BERITAMAGELANG.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersinergi dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar acara Sarasehan Muhibah Budaya Tahun 2026. Mengusung tema "Merajut Tali Budaya Mataraman Melalui Pelestarian Cagar Budaya", acara ini berlangsung di Pendopo drh. Soepardi, Kabupaten Magelang, dan dihadiri oleh para pendidik serta pegiat budaya setempat, Rabu (21/10/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Wisnu Argo Budiono menegaskan, kehadiran rombongan muhibah budaya DIY di bumi Magelang merupakan momentum penting untuk menyambung kembali simpul-simpul sejarah masa lalu, merajut tali silaturahmi, dan memperkuat kerja sama antar daerah.
"Batas-batas administrasi pemerintahan tidak pernah memisahkan akar sejarah dan peradaban luhur yang tumbuh di antara Yogyakarta dan Magelang," ungkap Wisnu
Secara historis, Magelang dan Yogyakarta memiliki jalinan erat yang melintasi era Mataram Kuno hingga Mataram Islam. Keberadaan Magelang telah eksis sejak peradaban kuno, terbukti dari jejak peninggalan seperti Prasasti Canggal (732 Masehi) di Candi Gunung Wukir dan Prasasti Mantyasih (907 Masehi) yang menyebut kawasan Mateseh dan Magelang.
Hubungan ini berlanjut pada era Mataram Islam pasca-Perjanjian Giyanti tahun 1755. Melalui kiprah tokoh-tokoh seperti Ki Ageng Pemanahan dan Kiai Ageng Karotangan, wilayah Magelang kemudian menjadi bagian dari Negara Agung yang memegang peran strategis sebagai lumbung pangan sekaligus benteng pertahanan bagi Kesultanan Yogyakarta.
Melalui sarasehan ini, Wisnu Argo juga berharap agar pengetahuan historis yang diperoleh dapat langsung diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah, sehingga generasi muda Kabupaten Magelang akan semakin bangga dan peduli terhadap pelestarian cagar budaya di daerahnya.
"Kolaborasi apik antara Magelang dan Yogyakarta ini diharapkan dapat terus dikembangkan di masa yang akan datang demi pemajuan kebudayaan bangsa," harapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY diwakili Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya, Dwi Agung Hermanto menyampaikan, Muhibah Budaya ini merupakan program strategis yang telah berjalan selama delapan tahun berturut-turut.
"Melalui kegiatan Muhibah Budaya ini kita tidak hanya mengenang masa lalu. Kegiatan ini merupakan misi strategis berbasis kebudayaan untuk merajut persahabatan, memperluas kolaborasi, serta memperkuat identitas budaya dan pelestarian cagar budaya di wilayah Yogyakarta dan Magelang," jelas Hermanto.
Sarasehan ini menghadirkan sejumlah pakar kebudayaan dan akademisi sebagai narasumber, di antaranya M. Yasir Arafat, Dr. Yulianto Ibrahim, S.S., M.Hum., dan Dr. Setiyadi S.S., M.Hum. Ketiga narasumber membedah tiga materi utama, yakni jejak peninggalan Mataram Kuno hingga Mataram Islam di Magelang, peran Magelang sebagai lumbung pangan dan benteng pertahanan, serta jejak peradaban Mataram Islam secara mendalam.
Hermanto menambahkan, kehadiran guru-guru sejarah dan guru IPS tingkat SD dan SMP se-Kabupaten Magelang dalam acara ini diharapkan dapat membawa dampak jangka panjang. Para tenaga pendidik didorong untuk menjadi ujung tombak dalam menanamkan pemahaman sejarah dan nilai-nilai warisan budaya.
@kominfomagelang ✨ Transformasi Mindset, Wujudkan Pelayanan Publik Berkualitas! Pemerintah Kabupaten Magelang terus memperkuat komitmen dalam menghadirkan birokrasi yang profesional, responsif, ramah, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan Transformasi Mindset dan Sharing Praktik Baik Pelayanan Publik, seluruh jajaran diajak untuk membangun pola pikir positif, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat sinergi dan kolaborasi antarperangkat daerah. 🤝 Karena pelayanan terbaik lahir dari kerja sama, kepedulian, dan semangat melayani dengan sepenuh hati. Bersama, wujudkan pelayanan publik yang cepat, ramah, tuntas, dan berkualitas demi Magelang yang semakin maju! #Magelang #KabupatenMagelang #PelayananPublik #TransformasiBirokrasi
♬ original sound kominfomagelang
0 Komentar