BERITAMAGELANG.ID - Desa Kebonrejo, Salaman, lama dikenal sebagai pusat penghasil bibit buah-buahan. Penjualan bibit secara konvensional belum maksimal meningkatkan taraf hidup petani.
Keringat petani menyemai bibit, kering di tangan para tengkulak. Tanpa posisi tawar, para petani hanya bisa menikmati penjualan dengan margin keuntungan tipis.
Sejak 2014 pola itu nyaris tidak berubah. Bibit dijual secara konvensional lewat perantara yang kerap mematok harga beli sangat murah.
Pemuda Desa Kebonrejo, Muhamad Burhanudin yang saat itu telah memiliki dasar pengetahuan penjualan secara daring, melihat peluang yang jarang disentuh: mempertemukan petani langsung dengan pasar.
Lewat Facebook dan halaman media sosial sederhana, Burhanudin mulai menjual bibit secara online. Pelan-pelan respons datang dan pasar digital terbuka.
Ide awal yang sederhana itu terus tumbuh, hingga pada 2018 saat menempuh pendidikan S1, Burhanudin mendapat dorongan mengembangkan usaha melalui program Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia dari Kementerian Ristek.
Dari sana Burhanudin menginisiasi web penjualan online mastanibibit.com. Mas Tani Bibit bukan sekadar toko online, melainkan platform yang menghimpun petani bibit tanaman buah dalam satu ekosistem bersama.
Mengubah Rantai Dagang
Mas Tani Bibit dibangun dengan prinsip utama: Petani tidak lagi menjadi pihak paling lemah dalam rantai pasokan. Melalui platform ini, Burhan menggandeng sekitar 45 petani mitra yang memasarkan bibit mereka langsung ke konsumen.
Harga jual bibit yang sebelumnya ditindas tengkulak, melonjak signifikan. Selisih harga setelah dijual melalui Mas Tani Bibit naik 30 hingga 40 persen.
Bibit tanaman buah yang dulu hanya dihargai Rp12.000, kini dibeli lewat platform seharga Rp20.000 ribu. Bibit durian setinggi 1,5 meter yang sebelumnya dilepas Rp60-70 ribu, kini bernilai Rp90-110 ribu.
"Mas Tani Bibit selain menjualkan produk petani termasuk bibit juga pupuk. Kami melibatkan mereka dalam proses jasa yang kami hadirkan untuk kustomer," kata Burhan.
Tapi tidak semua petani bisa langsung masuk dalam ekosistem penjualan Mas Tani Bibit. Kelompok menerapkan standar ketat, mengacu pada sertifikasi benih nasional.
Bibit harus berasal dari proses okulasi yang benar, memiliki karakter tanaman yang valid, sehat, dan sesuai spesifikasi tanaman.
Para petani yang bergabung harus menyetujui model kerja sama. Pada skema awal, petani memproduksi sekitar 50 persen bibit yang akan dipasarkan melalui platform.
Ketika permintaan meningkat, seluruh produksi bibit dari petani bisa diserap. Biaya produksi tetap berada di tangan petani, sementara Mas Tani Bibit menjadi penghubung pasar dan penjamin kualitas.
Kesenjangan Teknologi
Namun, jalan digitalisasi tidak selalu mulus. Mayoritas petani mitra berusia di atas 40 tahun dengan latar pendidikan menengah ke bawah.
Literasi teknologi menjadi tantangan besar. Website, pemasaran digital, hingga sistem pemesanan daring bukanlah sesuatu yang akrab bagi mereka.
Pada masa awal, skeptisisme muncul. Kepercayaan konsumen belum terbentuk dan testimoni sebagai sarana promosi belum tersedia.
Tampilan website masih sederhana dan dikelola sendiri oleh Burhan. Proses adaptasi memakan waktu, baik bagi petani maupun pasar.
"Para petani kan banyak yang gaptek (gagap teknologi). Gap antara kemajuan teknologi dan para petani masih tinggi. Kecenderungan untuk belajar digital marketing kurang," ungkapnya.
Alih-alih memaksa petani menjadi mahir teknologi, Mas Tani Bibit mengambil posisi sebagai jembatan. Petani fokus pada produksi, sementara platform menangani pemasaran, distribusi, dan komunikasi dengan konsumen.
Hasilnya, jangkauan Mas Tani Bibit meluas hampir ke seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua.
"Hanya Natuna yang belum tersentuh, kami terbentur keterbatasan jalur kargo," terangnya.
Tak hanya menjual bibit, platform ini juga menangani proyek kebun buah skala besar. Lokasi proyek paling jauh berada di Samarinda, Kalimantan Timur untuk lahan kebun durian musangking dan duri hitam.
Seluruh proyek pembukaan kebun buah sepenuhnya melibatkan petani mitra. Mulai dari penyediaan bibit hingga pendampingan tanam.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Mas Tani Bibit tidak berhenti pada transaksi. Jasa pendampingan pasca tanam menjadi bagian penting untuk memastikan tanaman tumbuh hingga berbuah.
Bahkan, hasil panen dari kebun dampingan di seluruh Indonesia rencananya akan dihimpun dan dipasarkan melalui platform yang sama.
Di Kebonrejo, model platform Mas Tani Bibit menciptakan efek berlapis. Warga sekitar dilibatkan dalam pengemasan, pengiriman, hingga logistik.
Rantai ekonomi desa bergerak. Pada proyek tertentu, seperti rehabilitasi lahan bekas tambang di Kalimantan, aktivitas penanaman kebun buah turut berkontribusi pada penyerapan karbon dan pemulihan lingkungan.
"Sekarang orang hanya sebatas menjual (bibit) saja, tidak memikirkan dampak ke depannya. Kami menjual tanaman buah pasti menyediakan jasa pendampingan. Selain itu juga mengupayakan untuk menjualkan hasil produk dari petaninya," lanjutnya.

Pendekatan bisnis dengan dampak luas itu yang mengantarkan Burhan meraih Juara I Pemuda Pelopor Desa tingkat Nasional. Dewan juri menilai dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan berjalan beriringan, bukan berdiri sendiri. Burhan menerima penghargaan tersebut di Jakarta pada 15 Januari 2026.
Tantangan Pasar Digital
Di tengah maraknya platform penjualan tanaman, termasuk tren live commerce, Mas Tani Bibit memilih tetap fokus pada website. Target pasarnya jelas, segmen menengah ke atas yang mencari informasi melalui mesin pencari, bukan sekadar impuls belanja.
Bagi Burhanudin, menjual bibit tanpa pendampingan hanya akan memindahkan masalah ke masa depan. Tanaman mati, konsumen kecewa, dan kepercayaan runtuh.
Menurut Burhanudin, Mas Tani Bibit akan bertransformasi menjadi bagian dari perusahaan baru bernama Raja Benih. Merek Mas Tani Bibit tetap dipertahankan sebagai penyedia bibit, sementara Raja Benih menjadi payung profesional.
Selain tetap menangani penjualan bibit tanaman buah, Raja Bibit akan dikelola serius untuk melayani workshop pertanian dan program edukasi bagi para calon pekebun.
Di Kebonrejo dan banyak desa lain, inovasi tumbuh dari bawah. Mereka membutuhkan dukungan berkelanjutan agar benih perubahan benar-benar berbuah.

0 Komentar