Desa Banyuroto Pelopor Pelestari Lingkungan dan Konservasi Sumber Mata Air Melalui 600 Sumur Resapan

Dilihat 772 kali
Satu dari 36 sumber mata air Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih warga.

BERITAMAGELANG.ID - Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi desa pelopor pelestari lingkungan melalui konservasi sumber air bersih dengan membuat 600 unit sumur resapan sekala besar. Tujuannya untuk melestarikan 36 sumber mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan warga.

“Pada tahun 2020, baru ada 20 biopori atau sumur resapan, namun saat ini (2024 bertambah menjadi 600 unit sumur resapan, dan manfaatnya sudah dirasakan warga, dimana ada sekitar 36 sumber mata air terus mengucur untuk kebutuhan warga," kata Kepala Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Magelang, Yanto, Rabu (15/5-2024).

Menurut Yanto, manfaat yang sudah dirasakan warga akan pentingnya sumur resapan, menjadikan semangat warga lereng Gunung Merbabu, terus melakukan penanaman pohon dan pembuatan sumur resapan, agar pelestarian alam dan lingkungan terjaga, sehingga bisa menampung air hujan terserap dalam tanah.

Ketekunan warga menjaga lingkungan dengan membuat sumur resapan membuahkan hasil, karena pada tahun 2022 Desa Banyuroto, Sawangan, berhasil meraih penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Kategori Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Atas penghargaan Proklim Kategori Lestari tahun 2022 ini, lanjut Yanto, menambah semangat warga untuk terus membantu menjaga kelestarian Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu sebagai peyangga kawasan konservasi sumber mata air. "Jika dulu sumber air menjadi rebutan warga, sekarang keberadaan air melimpah dari 36 sumber air," terangnya.

Bahkan untuk menjaga kelestarian sumber mata air, telah dibentuk Komunitas Jogo Tuk yang dikuatkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa Banyuroto. Tujuannya, agar penggunaan air baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk pertanian, dapat dilakukan secara baik dan merata.

Selain konservasi sumber air, warga desa lereng Gunung Merbabu yang menempati areal seluas 622.130 hekter tersebut, juga mengembangkan biogas dari hewan ternak sebagai energi baru terbarukan dengan Pembuatan IPAL biogas limbah kotoran ternak sebagai kebutuhan gas alternatif.

Karena masyarakat di Desa Banyuroto rata-rata mata pencahariannya sebagai petani dan peternak, maka masyarakat  membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biogas sebagai energi yang digunakan untuk keperluan sehari-hari (memasak), sekaligus mencegah dan mengurangi dampak kerusakan hutan akibat penebangan liar untuk mencari kayu bakar.

Adanya pembuatan IPAL biogas ini, sudah sangat membantu sekali dan mengurangi penebangan liar untuk mencari kayu bakar. Pada tahun 2019, pembuatan IPAL biogas limbah kotoran ternak, baru memiliki 6 unit biodigester, tahun 2024 sudah menjadi 36 unit biodigester.

Camat Sawangan, Yusuf Ari Wibowo menambahkan, Desa Banyuroto menjadi percontohan bagi desa lain di wilayah Kecamatan Sawangan, sehingga apa yang sudah dilakukan apparat desa dan warga dalam menjaga dan melestarikan lingkyngan serta sumber mata air, bisa ditularkan warga desa lain.

"Saat ini sudah bisa dirasakan, mata air debitnya semakin meningkat dan mampu mencukupi kebutuhan air di musim kemarau, bahkan bisa mensubsidi desa-desa tetangga. Dengan menjaga memanfaatkan lingkungan, menjadi contoh yang bagus," kata Camat Sawangan.

Senada dikatakan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup (PSPKLH) DLH Kabupaten Magelang, Uswatun Wulandari, bahwa Desa Banyuroto adalah salah satu desa di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, peraih penghargaan Proklim Kategori Lestari, dengan segala potensi sumberdaya alam dan mempunyai karakteristik tersendiri, sehingga berbeda dengan daerah lain.

"Desa Banyuroto, salah satu desa dari 20 desa di 20 kecamatan di Kabupaten Magelang, yang mengikuti Apresiasi Desa Gemar Mengelola Sampah (De'Gemes) yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tahun 2024," jelasnya.

Konsep baru De'Gemes tahun 2024, berbeda dengan tahun lalu. Jika sebelumnya adalah lomba, maka tahun ini (2024) semua peserta diapresiasi dan mendapatkan penghargaan dengan beberapa kategori. "Konsepnya menyesuaikan pelaksanaan tingkat Jawa Tengah, sehingga desa yang mendapatkan penghargaan bisa meningkatkan kategori, yakni ketegori madya ke utama," pungkasnya. 

Satu dari 36 sumber mata air Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih warga.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar