Mengobarkan Semangat Cinta Tanah Air

Dilihat 2779 kali
Sosok Kumbakarna merupakan tokoh yang pola pikir dan tindakannya selalu mengedepankan semangat cinta tanah air yang tak pernah pudar sampai akhir hayatnya. Foto: Pustaka Wayang, 1978

Dalam dinamika perjalanan waktu, perkembangan sains dan teknologi telah merasuk dalam diri bangsa Indonesia. Di kalangan milenial era digitalisasi merupakan santapan mereka sehari-hari. Kepiawaian memanfaatkan sistem digitalisasi ini menjadikan mereka terbuka wawasannya. Dunia seakan ada dalam genggamannya. Berbagai akses informasi dengan mudah didapatkan.


Di tengah menyeruaknya sistem digitalisasi tersebut, ada perspektif lain yang perlu diperhatikan. Tereduksinya sikap menghargai budaya sendiri makin lama makin berkurang. Generasi milenial kurang begitu peduli dengan nilai keragaman budaya yang sebenarnya sangat kaya dan tiada kering untuk dipelajari. Mereka lebih menoleh ke produk budaya asing yang mereka anggap memiliki nilai prestisius tinggi.


Memang di era global ini, kiranya tidak perlu anti produk budaya asing, namun perlu adanya pola keseimbangan untuk tetap mengapresiasi nilai kultural dan produk budaya bangsa kita sendiri, seperti upacara adat, kebiasaan hidup, kesenian, dan sebagainya.


Berbagai opini publik banyak yang menyoroti bahwa, rendahnya apresiasi terhadap budaya sendiri menandakan bahwa generasi milenial ini mengalami degradasi rasa nasionalisme. Implikasi nasionalisme ini merujuk pada pemahaman paham yang berisi kesadaran bahwa tiap-tiap warga negara merupakan bagian dari suatu bangsa Indonesia yang berkewajiban mencintai dan membela negaranya (Permanto, 2012).


Rasa nasionalisme yang dulu sangat melekat kuat pada diri bangsa Indonesia kini semakin lama akan tergantikan dengan adat dan budaya yang yang sangat buruk bagi pembangunan karakter bangsa ini. Banyak pemuda Indonesia yang menggunakan produk luar negeri daripada produk bangsa Indonesia sendiri. Mereka kurang menghargai produk dalam negeri, tidak mengetahui betapa baiknya produk dalam negeri dan tidak kalah menarik dengan produk luar negeri. Jika hal ini dibiarkan terus akan berakibat fatal dan menyebabkan bangsa kita akan mengalami degradasi kultural.


Untuk menyikapi hal tersebut, kiranya generasi milenial perlu diarahkan untuk kembali menengok pada budaya Indonesia sendiri. Orang tua, lembaga pendidikan, lembaga-lembaga di masyarakat, dan beberapa institusi lain perlu mengarahkan mereka untuk mempelajari nilai-nilai luhur yang mencerminkan nilai nasionalisme yang ada dalam budaya lola, seperti dalam kisah cerita wayang.


Dalam ranah seni pertunjukan, apabila publik menyaksikan seni pertunjukan wayang, kiranya tidak bisa lepas dari perilaku kehidupan manusia di muka bumi ini. Wayang merupakan simbol kehidupan manusia yang mempunyai paparan lengkap. Di dalamnya memuat kandungan intensitas filosofis seiring dengan jentera kehidupan manusia yang siklusnya selalu berputar bagai cakra manggilingan.


Di samping itu, wayang merupakan salah satu warisan budaya yang tak ternilai harganya. Pewarisannya sudah turun temurun. Sebagai hasil kebudayaan, wayang memiliki nilai hiburan yang mengandung cerita pokok dan juga berfungsi sebagai media komunikasi. Penyampaian dalam narasinya diselingi pesan-pesan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga memiliki nilai pendidikan, tontonan, juga tuntunan kehidupan.


Tokoh Kumbakarna


Salah satu tokoh wayang yang memiliki nilai nasionalisme antara lain adalah tokoh Kumbakarna. Tokoh wayang ini adalah putra kedua Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali, raja negara Alengka. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung bernama Dasamuka/Rahwana, Dewi Sarpakenaka dan Arya Wibisana. Kumbakarna juga mempunyai saudara lain ibu bernama Prabu Danaraja raja negara Lokapala, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.


Kumbakarna mempunyai tempat kedudukan di Kesatrian Pangeburgangsa. Ia berwatak jujur, berani karena benar dan bersifat satria. Pada waktu mudanya ia  tekun pergi bertapa dengan maksud agar dapat anugrah Dewata berupa kejujuran dan kesaktian. Oleh para Dewata, Kumbakarna mendapat anugrah bidadari Kiswani sebagai istrinya. Dari perkawinan tersebut memperoleh dua orang putra bernama Kumbaaswani dan Aswanikumba.


Pada waktu pecah perang besar Alengka, negara Alengka diserang balatentara kera Prabu Rama, di bawah panglima perangnya Narpati Sugriwa untuk membebaskan Dewi Sinta yang disekap Prabu Dasamuka, Kumbakana maju sebagai senapati perang. Ia berperang bukan membela keangkaramurkaan Prabu Dasamuka tetapi membela negara Alengka, tanah leluhurnya yang telah memberinya hidup, walaupun ajal harus menjemputnya.


Makna Nasionalisme


Makna dari cerita tokoh Kumbakarna tersebut tak lain adalah wujud nasionalisme. Perlawanan yang dilakukan Kumbakarna merupakan tindakan sifat kesatria dan nasionalis yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara. Perjuangan Kumbakarna adalah murni. Artinya tanpa pamrih. Tidak untuk kepentingan materi atau kedudukan. Dia tahu betul kakaknya di pihak yang salah dan secara tegas ia sudah menentang. Kumbakarna berjuang semata-mata karena cintanya terhadap tanah air dan merupakan pengabdiannya yang terakhir buat nusa dan bangsanya.


Dari kisah kepahlawanan Kumbakarna itu bisa kita petik pesan moral yang hendak disampaikan lewat makna ceritanya. Sikap bela negara, nasionalisme dan patriotisme harus dilandasi atas dasar kecintaan terhadap bumi pertiwi, bukan semata-mata tindakan yang membabi buta. Pola pikir dan pola tindakannya menjadi dasar dari prinsip perjuangan dan idealismenya.


Dengan demikian, tema Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI tahun 2022 ini yang mengambil tema Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat, perlu lebih ditekankan pada penguatan nilai nasionalisme mengobarkan semangat cinta tanah air untuk lebih berorientasi pada nilai kultural bangsa Indonesia sendiri, seperti dalam nilai-nilai kearifan lokal yang penuh dengan suri teladan dan tuntunan moral.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar