Bajong Banyu, Tradisi Perang Air Antar Warga Jelang Ramadhan

Dilihat 897 kali
Tradisi Bajong Banyu warga di Dusun Dawung, Desa Banjarnego, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang menyambut datangnya bulan suci Ramadhan

BERITAMAGELANG.ID - Dibawah guyuran hujan, tradisi Bajong Banyu warga di Dusun Dawung, Desa Banjarnego, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang berlangsung khidmat Minggu (03/03/2024).

Tradisi unik dalam menyambut datangnya bulan puasa ini adalah perang air antar warga untuk memperkuat kerukunan.

Prosesi diawali dengan kirab pengambilan air di sumber air Tuk Dawung oleh puluhan warga serta para tokoh dan perangkat desa setempat. Tuk dawung merupakan sumber mata air 'menghidupi' seluruh rakyat dawung dan sekitarnya.

"Tuk Dawung sebagai sumber pengairan lahan pertanian, air minum, membersihkan diri, dan kebutuhan lainnya," kata Seniman Dusun Dawung Gepeng Nugroho Minggu sore.

Menggenakan busana adat jawa, warga berjalan kaki menuju sumber air yang berjarak sekitar 500 meter dari lapangan dusun. Setiap warga terlihat membawa kendi yang akan di isi air, dan sebagian lainnya membawa aneka sesaji dan tumpeng. Irama gamelan dan tarian mengiringi kirab tersebut.

Sampai dilokasi sesepuh dusun merapal doa seraya bersama sama mengisi air ke setiap kendi yang kemudian dibawa kembali menuju lapangan dusun. Semua air itu kemudian dituangkan dalam gentong tanah seraya disakralkan melalui doa keselamatan oleh sesepuh desa dan di ikuti seluruh warga.

Dikatan Gepeng, prosesi tetap sama, hanya yang membedakan adalah tema tahun ini adalah "Memangku Hayuning Bawono" yang merupakan filosofi luhur masyarakat Jawa.

Ungkapan itu, lanjut Gepeng mengandung makna bahwa kita, sesama warga sebagai manusia harus senantiasa berbuat baik kepada sesama, alam sekitar dan makhluk lainnya.

"Dengan itu sehingga akan terjadi keharmonisan dalam kehidupan," ujar Gepeng.

Ditanah lapang, air dari kendi disatukan dalam gentong yang kemudian disakralkan lewat doa oleh sesepuh dusun. Satu satu stiap warga kemudian membasuh muka, dan tangan simbol mensucikan.

Tak lama berselang, terdengar iringan musik gamelan dan tari tradisional energik, perang air pun dimulai. Seluruh warga saling melempar air dalam plastik, mereka berbaur menjadi satu penuh suka cita meski hujan deras terus mengguyur. seakan semesta mengamini prosesi tahunan ini.

Bagi warga Dusun Dawung, tradisi Bajong Banyu bermakna membersihkan diri, silaturahim, saling memaafkan menjelang Bulan Suci Ramadhan.

"Harapannya saat menjalani ibadah puasa nanti setiap orang  dalam kondisi bersih lahir batin, tidak ada benci, dendam dan lainnya," jelas Gepeng.

Salah satu warga mengaku sudah dua kali ikut tradisi Bajong Banyu. ia merasa senang bisa membaur dengan warga lainnya melakukan perang air. Bahkan ia rela seluruh tubuhnya basah usai kegiatan ini. "Senang ikut, dua kali ikut acara saling lempar air ini. Kalau tak hujan biasanya saya ikut basah lempar air," ungkap Sandra yang merupakan warga dari desa lain di Kabupaten Magelang.

Usai prosesi perang air warga kembali berkumpul untuk menyaksikan pentas beragam seni tradisional, seperti jathilan, topeng ireng dan lainnya.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar