Perajin Topeng Desa Bandongan Populerkan Gaya Magelangan

Dilihat 32 kali
Khoirul Mutakin, perajin topeng asal Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Magelang.

BERITAMAGELANG.ID - Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, dikenal sebagai salah satu desa dengan potensi kerajinan yang berkembang konsisten. Di desa ini, seni dan keterampilan tangan warga tumbuh menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sekaligus budaya.

Salah satu perajin yang cukup dikenal adalah Khoirul Mutakin, perajin topeng kayu klasik gaya Solo dan Yogyakarta. Dia mengembangkan kerajinan topeng yang dipakai sebagai properti pertunjukan tari.

Proses pembuatan topeng dilakukan secara manual. Dimulai dari pemilihan bahan kayu, pembentukan pola wajah, hingga proses penghalusan dan pewarnaan.

Setiap tahap dikerjakan dengan teliti karena topeng tidak hanya dituntut berkualitas baik (kuat dan awet), tapi juga mampu menampilkan detail karakter tokoh. Khoirul mengaku mampu membuat 20 topeng karakter wayang Beber Panji.

"Kebanyakan dari tokoh wayang Beber Panji. Sebenarnya karakter topeng ada lebih dari 50 jenis. Tapi yang saya bisa buat topeng itu sekitar 15 sampai 20 karakter," kata Khoirul, Kamis (22/1).

Topeng Panji

Beber Panji adalah seni wayang yang berkembang di Jawa pada masa pra Islam. Mulanya wayang Beber menggunakan tokoh-tokoh cerita Mahabarata sebagai ide karakter.

Pada abad 14 hingga 15, wayang Beber mulai mengadopsi cerita-cerita Panji dari masa Kerajaan Jenggala yang berdiri 300 tahun sebelumnya. Karakter wayang juga menggambarkan kisah cinta Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji.

Berbeda dengan wayang kulit, seni topeng jarang mengambil karakter tokoh dewa.

"Tokoh Panji jarang menampilkan karakter dewa. Kebanyakan tokoh raja, prabu, abdi, dan Raden Panji," terangnya.

Khoirul Mutakin mengaku mulai belajar membuat topeng kayu sejak 2011.

"Dulu saya belum mengerti apa itu topeng klasik. Asal membuat saja. Cuma saya diarahkan terus sampai saya mulai kenal topeng klasik," ujarnya.

Secara umum dikenal topeng klasik gaya Jawa dan Bali. Topeng klasik gaya Bali banyak menampilkan topeng keras (petarung), topeng tua (sesepuh), bondres (rakyat jelata), dan ratu (bangsawan).

Jika topeng klasik Jawa banyak menampilkan karakter Panji, klono atau Rahwana, gaya Bali sering menampilkan tokoh-tokoh sakral seperti Barong, Leak dan Celuluk.

Pilihan Kayu

Unsur sakral juga kerap menjadi alasan utama para seniman topeng dalam memilih jenis kayu yang dipakai untuk bahan baku. Seniman topeng Bali misalnya, menggunakan kayu pule khusus untuk membuat topeng sakral.

Padahal kayu pule biasa digunakan oleh seniman pembuat topeng di Jawa karena teksturnya yang lunak sehingga mudah dipahat.

"Paling bagus itu sebenernya kayu jaranan. Tapi kalau di daerah pegunungan susah didapat. Banyaknya di daerah pesisir. Teksturnya padat, empuk," jelasnya. 

Selain pule, kayu waru juga sering dipakai untuk membuat topeng. Khoirul mengaku mendapat bahan baku dari pengepul kayu gelondongan di sekitaran Magelang.

"Nggak ada kesulitan cari bahan kayu. Banyak jenis kayu yang bisa dipakai untuk membuat topeng. Sekarang saya sering pakai kayu jati lanang. Tapi agak keras jadi lumayan sulit dipahat," ujarnya.

Menurut Khoirul, jenis kayu juga mempengaruhi proses pembuatan topeng. Semakin keras kayu, semakin lama waktu pembuatan.

Rata-rata Khoirul membutuhkan waktu lima hari untuk membuat satu topeng klono.

"Paling lama satu minggu, tergantung kayunya. Kalau masih basah butuh waktu untuk dikeringkan. Biasanya saya jemur di panas matahari," imbuhnya.

Topeng paling murah dijual seharga Rp500 ribu. Paling mahal dibanderol seharga Rp1,5-Rp 2 juta.

Terbatas pada Penari

Harga topeng ditentukan oleh bentuk, detail ukiran, warna, dan jenis kayu sebagai bahan baku.

"Kami mesti membedakan tingkat kesulitannya," ujarnya. 

Khoirul mengaku hanya menjual topeng secara langsung atau berdasarkan pesanan. Rata-rata pembeli adalah penari yang menggunakan properti topeng untuk pementasan.

Hingga kini dia mengaku belum memanfaatkan teknologi pemasaran digital untuk menjual topeng. Terbatasnya pemasaran membuat Khoirul tidak bisa mendapatkan pembeli setiap bulan.

"Kendala cuman (penjualan) tergantung pada penari-penari itu. Mereka membutuhkan (topeng) atau tidak. Kadang sebulan tidak laku, kadang laku. Ketika tidak ada order, saya tetap bikin topeng untuk stok," ujarnya.

Topeng Magelangan

Kepala Desa Bandongan, Sujono menyampaikan, pemerintah desa secara aktif mendukung para perajin dan seniman lokal. Dukungan tersebut diwujudkan melalui fasilitasi pameran, penyediaan ruang promosi, serta pembelian produk warga untuk dipamerkan dalam berbagai kegiatan.

Menurut Sujono, pameran menjadi sarana penting untuk memperkenalkan produk desa kepada masyarakat luas. Seniman topeng secara rutin diikutkan dalam berbagai kegiatan, termasuk Festival Lima Gunung.

"Di kantor desa kami menyediakan etalase UMKM. Tempat produk-produk warga, seperti topeng dan kerajinan tembaga dipajang sebagai identitas Desa Bandongan," kata Sujono.

Sujono menilai kerajinan topeng memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai identitas budaya daerah. Hingga kini, Magelang belum memiliki ikon gaya topeng yang secara khusus dikenal publik.

Padahal, gaya topeng Magelangan pernah diperkenalkan oleh mendiang Romo Yoso Soedarmo, pendiri Padepokan Tjipta Boedaja di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun.

Gaya Topeng itu yang kemudian dicoba untuk dipopulerkan oleh Khoirul Mutakin.

"Sebenarnya 4 tahun lalu waktu Festival Lima Gunung di Tutup Ngisor kami sudah matur. Kami mau kembangkan. Salah satunya yang bisa mengembangkan Khoirul karena yang lain belum bisa. Dari Komunitas Lima Gunung sangat setuju," kata Sujono.

Desa Bandongan direncanakan menjadi bagian dari kawasan desa tematik Umpak Sumbing. Kawasan ini akan dikembangkan sebagai desa wisata berbasis potensi lokal.

Melalui penguatan perajin lokal, jejaring komunitas seni, dan dukungan pemerintah desa, kerajinan topeng diharapkan tidak hanya bertahan. Tapi juga berkembang sebagai bagian dari kekayaan budaya Magelang.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar