebutuhan dalam usaha mempertahankan kebudayaan (Undri, 2026).


Kabupaten Magelang sampai saat ini memang layak disebut sebagai gudangnya peristiwa kebudayaan. Julukan ini bukan tanpa alasan, sebab wilayah yang dikelilingi oleh lima gunung besar ini memiliki ekosistem kebudayaan yang sangat hidup, mulai dari ribuan kelompok seni rakyat, ritual adat lereng gunung yang lestari, hingga festival kontemporer skala nasional dan internasional.


Sebut saja Festival Lima Gunung yang sudah berlangsung lebih dari 2 dasawarsa. Festival ini adalah peristiwa kebudayaan mandiri paling ikonik di Magelang. Diselenggarakan secara konsisten oleh komunitas seniman petani lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Menoreh. Puluhan hingga ratusan grup kesenian tampil tanpa pendanaan komersial, menjadikannya simbol kedaulatan kultur desa.


Di samping itu, di Kabupaten Magelang juga terdata kurang lebih sekitar 2.700 kelompok seni dengan lebih dari 50 jenis kesenian tradisional rakyat yang tersebar aktif di 21 kecamatan. Komunitas-komunitas ini terus beregenerasi berkat kuatnya ikatan sosial agraris masyarakat di seluruh penjuru Kabupaten Magelang.


Energi Kebudayaan


Pada dasarnya kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sebuah energi positif yang dinamis untuk mendorong sekaligus memantik kreativitas dan karya faktual di era modern. Warisan tradisi, nilai leluhur, dan kesenian dapat menjadi bahan bakar utama bagi generasi saat ini untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya yang berakar kuat namun tetap relevan secara global.


Kebudayaan tidak hanya bicara soal produk fisik, tetapi juga pola perilaku. Nilai gotong royong yang melekat pada budaya kita adalah modal sosial yang kuat. Dalam dunia kerja modern dan industri kreatif, tidak ada karya besar yang lahir sendirian. Energi gotong royong memicu terjadinya kolaborasi lintas disiplin, misalnya antara seniman tradisional dengan ahli teknologi dapat  menciptakan karya yang berdampak luas.


Budaya bukanlah sebuah pajangan di museum yang statis, melainkan energi hidup yang mengalir dalam nadi kreativitas. Dengan menjadikan kebudayaan sebagai inspirasi utama, karya yang dihasilkan tidak hanya akan bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki jiwa, karakter, dan daya tahan yang kuat di tengah gempuran zaman.


Selamat merayakan hari Kebudayaan Nasional 2026.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang

✨ Transformasi Mindset, Wujudkan Pelayanan Publik Berkualitas! Pemerintah Kabupaten Magelang terus memperkuat komitmen dalam menghadirkan birokrasi yang profesional, responsif, ramah, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan Transformasi Mindset dan Sharing Praktik Baik Pelayanan Publik, seluruh jajaran diajak untuk membangun pola pikir positif, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat sinergi dan kolaborasi antarperangkat daerah. 🤝 Karena pelayanan terbaik lahir dari kerja sama, kepedulian, dan semangat melayani dengan sepenuh hati. Bersama, wujudkan pelayanan publik yang cepat, ramah, tuntas, dan berkualitas demi Magelang yang semakin maju! #Magelang #KabupatenMagelang #PelayananPublik #TransformasiBirokrasi

♬ original sound kominfomagelang