Mengoptimalkan Kunjungan Museum

Dilihat 1093 kali
Berbagai koleksi benda seni Museum Lima Gunung di Mendut Mungkid Kabupaten Magelang dapat menjadi sumber inspirasi semua pihak untuk mendalami makna seni secara mendalam baik aspek visual maupun filosofisnya.

Apabila ditelisik lebih mendalam, pembelajaran dalam kelas baik di pendidikan formal maupun nonformal apabila dilakukan monoton akan menjadikan peserta didik menjadi jenuh. Terlebih lagi, di pendidikan nonformal, seperti di sanggar-sanggar seni baik itu seni pertunjukan maupun seni rupa. Peserta didik memerlukan pencerahan di tempat lain yang berbeda dengan tempat belajarnya. Dengan memberikan peluang mereka untuk belajar di tempat lain akan memperkaya pengetahuan yang sudah mereka dapatkan.


Salah satu alternatif untuk tempat belajar sebagai tambahan wawasan mereka di antaranya adalah museum. Bila mendengar terminologi museum, imajinasi publik sepertinya dibawa ke tempat yang seram atau tempat menumpuknya naskah-naskah kuno yang tak terawat seperti halnya tayangan-tayangan film Eropa yang dominan menonjolkan sisi misteri sebuah museum.


Museum era sekarang ini, sudah dikemas layaknya sebuah wisata sejarah yang di dalamnya memuat rekam jejak karya para maestro yang kesohor di seluruh penjuru negeri ini. Di samping itu, museum memiliki peranan yang sangat signifikan dalam peningkatan kapabilitas pembelajaran, terutama dalam ilmu-ilmu sosial atau humaniora.


Selain sebagai sumber belajar juga dapat menjadi media pembelajaran. Sebagai sumber belajar, museum menjadi tempat peserta didik memperoleh informasi dan pengetahuan. Adapun sebagai media pembelajaran, museum dapat memberikan fasilitas bagi peserta didik dalam menerima sarana pengetahuan yang didapatkan dari guru untuk lebih dikaji secara akuratif dan komprehensif.


Pada dasarnya museum merupakan edukator jejak rekam historis perjalanan suatu bangsa dalam runutan perjalanan waktu dari masa ke masa. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 2015 tentang Museum ditegaskan bahwa museum merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat (Agung Vendi Setyawan, 2023).


Awal perjalanan permuseuman di Tanah Air diawali dari berdirinya lembaga swasta Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada 24 April 1778 dan turut berperan serta dalam mendirikan Museum Nasional. Adapun koleksi-koleksinya pada umumnya merupakan peninggalan-peninggalan komunitas Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI, seperti mebel, perabot rumah tangga, senjata, keramik, peta, buku-buku, serta benda-benda antik lainnya.


Pemantik Inspirasi


Eksistensi museum beserta berbagai ragam koleksinya dapat menjadi sumber belajar peserta didik yang pada gilirannya akan menjadikan pemantik inspirasi. Implikasi sumber belajar merupakan semua bahan pembelajaran yang dapat memberikan informasi baik berupa data dan berbagai wujud tertnetu yang dapat dipakai peserta didik dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Sedangkan inpirasi merupakan dorongan untuk terus berpikir kreatif. Dengan berpikir kreatif ide akan terus mengalir, sehingga menjadi pemantik semangat dalam mengarungi dinamika hidup yang pada gilirannya dapat lebih mudah melakukan berbagai aktivitas.


Lebih jauh, tentunya museum dapat memberikan kontribusi besar bagi peserta didik baik di pendidikan formal maupun nonformal. Bagi peserta didik di pendidikan formal museum dapat menjadi sumber belajar yang mendukung kurikulum. Koleksi museum dapat menjadi sumber belajar konkret, sehingga pembelajaran di kelas, tidak hanya berkutat pada teori verbal, namun tataran praksis dan aktualitasnya dapat dilihat secara nyata.


Sedangkan bagi lembaga pendidikan nonformal seperti sanggar seni, museum dapat dijadikan sebagai pengayaan juga pemantik inspirasi. Ketika di sanggar mereka belajar seni tari atau seni rupa, dengan berkunjung ke berbagai museum seperti Museum Sasana Gunarasa Borobudur atau Museum Lima Gunung di Mendut, Mungkid Kabupaten Magelang, mereka akan dapat terinpirasi, karena berbagai koleksi benda seni banyak ditemukan sebagai sumber belajar.


Kebijakan Kunjung Museum


Peran museum yang besar tersebut akan lebih optimal apabila disertai kebijakan dari pemerintah terkait dengan Wajib Kunjung Museum (WKM). Kebijakan dapat berupa Peraturan Pemerintah yang turunannya nanti akan ditindaklanjuti sampai daerah. Apabila kebijakan tersebut dapat direalisasikan, tentunya museum akan dapat berlangsung survive karena ada kebijakan yang mengikat dan wajib untuk diimplementasikan.


Kunjungan ke museum akan dapat menginspirasi peserta didik di sekolah, pendidikan nonformal, juga masyarakat umum, bahwa peradaban nenek moyang sejak berabad-abad lalu ternyata telah menorehkan prestasi spektakuler yang dapat dinikmati oleh generasi sekarang. Rasa bangga dan cinta tanah air sebagai bentuk dari jiwa nasionalisme akan semakin terstimulasi positif dengan kunjungan langsung ke museum.


WKM dapat mejadi salah satu aspek Penguatan Pendidikan Karakter selaras dengan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 yang menegaskan bahwa pendidikan karakter dengan pendekatan baik berbasis kelas, kultur sekolah, dan komunitas merupakan tiga matra yang saling berkelindan untuk menjadikan pendidikan Indonesia dapat kembali kepada jiwa dan roh pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan menggemakan kembali pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.


Sekolah atau sanggar-sanggar seni perlu memperluas wawasannya keluar dari menara gading agar cakrawala pandangnya bisa lebih berkembang sesuai dengan tanda-tanda zaman. Untuk sekolah, program WKM bisa kerja sama dengan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) agar program bisa terealisir. Sedangkan untuk sanggar-sanggar seni bisa bernaung di bawah pemerintah desa. Pemerintah desa yang pada umumnya sudah memiliki lembaga seni desa dapat mengakomodir berbagai sanggar seni untuk mendukung dan menindaklanjuti program WKM tersebut.


Dengan kolaborasi paralel tersebut, kita optimis bahwa program WKM dapat terealisasi, karena semua komponen mendukung kegiatan tersebut dan tujuannya pun positif yaitu menjadikan museum sebagai sumber pencerahan semua komponen untuk dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta budaya yang pada gilirannya dapat diterapkan di lingkungannya.

 

(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar