Upacara Ruwatan Sebagai Semiotika Harapan

Dilihat 321 kali
Upacara ruwatan pada umumnya dilaksanakan dengan pertunjukan wayang kulit dengan cerita Murwakala, Pertunjukan tersebut diyakini sebagai sarana pembebas dari kekuatan supranatural buruk yang mengancam kehidupan manusia di dunia.

MANUSIA tak ubahnya alam beserta gejala kosmologinya. Dalam dinamika hidupnya selalu mengalami perubahan, ibarat metamorfosa dalam pusaran siklus yang senantiasa berputar dalam jentera waktu. Perlu formulasi spesifik untuk menyeimbangkannya, sekaligus menyelamatkannya. Selain sebagai manusia pekerja, manusia dalam ruang sosial selalu menemuai berbagai fase yang perlu dilalui sebagaimana dengan kepercayaan kolektif yang diyakini. Seperti halnya berbagi upacara tradisi yang sampai saat ini masih ditemui di tengah-tengah komunitas.

Tradisi upacara ruwatan, kelahiran, sunatan, dan berbagai upacara tradisi, tidak hanya sekadar peristiwa sesaat yang terhenti oleh waktu, tetapi substnasi simbolisnya merupakan proses yang dinamis seiring ekspetasi masa depan manusia dalam mengarungi dinamika hidup. Di samping itu upacara tradisi yang juga dikenal sebagai ritus inisiasi tersebut merupakan pergulatan jalan pikiran dan batin manusia dalam mengarungi setiap jenjang atau fase-fase dalam hidupnya, seperti kelahiran, kematian, ganti kulit, dan berbagai fase-fase hidup lainnya yang dapat menjadi pengingat akan introspeksi manusia dalam menjalani hidup di dunia.

Semiotika Harapan

Pada hakikatnya, ritus inisiasi merupakan wujud upacara yang terkait dengan peralihan, dan di setiap adat istiadat sangat berbeda cara pelaksanaannya. Oleh karena itu, maknanya pun menjadi kian relatif. Di Indonesia saja, banyak sekali pelaksanaan ritus inisiasi yang disesuaikan dengan adat istiadat setempat. Namun substansinya, ritus inisiasi adalah simbol dari harapan manusia akan sesuatu yang akan dicapai.

Sedangkan awal mulanya inisiasi adalah buah dari adopsi agama-agama peninggalan zaman dahulu yang turun-temurun mencari bentuknya hingga akhirnya menjadi kepercayaan bagi komunitas Indonesia seperti agama Hindu, Buddha, Islam, Katolik, dan sebagainya. Dan sampai kini, fenomena itu jelas masih berlanjut, seperti dalam upacara ruwatan dalam tradisi komunitas Jawa (Edi Sedyawati, 2010).

Dalam tradisi Jawa upacara ruwatan disebut pembersihan sukerta. Kata sukerta berasal dari kata  suker yang berarti gangguan, kerawanan. Kata ruwatan berasal dari  kata ruwat yang berarti patah, rusak. Dengan demikian  ruwatan dapat diartikan sebagai sesuatu yang  harus dibersihkan atau disucikan dari segala mara bahaya yang akan mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu, berpijak dari kepercayaan adat budaya Jawa, mereka yang termasuk orang-orang sukerta harus diruwat.

Dalam kebudayaan Jawa yang termasuk kategori golongan sukerta antara lain: ontang-anting (anak tunggal bisa laki-laki atau perempuan), uger-uger lawang (dua bersaudara laki-laki semua), kembar sepasang (dua bersaudara perempuan semua), pandhawa (lima bersaudara laki-laki semua), kedhana-kedhini (dua bersaudara laki-laki dan perempuan), dan sebagainya. 

Upacara ruwatan pada umumnya dilaksanakan dengan pertunjukan wayang kulit dengan cerita Murwakala yang berlangsung kurang lebih dua jam. Pertunjukan tersebut diyakini  sebagai sarana pembebas manusia dari kekuatan supranatural buruk yang mengancam manusia yang sial  keberadaannya di dunia ini.

Cerita Murwakala berkisah tentang Batara Kala semenjak lahir di tengah lautan  sampai bertemu ayahnya yakni Batara Guru dan meminta jatah makanan. Oleh Batara Guru, Kala diberi jatah makanan di dunia yaitu orang yang termasuk golongan sukerta. Selanjutnya Batara Guru memberi tanda goresan pada badan Kala tentang  kesejatian hidup  yang dinamakan Rajah Kalacakra. Batara Guru berpesan, barang siapa yang dapat menjelaskan Rajah Kalacakra maka Batara Kala harus tunduk dan menghormati serta menurut segala perintahnya.

Sajian Murwakala esensinya  terdapat pada adegan Dalang Kandhabuwana dengan Kala. Pada adegan ini, Kandhabuwana dapat menjelaskan Rajah Kalacakra yang tertulis di badan Kala dengan kekuatan mantra saktinya. Begitu mantra dibacakan, seketika itu juga Kala menjadi tidak berdaya dan takluk menuruti segala perintah Ki Dalang Kandhabuwana yang memintanya kembali ke alam asal dan berjanji tidak akan memangsa orang yang termasuk golongan sukerta.

Cerminan Sikap Hidup

Upacara ruwatan yang dapat diklasifikasikan sebagai bentuk ritus inisiasi tersebut setiap penyelenggaraanya dilihat dari segi jaringan relasi antarpersonal tampak sebagai cerminan  adanya rasa solidaritas yang tinggi, kekeluargaan, kebersamaan, serta gotong-royong dalam kehidupan berkomunitas. Hal itu selaras dengan cerminan sikap hidup orang Jawa yang memandang  dan menyelami kehidupan sebagai suatu keselarasan yang bersifat sosial dan simbolis. Dimensi hidup personal bersifat sosial sedangkan hakikat hidup diwujudkan secara simbolis.

Dalam pertunjukan wayang kulit ruwatan dengan cerita Murwakala tersebut muncul hal yang menarik seperti adanya slametan (kenduri).Selain juga berbagai sesaji seperti sayuran sebagai lambang kesegaran yang dipersembahkan  kepada alam dan golongan sukerta. Jajan pasar yang menjelaskan bahwa  hidup itu memerlukan jasa dan bantuan orang lain. Buah-buahan yang melambangkan bahwa orang-orang yang tertimpa sukerta diharapkan segar bugar untuk mencapai tujuan hidup.

Sedangkan sayur kuluban melambangkan suatu kehidupan yang tenteram dan damai  dambaan setiap orang. Setiap benda sesaji yang berada di atas nampan atau tampah menjadi alat untuk membersihkan sukerta. Bahkan tarub atau janur yang dipasang mengandung maksud tempat tersebut menjadi suci dan kesejahteraan penyelenggara menjadi meningkat dan terjamin kesejahteraan hidupnya.

Pembersihan sukerta oleh Ki Dalang dalam pertunjukan wayang kulit ruwatan sentuhan-sentuhan estetisnya nampak dalam penataan sesaji, pengucapan mantra yang diiringi gendhing-gendhing (komposisi musik karawitan Jawa) eling-eling dan ayak-ayak. Suara mantra yang diiringi gamelan memberikan pengalaman estetis dan pada gilirannya akan memberikan pengalaman religius  kepada penghayatnya.

Peristiwa ini menunjukkan  bahwa pertunjukan wayang merupakan bagian integral yang tak dapat dipisahkan dalam ritus inisiasi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sajian wayang kulit ruwatan menjadi sarana pembebasan dosa yang menimpa orang-orang sukerta dari ancaman Dewa Kala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembesasan sukerta dengan pertunjukan wayang, bukan hanya memberikan pengalaman estetis atau religius tetapi juga merupakan  penghapusan dosa golongan sukerta yang akan membawa  ke arah peningkatan kesejahteraan bagi manusia yang sial keberadaannya di dunia ini.

Ritus inisiasi ruwatan tersebut hanya merupakan satu contoh dari sekian ribu ritus inisiasi di Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun sekarang zaman sudah masuk ke era millennium, namun tradisi akar budaya komunitas di Nusantara masih eksis dan tak lekang oleh waktu. Justru dari kelompok atau komunitas kecil ini, kepekaan akan semakin terasah, bahwa bangsa ini harus terus eling (ingat) dan introspeksi agar keseimbangan hidup terus tetap terjaga dan terkendali.


Penulis: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar