Membentuk Budaya Belajar Berpusat pada Siswa Melalui Implementasi Kurikulum Merdeka

Dilihat 81 kali

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan meluncurkan Kurikulum Merdeka yang sudah diimplementasikan dua tahun yang lalu. Salah satu yang menjadi keunggulan dalam kurikulum merdeka adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Walaupun dalam prosesnya pembelajaran yang berpusat pada siswa implementasinya membutuhkan perjuangan dari para guru, namun bila ada kemauan yang keras, proses membudayakan belajar yang berpusat pada siswa ini bisa dilakukan. 


Mengapa? Karena sebenarnya tidak begitu sulit untuk membentuk budaya belajar yang berpusat pada siswa, jika guru sendiri telah memiliki paradigma belajar yang tepat, artinya setuju bahwa budaya belajar yang berpusat pada siswa perlu diupayakan. Jika dikatakan bahwa peran guru sangat penting, hal ini tentunya tidak dapat dipungkiri. Gurulah yang memiliki peran besar di kelas untuk membentuk iklim kelas yang kondusif sehingga siswa termotivasi untuk belajar dari berbagai sumber. Gurulah yang berperan mencari berbagai pertanyaan pemicu, dan menetapkan strategi asesmen dan evaluasi yang tepat sehingga siswa terpacu untuk belajar. 


Jika siswa sudah mempersepsikan bahwa guru memiliki cara mengajar dan sistem evaluasi yang baik serta merasakan iklim kelas yang hangat dan kondusif, motivasi belajar akan tumbuh. Selanjutnya siswa akan berusaha keras mencapai tujuannya dalam belajar melalui pendekatan belajar mendalam.


Pendekatan belajar mendalam ditampilkan melalui berbagai aktivitas belajar yang melibatkan kemampuan metakognitif, seperti mampu melakukan cek dan ricek kembali berbagai materi yang telah dipelajari, mengorganisasikan materi, membuat prioritas dalam belajar, mengatur waktu dengan baik antara berbagai kegiatan, menetapkan tujuan yang ingin dicapai, berusaha mencari berbagai cara dalam mempelajari materi, dan mengidentifikasi kesalahan saat berusaha memahami materi. 


Sebaliknya, pendekatan belajar permukaan ditunjukkan dengan aktivitas yang melibatkan kemampuan yang lebih rendah, seprti menghafal dan meringkas materi. Pendekatan dan aktivitas belajar mana yang lebih banyak dilakukan siswa sangat tergantung dari persepsi siswa terhadap iklim kelas maupun cara guru dalam mengajar.


Guru diharapkan memiliki karakteristik sebagai berikut: punya harapan yang tinggi akan kemampuan dan pengetahuan siswa, memiliki antusiame dalam mengajar, mampu berempati, mampu merancang pertanyaan dan tugas yang memicu siswa untuk menggunakan strategi belajar mendalam, serta memiliki harapan yang tinggi akan keberhasilan siswa.


Selain karakteristik yang telah disebutkan di atas, dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa hal penting lain yang berperan adalah umpan balik. Penting bagi guru untuk memberikan umpan balik atas berbagai tugas yang diberikan pada siswa, agar siswa memahami apakah tugas yang dikerjakan sesuai dengan yang diharapkan. 


Cara memberikan umpan balik baik positif maupun negatif yang tepat sangat diperlukan. Sebagai contoh, guru tidak memberikan umpan balik negatif dengan kata-kata yang menyakiti hati siswa, dan selalu melihat sisi positif serta kemajuan yang diperoleh terlebih dahulu.


Capaian pembelajaran (CP) juga perlu dirancang dan diketahui siswa, sehingga siswa mengetahui dengan pasti apa yang menjadi target pembelajaran. Capaian pembelajaran ini sebaiknya tidak hanya dalam aspek kognitif saja, namun yang lebih penting lagi adalah kualitas kepribadian dari siswa. 


Cote dan Levine (2012), seorang sosiolog, mengemukakan konsep Human Capital Skills (HCS) yang perlu dimiliki oleh seorang pelajar. HCS merupakan keterampilan yang diharapkan dimiliki siswa dengan adanya pembelajaran, yaitu keterampilan dalam mengatur diri, keterampilan dalam memotivasi diri, serta keterampilan teknik praktis seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan dalam berorganisasi, dan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi. 


HCS ini merupakan prestasi belajar yang lebih penting dari pada sekedar nilai cemerlang di ujian. Agar siswa memiliki HCS yang baik, pendekatan belajar yang berpusat pada siswa sangat perlu diterapkan. Tentunya tidak mudah untuk mengubah paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa. 


Namun jika guru mampu mengajak siswa memikirkan apa yang menjadi tujuannya dalam belajar, mampu memotivasi siswa untuk selalu mengingat tujuannya tersebut, senantiasa melatih siswa untuk melakukan berbagai strategi yang mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan selalu memberikan umpan balik dalam pembelajaran, mudah-mudahan siswa akan terbiasa dengan paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa dan semakin terampil untuk belajar dengan menggunakan pendekatan mendalam, seperti yang diamanatkan dalam Kurikulum Merdeka.


Bagi siswa sendiri, jika tujuan dalam belajar sudah diketahui, akan sangat mudah untuk mempertahankan motivasi belajar. Rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang diberikan akan dapat dipupuk jika siswa mau mempersiapkan materi yang akan dipelajari keesokan harinya. Keterampilan dalam meringkas, menangkap ide penting dari hal-hal yang dibaca, dan membuat bacaan adalah strategi awal dalam belajar yang akan membantu siswa untuk melangkah pada strategi belajar yang lebih tinggi lagi. Semoga.


P. Budi Winarto, S.Pd. Guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar