Belajar Objek Pemajuan Kebudayaan

Dilihat 695 kali
Difasilitasi oleh Canisio Art Center Borobudur peserta didik SMA Abdi Siswa Bintaro Tangerang dapat belajar Objek Pemajuan Kebudayaan secara detail. Sebagai puncak kegiatan (13/6) mereka berhasil mementaskan Sendratari Sambula yang narasinya diambil dari kisah relief di Candi Borobudur.

DALAM dinamika perjalanan waktu, kebudayaan merupakan nafas kehidupan manusia yang akan selalu mengalami proses metamorfose selaras dengan tanda-tanda zaman. Kebudayaan bukan hanya suatu dogma di ruang hampa, namun merupakan tindakan praksis yang dilakukan oleh masyarakat dalam meniti kehidupannya.


Apabila ditelisik lebih jauh, dalam hidup kesehariannya manusia tidak mungkin lepas dari pola hidup kebudayaan, karena manusia adalah pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri. Terlebih lagi pemerintah saat ini melalui UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan telah mengakomodasi dan menunjukkan upaya untuk memajukan kebudayaan lokal yang prosesnya dilakukan melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan kontinuitas pendampingan.


Dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayan tersebut mencakup sasaran utama yaitu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang mencakup sepuluh jenis yaitu adat istiadat, bahasa, manuskrip, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, permainan rakyat, ritus, seni, teknologi tradisional, serta tradisi lisan.


Tentunya OPK tersebut perlu didesiminasikan ke berbagai kalangan, termasuk peserta didik di sekolah. Karena disadari generasi milenial juga generasi Z pada saat ini, dengan merebaknya arus informasi yang tidak dapat dibendung, kadang nilai-nilai budaya yang harusnya menjadi panutan kadang tereduksi. Untuk itu dperlukan tindakan praksis agar nilai-nilai budaya  tersebut dapat kembali dikenali dan menjadi spirit dalam hidup berbangsa dan bernegara.


Peran Aktif Lembaga Pendidikan


Tidak dapat dipungkiri lembaga pendidikan merupakan tempat penyemaian tunas-tunas muda dalam membentuk pribadi utuh guna memanusiakan manusia. Peran aktif lembaga pendidikan dalam pemajuan kebudayaan  dapat menjadi pemantik  peserta didik di sekolah untuk dapat menemukenali berbagai simpul-simpul kebudayaan dalam tataran praksis.


Peluang tersebut ditangkap oleh SMA Abdi Siswa Bintaro, Tangerang Selatan Provinsi Banten yang melaksanakan pembelajaran di luar kelas dengan program tinggal bersama masyarakat di Borobudur (11-14/6/2024). Dengan difasilitasi oleh Canisio Art Center Borobudur, program tersebut menyasar ke berbagai bidang di antaranya, OPK yang bertujuan peserta didik dapat belajar menemukenali OPK dengan mengingat, menelaah, serta berkehendak melalui kearifan lokal di Borobudur.


Peserta didik dapat belajar OPK di antaranya tentang relief Candi Borobudur. Sebagaimana diketahui, Candi Borobudur sebagai peninggalan Dinasti Syailendra menjadi istimewa karena di dalamnya memuat 2.672 panel relief yang sangat eksotis. Panel relief cerita berjumlah 1.460. Sedangkan sisanya berwujud relief dekoratif. Mereka dengan serius mengikuti workshop kisah relief Candi Borobudur berbasis sastra klasik suttapitaka. Puncak kegiatan mereka harus mempresentasikan dalam format seni pertunjukan.


Kompilasi dari berbagai kelompok pada akhir kegiatan berhasil menyajikan sajian seni pertunjukan bertajuk Sendrari Sambula. Kisah tersebut terdapat dalam panel relief 519 yang mengisahkan kesetian sejati Dewi Sambula terhadap suaminya Raja Sotthisena baik dalam untung maupun malang (Handaka Vijjananda, 2021).


Dari penampilan peserta didik dari SMA Abdi Siswa Bintaro tersebut dapat menjadi parameter bahwa nilai-nilai kearifan lokal dapat disajikan menjadi seni pertunjukan menarik. Mereka pada umumnya belum pernah menari dan menabuh musik karawitan Jawa. Namun dalam proses yang begitu singkat, mereka dapat berkolaborasi dengan baik yang menandakan bahwa soliditas dan keingintahuan mereka sangat tinggi.


Pada dasarnya di tengah gegap gempitanya budaya instan saat ini, apresiasi seni sangat dibutuhkan untuk jiwa-jiwa muda yang sedah tumbuh ini. Generasi Z bisa belajar dan bertumbuh menjadi sosok-sosok yang berkarakter untuk selalu terhubung (connected), berbela rasa (compassionate), dan berkesanggupan (commited). Dalam tataran teknis pembelajarannya dapat dilakukan melalui aktivitas mengamati, memahami, dan mengomunikasikan hal-hal yang diamati dan dipahaminya.


Di samping itu, mereka dapat lebih peka terdapat aspek multikultural. Aspek ini lebih memiliki subtansi menumbuhkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam  budaya lokal, nusantara, dan global. Hal ini merupakan ikon pembentukan sikap demokratis bagi peserta didik untuk hidup secara beradab serta toleran dalam kancah komunitas dan budaya yang pluralis. Jiwa toleransi tersebut akan mewujud secara alami dalam kepekaan estetis yang sangat berguna untuk menumbuhkembangkan kepribadian positif.


Apresiasi seni peserta didik tersebut sangat memperkuat Penguatan Pendidikan Karakter sebagaimana diamanatkan dalam Perpres No. 87 Tahun 2017. Lembaga pendidikan termasuk satuan pendidikan perlu melakukan terobosan keluar berkolaborasi dengan komunitas sebagai aksi nyata dari pendikan karakter berbasis komunitas.


Kegiatan kolaborasi antara sekolah dan komunitas selain berfokus pada kepentingan peserta didik, juga berfokus terutama pada elaborasi nilai-nilai humaniora. Pengembangan nilai-nilai humaniora atau nilai-nilai moral kemanusiaan ini sifatnya universal dan berpusat pada pengemabangan martabat individu manusia (Doni Koesoema A., 2018).


Implikasi dari nilai-nilai moral tersebut tak lain adalah segala hal yang baik, luhur, dan pantas diperjuangkan oleh setiap manusia, seperti kebajikan, kemurahan hati, persahabatan, keadilan, dan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia serta tanggung jawab umat manusia dalam menjaga kelestarian dan keutuhan ciptaan Sang Penguasa Dunia. Adapun bentuk-bentuk penanaman moral tersebut di antaranya adalah merealisaikan pendidikan yang bertujuan untuk menumbuhkan kepekaaan seni yang sering disebut sebagai kegiatan olah rasa.


Kolaborasi efektif antara sekolah dan komunitas dalam rangka menumbuhkan nilai-nilai moral pada gilirannya juga akan bermanfaat bagi komunitas tersebut. Komunitas sebagai lingkungan lebih luas dari batas pagar sekolah perlu memberikan kontribusi dan partisipasinya agar peserta didik yang sedang belajar di lingkungan sekolah memiliki persiapan-persiapan yang matang. Dengan ekspetasi, mereka setelah menyelesaikan pendidikan, kelak dapat menjadi individu, pribadi, dan warga negara yang memiliki kapasitas moral dan mampu terlibat dalam kehidupan sosial secara dewasa dan bertanggung jawab.


Keseriusan Belajar


Sebagaimana telah diutarakan, UU Pemajuan Kebudayaan sudah digulirkan oleh pemerintah, kiranya perlu adanya respon aktif dari komunitas untuk melakukan tindakan praksis, sebagaimana telah dilakukan oleh SMA Abdi Siswa Bintaro tersebut. Untuk itu keseriusan dalam mempelajari dan menindaklanjuti UU tersebut perlu segera diwujudkan.


Apabila Objek Pemajuan Kebudayaan tersebut dipelajari, dapat menjadi oase yang tak akan pernah kering untuk digali sampai tingkat kedalamannya. Dari sepuluh aspek yang terkadung di dalamnya dapat dikaji dan ditelaah dari berbagai persepektif yang dapat bermanfaat bagi kemaslahatan bersama. Sebagai misal dalam aspek seni di samping mampu mengasah nilai kepekaan estetika juga dapat belajar nilai-nilai historis dari cerita yang dibawakan, sebagaimana dalam kisah Sambula.


Rasannya mulai sekarang, OPK perlu direspon secara proaktif dengan harapan pemajuan kebudayaan dapat menjadi titik pijak pengembangan kebudayaan nasional yang terbangun dari partispasi dan pelibatan publik secara simultan dan berkesinambungan. Borobudur di Kabupaten Magelang memiliki potensi untuk pengembangan OPK yang tidak habis digali bagai sumber yang tak pernah kering.



 Penulis : Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar