Perkaya Wawasan Dengan Membaca

Dilihat 1346 kali

Beberapa waktu lalu pernah berlangsung diskusi dengan beberapa guru. Di antara beberapa guru tersebut ada yang mengomentari Film Sang Penari yang disutradarai oleh Ifa Isfansah. Komentar mereka berdasarkan asumsinya sendiri dengan berbagai dalil yang kadang kurang proporsional. 


Penulis kemudian memediasi dan menanyakan, apakah sudah membaca novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari? Mereka hanya menggelengkan kepala tanda belum pernah membaca karya spektakuler penulis dari Banyumas itu.


Mestinya sebelum berkomentar idealnya membaca novel dan menonton filmnya secara utuh. Sebaiknya jangan komentar sebelum membaca. Baca dulu sebelum bicara. Karena apabila pembiasaan tersebut dilanggengkan, kontroversi yang muncul hanyalah berdasarkan alasan pokoknya menurut asumsi mereka sendiri.


Pendangkalan Pikiran


Ilustrasi di atas bisa berlaku juga dalam konteks yang lebih luas. Keengganan membaca membuat pendangkalan pikiran dalam komunitas. Mengetahui sedikit tentang hal yang banyak akan memunculkan fanatisme yang berlebihan. Di zaman digital ini, bertekun membaca memang lebih sulit dikomparasikan dengan menonton. Para guru dan peserta didik lebih asyik melihat gawainya ketimbang membaca buku. Dari 25 guru yang telah menonton film Sang Penari, bisa jadi yang pernah membaca novelnya hanya satu orang.

 

Tidak bisa dipungkiri di era yang serba canggih ini, tidak banyak orang yang tahan duduk bermati raga untuk membaca buku. Mereka menganggap berlama-lama membaca hanyalah kesia-siaan. Ada teknologi mesin pencari ide yang dengan cepat membantu. Sikap instan seperti itu, perlu segera disikapi. Terlebih lagi  untuk guru, sebagai panutan dari peserta didiknya baik dalam bersikap maupun bertindak.


Ada pengalaman penulis yang sampai sekarang tidak terlupakan. Penulis pernah memberikan tugas membaca dan meresensi novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Tugas yang seharusnya dilakukan peserta didik adalah membaca novel orisinal karya penulis dari Pulau Dewata tersebut. 


Namun, sudah lazim jalan pintas yang mereka lakukan  adalah memburu resensi di internet. Hasil resensi yang dikumpulkan peserta didik bukanlah buah membaca novel, melainkan hanya mengambil alias menjiplak karya orang lain. Penulis bisa melacak, karena sudah pernah membaca novelnya dan semua kata kunci di internet terkait dengan novel tersebut. 


Dimulai dari Guru


Melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, terkait dengan rendahnya minat membaca, tentunya guru harus memulai untuk memberikan teladan sampai dengan tataran praksis. Pada saat pandemi ini, banyak kegiatan webinar (seminar daring) yang dilakukan oleh berbagai instansi mulai level daerah sampai nasional.


Momentum tersebut bisa dimanfaatkan untuk guru lebih giat membaca. Misalnya topik webinar tugas pokok dan fungsi guru, tentunya guru harus memahami dan membaca terlebih dahulu Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018. Dengan demikian ketika webinar berlangsung guru sudah mempunyai bekal untuk bahan diskusi bukannya pikiran kosong. 


Seringkali para guru mengeluh untuk tidak dapat mencari ide untuk menulis. Sudah bisa dipastikan, para guru tersebut kurang membaca. Dalam hal ini membaca tidak harus membeli buku mahal. Bisa memanfaatkan jasa perpustakaan yang sekarang sudah ada di berbagai tempat mulai dari tingkat desa. Atau juga koran atau majalah bekas bisa dibuat kliping untuk dibaca sebagai sumber inspirasi.


Inspirasi Membaca


Di zaman sekarang, untuk menulis atau melakukan proses kreatif mesti mengupayakan inspirasi lewat membaca. Tak ada ilham, inspirasi, atau ide yang jatuh dari langit dan datang sendiri. Kekuatan sebuah bacaan atau buku yang bagus terletak dalam hubungan  erat antara pengarang dan pembaca, yang berlangsung di jalan sunyi. Buku mengundang pembaca untuk berpikir tentang subjek yang berbeda dengan orang lain (St. Kartono, 2011).


Para guru yang memaparkan hasil inovasi pembelajaran untuk peserta didiknya kiranya sebagai akibat membaca. Berpikir analogis setelah membaca adalah salah satu upaya menumbuhkan berpikir kreatif. Analogi dipakai sebagai pijakan, menempatkan diri sebagai penemu.


Ketika banyak guru mengeluh menyebut peserta didik malas membaca. Mestinya harus ada pertanyaan balik, para guru apa sudah membiasakan membaca? Kalau guru tidak menghadirkan diri sebagai pembaca atau pembelajar di depan peserta didiknya, kiranya belum bisa menjadi teladan inspiratif dalam hal membaca.


Guru yang demikian itu terbaca oleh peserta didiknya lewat kualitas pembicaraanya di depan kelas. Peserta didik bisa menakar seberapa aktual bacaan gurunya. Guru yang  banyak membaca akan lebih mampu mendampingi peserta didik dalam hal kejujuran. Perilaku menjiplak, plagiasi, comot tulisan sana-sini akan mudah cepat dilacak. Guru yang kaya banyak bacaan akan mampu meminimalisir perilaku tidak terpuji yang dilakukan peserta didik di era milenial ini.  


 (Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar