Teater Tradisional Ketoprak Melintasi Dinamika Zaman

Dilihat 23 kali
Ketoprak bertajuk Untung Surapati dari Padepokan Tjipta Boedaja Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang sudah dikemas dengan tata teknis pentas profesional selaras dengan dinamika zaman.

Sebagaimana diketahui, Indonesia dengan gugusan kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memiliki  keanekaragaman seni budaya dengan segala keunikannya. Seni budaya di setiap daerah berkembang selaras dengan tradisi komunitasnya dan dapat dikategorikan menurut bentuknya seperti seni rupa dan seni pertunjukan baik seni tari, seni musik, dan seni teater. Di Pulau Jawa mempunyai berbagai macam bentuk seni budaya, salah satunya yang terkenal yaitu seni ketoprak. Seni pertunjukan ini merupakan salah satu seni bentuk teater tradisional yang sudah mengakar di kalangan masyarakat Jawa.


Tidak bisa dipungkiri, sebagai bentuk teater tradisional, seni ketoprak menjadi salah satu seni pertunjukan yang menonjol dari sekian banyak cabang seni pertunjukan. Dikatakan menonjol karena teater tradisional ini merupakan karya seni yang dikerjakan secara kolektif. Di dalam seni pertunjukan ketoprak dijumpai konsep penyutradaraan, pemeranan, dan penataan artistik yang bersentuhan dengan kandungan logika, etika, dan estetika.


Demikian pula, sebagai sebuah bentuk teater, ketoprak dibangun atas kombinasi berbagai komponen seni, seperti seni sastra yang berwujud lakon baik tertulis maupuan lisan, seni rupa pada aspek rias, busana, tata panggung, dan tata lampu. Sedangkan aspek seni musik banyak bersinggungan dengan instrumen musik pentatonik dalam gamelan. Adapun realisasi dari seni kinestetik atau gerak dapat dilihat dalam setiap akting para pemainnya, dialog dan tembang termasuk komponen seni suara. Sinergitas dari berbagai akting akan menghasilkan seni peran yang penuh dengan semiotika dan kandungan filosofis yagn sarat akan nilai humaniora (Sumaryadi, 2019).


Tontonan Legendaris   


Ketoprak merupakan teater tradisional sebagai tontonan legendaris sejak puluhan tahun lalu yang disajikan dalam bentuk drama bahasa Jawa yang sangat merakyat. Keberadaanya telah melintasi dinamika zaman yang datang silih berganti dari waktu ke waktu.  


Seni ketoprak lahir di Surakarta, bermula dari kegiatan menumbuk padi yang biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Kegiatan menubuk padi oleh beberapa orang ini biasa dilakukan malam hari, untuk mengisi waktu petang hingga malam. Pada kegiatan ini, bertemunya alu (alat penumbuk padi) dengan lumpang panjang atau disebut lesung yang terbuat dari kayu menimbulkan bunyi yang berbeda-beda tergantung di bagian mana lesung yang terpukul.


Pada kisaran tahun 1908 kegiatan gejog lesung ini menarik perhatian kalangan istana, salah satunya bangsawan Kasunanan Surakarta yakni RM. Wreksadiningrat yang mempunyai ide untuk menambah istrumen rebana, seruling, dan gendang agar lebih dinamis.


Tambahan tiga macam instrumen musik itu ternyata berdampak positif, karena warna musik semakin menonjol dan menarik, terutama dalam hal mengiringi nyanyian. Dalam elaborasinya, proses latihanpun dipindahkan dari pelataran rumah ke atas pendapa, di lingkungan istana. Turut bergabungnya para priyayi dalam kegiatan kesenian ini telah mendorong digunakannya iringan gamelan menggantikan gejog lesung.


Pada periodesasi ketika ketoprak menggunakan istrumen gamelan, unsur dramaturgi barat mulai berpengaruh, walau model penyutradaraan masih konvensional, yaitu sutradara atau dalam tradisi ketoprak disebut dengan dalang menyampaikan isi ceritera dan konstelasi adegan kepada pemain untuk mengisi secara proporsional. Mengisi di sini berarti bebas berimprovisasi, tetapi konsisten dengan regulasi sebagaimana pengarahan awal. Kegiatan pengarahan sebelum pentas tersebut sering dinamakan penuangan.


Pada periode ini ketoprak juga sering dimanfaatkan oleh lembaga pemerintah atau swasta sebagai penyampai pesan secara tersirat di balik yang tersurat. Pesan pembangunan menyusup, begitu pula pesan-pesan yang bersifat komersial. Pesan dari sponsor sering disisipkan di berbagai adegan yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan kepada khalayak ramai.


Digunakannya gamelan sebagai iringan ternyata mampu memperkuat pertunjukan terutama dalam hal menghadirkan suasana, sehingga kehidupan yang digambarkan dalam adegan semakin natural. Kehadiran rias dan busana yang eksotis menjadikan semakin sempurna replika kehidupan faktual di atas panggung pertunjukan. Pentas ketoprak semakin lengkap dan menarik ketika tampilan mereka di atas panggung dilengkapi dengan tata pentas yang baik dan didukung tata lampu, penonton pun seolah terhipnotis untuk selalu menonton dan menonton lagi.


Beberapa cerita ketoprak sangat berkesan dalam ranah ingatan para penggemar ketoprak  waktu itu yang sering muncul di layar televisi. Sebagai contoh cerita Istana Yang Suram oleh grup ketoprak Among Mitro, cerita Mangir Wanabaya dengan grup Sapta Mandala, cerita Tiga Pendekar Granggang Kumbang dari grup Ringin Dahana, cerita Jambul Kramayudha oleh grup ternama PS Bayu, dan sederet cerita-cerita lain yang sangat kaya tuntunan moral bukan sekadar tontonan. 


Dinamika lanskap itu selalu ada di benak komunitas Jawa yang hidup di pedesaan sekitar tahun 1970-an. Pada waktu-waktu tertentu, mereka berduyun-duyun baik laki-laki maupun perempuan, besar-kecil, datang menuju ke lapangan kecamatan atau tempat tertentu guna menonton ketoprak tanggapan yang sangat mereka rindukan.


Inovasi Berkelanjutan


Seiring perjalanan waktu dengan elaborasi teknologi pada saat ini, seni pertunjukan ketoprak sudah mulai tereduksi oleh dinamika zaman. Hal itu disebabkan oleh dua faktor yang sangat prinsip yaitu internal dan eskternal. Fakfor internal bersinggungan dengan minimnya kaderisasi, kurangnya inovasi dalam tata teknis pentas, juga pengelolaan manajemen. Sedangkan faktor eksternal berkorelasi dengan minimnya pihak-pihak luar yang peduli dengan revitalisasi seni pertunjukan ini.  


Menyikapi fenomena tersebut, kelompok ketoprak perlu melakukan inovasi yang tiada henti. Seperti dalam tata teknis pentas, perlu dilakukan inovasi teknis, baik kostum, adegan, juga durasi pertunjukan. Pada saat ini durasi pertunjukan demi efisiensi tidak harus semalam suntuk namun perlu juga dipadatkan, guna mereduksi kejenuhan penonton. Stategi publikasi melalui media sosial dapat menjangkau sebaran dalam cakupan yang luas.


Di Kabupaten Magelang, kelompok seni pertunjukan ketoprak masih tetap eksis, terutama di lereng Merbabu dan Merapi. Kelompok-kelompok kesenian tersebut sudah mulai menyadari perlunya pengelolaan manajemen kesenian diselaraskan dengan kebutuhan publik dan menerima berbagai masukan demi progresnya organisasi. Sebagai misal, Padepokan Tjipta Boedaja Dusun Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, sering mementaskan seni pertunjukan ketoprak yang dikemas dengan tata teknis pentas modern, seperti alur adegan, tata lampu, properti, dan sebagainya.


Di samping itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Magelang juga sering memfasilitasi pendampingan seni pertunjukan ketoprak melalui berbagai festival yang diikuti oleh kelompok seluruh Kabupaten Magelang. Langkah strategis tersebut dapat memantik masing-masing grup untuk terus melakukan inovasi agar seni pertunjukan ini terus eksis dan tidak tergerus oleh budaya modern.


Dengan berbagai langkah-langkah strategis tersebut, kita yakin seni pertunjukan ketoprak yang dulu menjadi primadona publik kembali terangkat. Dinamika arus digital akan dapat membantu masing-masing grup untuk melakukan proses kreatif yang berkelanjutan dan tak dibatasi oleh ruang dan waktu.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang

Lebih dari 3000 peserta padati Fun Bike "Gowes Kemerdekaan" dan Senam Bersama HUT ke-81 RI di Kabupaten Magelang. Bukan sekadar olahraga, momen ini jadi ajang perekat keharmonisan antara pemerintah, media, dan warga. Kayuh terus semangatnya🚴 Kamu ikutan juga tadi?

♬ original sound - kominfomagelang