BERITAMAGELANG.ID - Tradisi jamasan atau perawatan pusaka kembali digelar sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya Jawa sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara merawat Tosan Aji secara benar. Mengusung tema "Jamasan Pusaka Linuhung, Ngreksa Teteping Adat Jawi Ing Bumi Magelang", kegiatan ini tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga ruang belajar bagi para pemilik pusaka.
Sedikitnya, ada 50 tosan aji baik berbentuk keris maupun tombak yang terkumpul dari warga masyarakat dan dijamas di Pendopo Rumah Dinas Bupati Magelang, Rabu (17/6/2026).
Ketua Panitia Jamasan Tosan Aji 2026, Anto Atmadji mengatakan, kegiatan tersebut dibangun di atas tiga pilar utama, yakni konservasi, edukasi, dan pelestarian budaya.
"Intinya, kegiatan ini ada tiga pilar pokok yang kita lakukan. Yang pertama adalah konservasi, yaitu penyelamatan artefak atau Tosan Aji yang ada di masyarakat," kata Anto.
Ia menjelaskan, semangat penyelenggaraan kegiatan ini lahir dari keprihatinan karena masih banyak masyarakat yang memiliki atau mewarisi Tosan Aji tetapi belum memahami cara perawatan yang tepat.
"Berawal dari keprihatinan. Orang mempunyai Tosan Aji tapi tidak bisa merawat. Orang mewarisi Tosan Aji tapi salah rawat. Itu banyak sekali. Maka semangat pertama yang muncul adalah konservasi atau penyelamatan," ujarnya.
Setelah aspek penyelamatan, kegiatan dilanjutkan dengan fungsi edukasi kepada masyarakat agar memahami tata cara membersihkan, merawat, hingga menyimpan pusaka secara tepat.
"Kami memberikan edukasi bagaimana merawat yang benar, membersihkan yang benar, dengan cara yang benar dan tepat. Ada yang benar dan ada yang tidak benar," jelasnya.
Menurut Anto, edukasi tersebut tidak hanya menyasar aspek teknis perawatan, tetapi juga menanamkan pemahaman mengenai penghormatan terhadap nilai sejarah, filosofi, serta penghargaan kepada para empu pembuat pusaka.
"Masyarakat perlu memahami bagaimana menyimpan secara ilmiah maupun sebagai bentuk penghormatan terhadap Tosan Aji, terhadap empu, dan terhadap nilai historinya," katanya.
Pilar ketiga yang diusung adalah pelestarian budaya. Anto menyebut kegiatan jamasan tahun ini menjadi penyelenggaraan yang kelima dan terus berkembang menjadi ruang pertemuan para pecinta budaya, pemerhati keris, serta masyarakat umum.
Dalam kegiatan tersebut tercatat sekitar 50 Tosan Aji mengikuti proses kurasi dan perawatan. Berbagai jenis pusaka dari sejumlah periode sejarah turut hadir, mulai era Majapahit, Pajajaran, Mataram hingga pusaka era kamardikan.
"Sekilas yang saya lihat tadi ada Majapahit, ada Pajajaran, ada Mataram, bahkan kamardikan juga ada. Tapi semua tetap melalui proses kurasi terlebih dahulu," ujarnya.
Tidak seluruh pusaka langsung dijamas. Panitia menerapkan sistem penilaian berdasarkan kondisi masing-masing pusaka sebelum dilakukan tindakan perawatan.
"Kami nilai apakah ini bisa dijamas sampai lengkap, dipending dulu, atau cukup dirawat dengan minyak. Ada kategori M untuk minyak, P untuk pending. Semua harus diproses dulu sebelum eksekusi," terang Anto.
Ia menyebut, masih terdapat sejumlah pusaka yang belum bisa langsung diproses karena membutuhkan penanganan khusus.
Sebagai komunitas pecinta budaya dan pemerhati Tosan Aji, pihaknya merasa memiliki tanggung jawab untuk terus mengajarkan tata cara perawatan kepada masyarakat.
Anto menambahkan, kegiatan pelestarian akan berlanjut pada agenda berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu Kliwon (12/7/2026) di Dusun Keruk Bator, Desa Majaksingi, lokasi awal terbentuknya paguyuban.
"Awalnya kami hanya kumpulan orang yang punya keris, lalu berkembang menjadi kumpulan orang yang belajar keris, merawat keris, dan melestarikan," katanya.
Tradisi perawatan yang dilakukan juga merujuk pada literatur Tosan Aji dan sebagian menggunakan tata cara yang berkiblat pada tradisi keraton dengan pendampingan dari para abdi dalem.
Salah satu peserta, Rohmad Subadi, mengaku sengaja membawa dua Tosan Aji warisan keluarganya untuk mendapatkan pemahaman yang benar tentang perawatan pusaka.
"Ini ada dua. Yang satu bisa langsung dijamas, yang satu dipending karena kandungan karatnya tinggi. Saya juga heran, padahal setiap 35 hari saya kasih minyak tapi ternyata malah membuat karatnya tinggi," ujarnya.
Rohmad mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.
"Saya senang ada edukasi jamasan kali ini. Jadi tahu apa yang harus dilakukan pada Tosan Aji yang diturunkan kepada saya dan bagaimana cara menghormati benda pusaka tersebut. Jadi lebih paham dan tahu," lanjutnya.
Melalui kegiatan ini, Anto Atmadji berharap masyarakat tidak hanya menjadikan Tosan Aji sebagai benda warisan, tetapi juga memahami nilai sejarah, budaya, dan filosofi yang melekat di dalamnya sehingga tradisi pelestarian dapat terus hidup di tengah masyarakat.
@kominfomagelang Bukan cuma rapat di dalam ruangan, tapi langsung cek ke lapangan! 👏 Ketua TP PKK Kabupaten Magelang bersama jajaran meninjau berbagai program unggulan di Desa Daleman Kidul dan Jambewangi, Kecamatan Pakis. Dari bank sampah, UMKM keluarga, hingga ketahanan pangan, semua bergerak bersama untuk desa yang makin maju. 🌱✨ #Magelang #TPPKK #DesaHebat #KetahananPangan #BankSampah ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar