Kaderisasi Pemimpin Masa Depan

Dilihat 1928 kali
Pendidikan karakter berbasis kultur sekolah akan menjadi pembiasaan positif bagi peserta didik memiliki jiwa kepemimpinan

Kemendibudristek RI telah mengeluarkan sebuah kebijakan yang dinamakan Merdeka Belajar. Sebagaimana tercantum dalam kebijakan program Merdeka Belajar diperkenalkannya sebuah kurikulum baru, yakni Kurikulum Merdeka. Konsep Merdeka Belajar dalam Kurikulum Merdeka merupakan sebuah transformasi pendidikan untuk mencetak generasi unggul. Harapan dalam kebijakan Merdeka Belajar dapat membantu guru dan peserta didik menjadi kreatif, inovatif, merdeka dalam berpikir, serta bahagia dalam melakukan proses pembelajaran di kelas.


Merdeka Belajar yang sekarang dituangkan dalam Kurikulum Merdeka memiliki tujuan besar, yaitu mencetak para peserta didik berkarakter Pancasila. Hal tersebut diimplementasikan dengan adanya program Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila terdiri dari enam aspek, antara lain beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, bernalar ktitis, bergotong-royong, mandiri, kreatif, dan berkebhinekaan global. Semua aspek ini akan tertuang dalam proses belajar mengajar serta dalam kegiatan kokurikuler di sekolah.


Dengan demikian, maka program Merdeka Belajar dapat mengantarkan peserta didik menjadi generasi unggul. Peserta didik yang perilaku dan kecakapannya berlandaskan kepada nilai-nilai Pancasila, sehingga akan mampu bersaing secara sehat dan santun dalam kehidupan di masa sekarang dan masa mendatang.

 

Prinsip Eksploratif


Dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila, salah satunya perlu memenuhi prinsip eksploratif agar dapat menjadi sarana yang optimal dalam mendorong peserta didik menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.


Prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang lebar bagi proses elaborasi diri dan menemukan jawaban sendiri dari semua persoalan, baik terstruktur maupun bebas. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tidak berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema formal pengaturan mata pelajaran.


Oleh karena itu, prinsip eksploratif ini memiliki area luas baik dari segi jangkauan, materi, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran. Namun demikian, diharapkan pada perencanaan dan pelaksanaan guru tetap merancang kegiatan secara sistematis dan terstruktur agar dapat memudahkan pada perencanaan maupun implementasinya (Majalah Derap Guru, edisi 271 Agustus 2022).


Dalam kaitannya dengan pengembangan diri peserta didik, Kurikulum Merdeka memberi ruang yang seluas-luasnya. Harapannnya agar peserta didik nantinya dapat tertempa, untuk bisa hidup di tengah-tengah komunitas yang majemuk. Apabila mereka sudah tertempa, ketika di bangku sekolah, kelak kalau menjadi pemimpin, baik di organisasi pemerintah, swasta, sosial, dan lain-lain, kapabilitasnya sudah tidak diragukan lagi.


Gagasan dan Solusi Baru


Perjalanan bangsa Indonesia ke depannya tentu membutuhkan sosok pemimpin dari generasi muda saat ini. Generasi muda diyakini mampu menawarkan gagasan dan solusi baru, karena mereka memiliki perspektif baru sesuai dengan eranya. Oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri kepemimpinan generasi muda pun menjadi penting.


Kepemimpinan tidak selalu identik dengan memberi perintah. Pemimpin bisa pula memberi pertanyaan kepada rekan kerja agar solusinya didiskusikan bersama. Seseorang yang aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi baik di sekolah maupun lingkungannya akan memiliki nilai lebih yang akan menjadi bekal dalam kepemimpinan.


Tidak kalah pentingnya adalah kekuatan menjalin relasi, mencari terobosan-terobosan inovasi, melatih kemampuan berkomunikasi dan memahami karakter seseorang. Dalam prosesnya, mereka perlu belajar untuk menempa diri dan menyelesaikan permasalahan dengan menemukan solusi dan ide.


Salah satu konsep utama untuk menjadi pemimpin yang baik adalah visioner. Tahu yang harus dilakukan dan tujuan ke depan. Memimpin secara inklusif, perlu mengakomodasi kepentingan secara luas, sehingga perlu mengelola ego pribadi dan ego sektoral secara cermat.


Mengelola ego itu tidak juga mudah, karena pemimpin perlu mengakomodasi kepentingan banyak pihak. Ketika ego sudah bisa dikontrol, baru akan mampu bicara tentang ketegasan dan keterbukaan. Jika tidak mampu mengelola ego, maka ketegasan ataupun keterbukaan pemimpin akan melengkung. Implikasinya hanya mengakomodasi kepentingan tertentu. Terlebih di era digital ini sampai ke depannya, yang sarat akan peredaran informasi palsu, dibutuhkan pemimpin yang mampu memilah dan memilih informasi secara bijaksana.


Untuk itu mulai sekarang perlu dipikirkan kaderisasi pemimpin Indonesia untuk masa depan. Kaderisasi merupakan hal yang sangat penting bagi suatu organisasi karena merupakan suatu kelanjutan perjuangan organisasi ke masa yang akan datang. Penting adanya kaderisasi kepemimpinan, dimana perlu adanya penyiapan kader-kader bangsa yang berkualitas.


Generasi muda adalah benih utama yang disiapkan untuk mendukung suksesi kepemimpinan nasional yang berkesinambungan dan berkelanjutan secara formal dan informal. Terselenggaranya komunikasi sosial antara generasi tua dengan generasi muda melalui forum-forum diskusi maupun seminar dalam rangka pewarisan nilai-nilai luhur bangsa dan nilai-nilai kepemimpinan nasional serta wawasan kebangsaan secara rutin, terprogram dan berkesinambungan dan berlanjut. Diharapkan generasi muda dapat mengetahui, mengerti dan memahami nilai-nilai luhur bangsa dan nilai-nilai kepemimpinan nasional.


Berbagai aspek kaderisasi pemimpin tersebut, pembiasaannya dapat ditempuh melalui jalur pendidikan formal di sekolah dengan berbagai perangkat kurikulumnya. Di dalam Kurikulum Merdeka membuka ruang luas bagi peserta didik mengembangkan diri menjadi pribadi utuh yang kelak dapat menjadi bekal mereka menjadi pemimpin masa depan.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar