KMPP Magelang 'Ngangsu Kaweruh' Belajar Penanganan ATS di Rembang

Dilihat 1084 kali
Saat tim KMPP dan Bappeda & Litbangda Kabupaten Magelang, kunjungan kerja ngangsu kaweruh ke Bappeda Kabupaten Rembang.

BERITAMAGELANG.ID - Komunitas Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) dan Bappeda & Litbangda Kabupaten Magelang, Selasa (28/11-2023), melakukan kunjungan kerja ngangsu kaweruh ke Bappeda Kabupaten Rembang yang berhasil  menangani Anak Tidak Sekolah (ATS) kembali bersekolah, lewat program Gerakan Ayo Sekolah Pol (GasPol) 12 tahun.

"Kedatangan kami dan rombongan, ingin belajar penanganan ATS. Saat ini, pemerintah Kabupaten Magelang bersama KMPP, sedang melakukan penanganan ATS melalui program Gerakan Magelang Gumregah Mlebu Ning Sekolah (Gumregah Bungah)," kata Perencana Ahli Muda Bappeda & Litbangda Kabupaten Magelang, Basuki Rohmad.

Sementara anggota KMPP Kabupaten Magelang, Khudaifah menambahkan, dalam menyelesaikan ATS kembali bersekolah antara Kabupaten Magelang dan Rembang ada kesamaan, baik problem dan kendala dalam menangani ATS, karena sama-sama mempunyai banyak santri.

"Hanya saja, Kabupaten Rembang lebih dahulu melangkah, jadi lebih berpengalaman dan hasilnya sangat bagus, sehingga kami datang untuk belajar ngangsu kaweruh," kata mantan Kepala Kantor Depag Kabupaten Magelang.

ATS di Kabupaten Magelang, sudah sangat urgen untuk segera ditangani. Problem dan persoalan anak-anak putus sekolah, hampir sama dengan Kabupaten Rembang,  karena banyak Ponpes dengan beragam latar belakang, termasuk kulturnya.

Kepala Bapedda Kabupaten Rembang, Afan Martadi saat menerima kunjungan KMPP dan Bappeda & Litbangda Kabupaten Magelang menyatakan, penanganan program GasPol 12 Tahun bagi ATS di Rembang, tidak berjalan mulus, banyak tantangan dan hambatan. Namun, atas kegigihan dan semangat tim GasPol 12 Tahun,  membuahkan hasil dan mereka mau bersekolah lewat kejar paket kesetaraan pendidikan.

"Di Rembang banyak Pondok Pesantren (Ponpes) yang cukup sulit untuk menyakinkan  para santri mau belajar dan kembali bersekolah. Pendekatan  personal dengan program pesantren ramahan, adalah salah satu cara mereka bisa memahami dan mengerti," ujarnya.

Program ramahan, jelas Afan yang asalnya dari Kecamatan Secang Magelang, pendekatan personal dengan mengajak dialog para santri maupun anak-anak lain serta orang tuanya dengan tidak menyinggung perasaan atau melukai mental para ATS. 

"Artinya, mereka diajak berdialog sambil ngobrol memberikan semangat dan motivasi  untuk mempersiapkan dirinya sendiri, terutama tentang pentingnya pendidikan formal yang suatu saat ke depan dibutuhkan," jelasnya.

Koordinator Lapangan (Korlap) program Gaspol 12 Kabupaten Rembang, Basit menambahkan, langkah awal yang dikerjakan tim adalah melakukan pendataan ATS yang ada di desa. Dengan data yang valid, menjadi kunci menyusun program perencanaan dan pendanaan untuk melakukan kegiatan.

"Tanpa dukungan data ATS yang valid, tentu tidak punya dasar untuk melangkah. Maka rekonfirmasi data bay name bay andres, sangat diperlukan," jelasnya.

Sedangkan untuk memperoleh data yang valid, dibutuhkan kerja sama dengan melibatkan pendamping di desa. Pendamping desa diajari bagaimana cara menyusun data yang baik dan benar, kemudian diusulkan dalam penggunaan anggaran lewat dana desa. "Sebelum dianggarkan, dilakukan sosialisasi penanganan ATS," terangnya.

Sasaran pendataan, adalah setiap Kepala Keluarga (KK) yang mempunyai anak usia antara 5 - 18 tahun yang harus didata secara baik dan benar. Untuk memudahkan koordinasi dan validasi data ATS, setiap pendamping dan admin  desa, dibuatkan akun oleh tim kabupaten. Karena yang mengetahui perkembangan ATS, adalah para pendamping desa.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar