Mengenalkan Keterampilan Membaca pada Anak Sejak Dini

Dilihat 157 kali

Tak bisa dipungkiri, banyak orang tua yang cenderung berusaha mengenalkan huruf sejak dini, sebelum anaknya memasuki usia sekolah. Mulai sejak 3 sampai 5 tahun, disertai dengan tekanan agar si anak mau mengikuti apa kata orang tua. Dan kerapkali upaya yang dilakukan itu tidak selalu melalui tahapan-tahapan yang disenangi anak. Akibatnya bukan prestasi yang didapat tapi perkembangan kejiwaan anak menjadi terganggu.


Di kota-kota besar gejala seperti digambarkan di atas cukup marak. Kenyataan seperti itu memancing kecemasan para pemerhati perkembangan kejiwaan anak. Untuk jangka pendek upaya mengenalkan kata atau huruf lebih dini pada anak, diakui memang bisa menunjukkan hasil yang menggembirakan. Si anak bisa punya prestasi tersendiri. Anak menjadi cepat membaca, dibanding dengan anak yang belum pernah diperkenalkan dengan kata atau huruf, sebelum masuk sekolah.


Namun untuk jangka panjang, kecenderungan seperti itu belum tentu menampakkan gejala yang positif. Apalagi jika upaya pengenalannya, disertai dengan penekanan. Si anak dipaksa mengikuti kemauan orang tua. Bila dilihatnya si anak ogah-ogahan, orang tua akan memarahinya dan sedikit dipaksa agar mau belajar terus. Biasanya upaya-upaya seperti itulah yang kerap dipakai, pada saat proses pengenalan huruf atau kata. Tentu saja bila kondisinya seperti itu, bukan tidak mungkin akan ada akibat-akibat lebih jauh yang memprihatinkan.


Yang lebih parah lagi, dalam upaya mematangkan anak, banyak orang tua yang menggunakan teknik menjejali aneka pengetahuan. Padahal yang diperlukan seorang anak adalah teknik rangsangan berpikir. Sayangnya banyak orang tua yang justru merasa bangga bila si anak menjadi sosok yang punya daya rekam yang kuat. Misalnya, membiasakan anak untuk menghafal nama-nama kota, provinsi, nama-nama pahlawan, dan sebagainya. Apa yang diberikan orang tua seringkali tidak membawa makna apa-apa bagi si anak. Bahkan merupakan beban baginya, dari pada punya nilai lebih seperti yang diharapkan orang tua.


Bukan itu saja, si anak menjadi kurang terlatih untuk mengambil prakarsa sendiri, alias si anak tidak kreatif. Dan anak yang terlalu didikte, akan jadi sosok yang timpang dalam kemampuannya memecahkan suatu masalah. Lebih jauh lagi dampaknya pada anak akan jelas terlihat. Pada tahap tertentu si anak jadi tidak punya gagasan atau miskin gagasan atau kurang mampu mengembangkan nalarnya.


Sebenarnya banyak hal yang harus disadari, keterampilan membaca bukan hal yang sulit untuk dimiliki setiap anak yang normal. Artinya, pelajaran membaca yang diberikan orang tua saat prasekolah, maupun yang diberikan saat si anak sudah di bangku sekolah, tak jauh berbeda. Jika pada masa awal sekolah, anak belum  bisa membaca adalah hal yang biasa dan wajar. Memasuki tahun kedua atau kelas dua, anak yang normal sudah bisa membaca. Lalu cara yang benar mengenalkan keterampilan membaca anak di usia dini itu, seperti apa?


Akrab dengan dunia anak


Mengenalkan keterampilan membaca pada anak, bukan dengan cara tekanan, paksaan ataupun kekerasan. Akan lebih berarti bagi anak-anak, bila upaya itu dilakukan dengan cara mengakrabkan dengan dunia sekelilingnya. Penjelajahan pengetahuan yang disodorkan secara paksa pada mereka, sama saja dengan memutuskan keterikatan anak dari dunianya, sehingga kesempatan anak untuk memahami dunia sekitarnya menjadi terbatas.


Tuntutan untuk menyelesaikan tugas-tugas dengan jadwal latihan yang ketat, bukanlah cara yang tepat untuk anak yang berada pada usia pra sekolah. Anak seusia ini lebih memerlukan pengalaman yang seluas-luasnya. Mereka juga memerlukan kesempatan untuk menekuni dunianya, tanpa dibebani oleh konsep-konsep yang masih asing baginya.


Memberi kesempatan anak belajar sendiri


Cara terbaik untuk mengembangkan kecerdasan anak adalah dengan memberi kesempatan padanya untuk belajar sendiri. Biarkan bila dia mengajukan aneka pertanyaan, atas keinginannya sendiri dan berdasarkan situasi yang dirasakan. Keingintahuan seorang anak tentang sesuatu hal, biasanya sangat besar. Semua yang dilihat dan dirasakannya, akan ditanyakan pada orang terdekatnya. Misalnya: Mama, mengapa ban mobil itu harus bulat? Atau mengapa orang hidup itu harus makan? Dan sebagainya.


Kadangkala orang tua merasa kewalahan menhadapi pertanyaan-pertanyaan si kecil. Berikan kebebasan untuk mengungkapkan segala sesuatu dan biarkan mereka bereksperimen agar lebih mengenal dunianya. Biasanya anak-anak mengekspresikan dengan kegiatan fisik, seperti berlari-lari, melompat dan berbagai macam bentuk permainan lainnya. Dekatilah anak-anak dan tanyakan apa yang dirasakannya pada saat itu. Ajaklah anak untuk mengutarakan perasaannya. Dengan cara seperti itu, si anak secara tidak langsung belajar mengungkapkan perasaan hatinya, apakah ia sedang sedih karena dicubit teman sepermainannya, atau sedang gembira karena punya mainan baru dan sebagainya.


Biarkan anak bebas berekspresi tanpa pembatasan


Dunia anak adalah dunia bermain. Maksudnya, kegiatan bermain bagi anak memang lebih menarik dibandingkan kegiatan lain. Jadi tak mengherankan bila mereka protes atau ogah-ogahan bila diajak untuk berlatih membaca atau menulis. Ia tak akan tertarik dengan kegiatan yang menuntut kesungguhan. Sebaliknya anak lebih menyukai kegiatan yang bisa mengungkapkan perasaan hatinya. Misalnya coret-coret atau menggambar atau melakukan sesuatu sekehendak hatinya.


Maka jika masa bermain itu diarahkan pada kepentingan sekolah, masa manisnya masa bermain itu terenggut dari kehidupannya. Akibatnya perkembangan kepribadian anak kelak, bukan tidak mungkin akan membawa gangguan. Kecenderungan orang tua memacu anak agar bisa menguasai keterampilan tertentu, seringkali tak bisa dihindarkan. Gejala ini muncul karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Misalnya, makin banyak pasangan suami istri yang berpendidikan. Semakin tinggi tingkat pengetahuannya, menyebabkan mereka berkeinginan agar anak-anaknya memiliki keterampilan tertentu sejak dini yang bisa membuatnya berprestasi bila kelak dewasa.


Kendati begitu sebagai orang tua seharusnya tidak hanya melihat kebaikan upayanya mengenalkan keterampilan membaca itu hanya dengan kaca matanya sendiri, tanpa melihat kemungkinan akibat-akibatnya bila proses tahapan yang diberikan ternyata tidak sesuai untuk si anak. Bagaimanapun juga, seorang anak memiliki dunianya sendiri, yang tidak bisa dipaksakan untuk mengikuti kemauan orang tua. Jadi biarkan mereka mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya. Semoga.


Penulis: P. Budi Winarto, S.Pd. Guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar