Peran Kecerdasan Majemuk Pesera Didik dalam Mewujudkan Merdeka Belajar yang Berkualitas

Dilihat 2219 kali
Peserta didik terdapat beragam tingkat inteligensi, keragaman tingkat inteligensi dapat menimbulkan masalah dan harus dicari solusinya oleh seorang pendidik.

Oleh : P. Budi Winarto, S.Pd*)


PRAKTIK merdeka belajar mulai diterapkan mulai tahun pelajaran 2022-2023 seiring dengan diimplementasikan kurikulum merdeka di seluruh sekolah di Indonesia. Dalam praktik merdeka belajar, kecerdasan majemuk peserta didik sangat berperan dalam menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik.

 Di antara peserta didik terdapat beragam tingkat inteligensi. Mayoritas peserta didik berinteligensi normal, tetapi mungkin ada juga siswa yang tergolong Gifted Child (IQ di atas 140), di samping itu ada siswa yang tingkat inteligensinya di bawah rata-rata (IQ di bawah 70). Menghadapi situasi seperti ini seorang pendidik sepantasnya menyadari bahwa keragaman tingkat inteligensi dapat menimbulkan masalah dan harus dicari solusinya.

Menurut Uno (2003), teori kecerdasan majemuk menawarkan pola yang dapat digunakan para pendidik untuk melihat beberapa faktor penting dalam proses belajar. Sebenarnya dari setiap kecerdasan akan muncul pertanyaan tentang faktor-faktor yang mendorong atau mengganggu proses belajar di kelas dan aspek-aspek yang tidak ada padahal diperlukan di kelas, untuk memfasilitasi kemajuan siswa. Teori kecerdasan ganda sebenarnya merupakan suatu teori yang berusaha membantu guru dalam menyampaikan atau melaksanakan pembelajaran, ke dalam suatu kegiatan belajar yang banyak melibatkan perasaan siswa.

Itu sebabnya, untuk mencapai pembelajaran yang merdeka , kurikulum yang melibatkan kecerdasan ganda penting dikembangkan, karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelibatan kecerdasan ganda dalam pembelajaran menunjukkan perkembangan atau peningkatan potensi siswa secara signifikan. Dengan mengembangkan kurikulum kecerdasan ganda, secara pelan namun pasti  pembelajaran yang merdeka (Merdeka Belajar) akan terwujud dan hasil pendidikan di masa yang akan datang semakin meningkat, baik secara intelektual, emosional maupun secara spiritual.

Yang harus dilakukan seorang pendidik dalam melakukan praktik pembelajaran yang merdeka adalah membantu mengoptimalkan atau mengaktivasi daya pikir siswa, antara lain:

(1) Meningkatkan daya ingat. Meningkatkan daya ingat dapat membuat seseorang mampu belajar banyak dalam tempo lebih singkat. Jika ia belajar dengan waktu yang sama dengan orang lain, ia akan mendapat lebih banyak manfaatnya. Peningkatan daya ingat ini berhubungan langsung dengan semakin meluasnya jaringan pada sel otak seseorang. Meningkatnya daya ingat ini sejalan dengan meningkatnya daya tangkap. Secara biologis, jika kita menangkap hal yang baru, dibuatkan suatu hubungan antar neuron di otak kita. Semakin banyak tangan neuron, semakin mudah kita menangkap atau mengerti hal-hal baru. Sering kali kita mengerti dua hal yang tidak ada hubungannya. Namun, ketika seseorang menjelaskan hubungan dari dua hal tersebut, tiba-tiba semuanya menjadi jelas. Secara fisik itu adalah hubungan antar sel di dalam otak kita.

(2) Meningkatkan kemampuan mengasihi orang lain. Seorang anak diajarkan agar memiliki keseimbangan emosi dalam dirinya, dan harus mampu mengontrol emosinya dengn lebih baik. Ketika ia dihina anak lain, apabila ia tidak bisa menyeimbangkan emosinya , ia bisa lepas kontrol. Tetapi jika ia telah diajarkan untuk menggunakan EQ-nya dengan baik, ia dapat mengontrol emosinya dengan lebih baik. Keadaan ini tentu membuat kita mampu mengasihi orang lain dengan memiliki jiwa sosial lebih baik.

(3) Meningkatkan kemampuan inovasi dan kreativitas. Inovasi adalah kemampuan untuk menemukan dan menciptakan hal-hal baru, bukan suatu peniruan dari yang sudah ada. Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan hal-hal yang sudah ada, sehingga menjadi menarik untuk dilihat atau dipelajari. Kemampuan inovasi dan kreativitas yang tinggi dapat dipergunakan untuk menghasilkan produk baru, begitu juga untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang baru. Seseorang dengan kapasitas IQ yang tinggi belum tentu mempunyai daya inovasi dan kreativitas tinggi.

(4) Meningkatkan konsentrasi. Meningkatkan konsentrasi  dapat meningkatkan daya tangkap seseorang, setelah seseorang belajar dan mengerti tentang manfaat IQ dan EQ, ia bisa lebih baik menangkap hal-hal yang rumit dan lebih mudah mengerti atau memahami sesuatu.

(5) Meningkatkan kemampuan fisik dalam berolahraga. Tidak sedikit anak-anak yang meningkat rekor olahraganya, mereka mampu mengontrol tubuh dengan lebih baik, dan juga mampu menguasai  tubuhnya dengan lebih baik pula, dan anak tersebut menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

(6) Meningkatkan daya intuisi. Intuisi adalah kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan tanpa masukan ataupun tanpa menggunakan alasan apapun.

Rupanya harus diakui sumbangan Howard Gardner bagi dunia pendidikan. Pasalnya setelah sekian lama IQ diperkenalkan, Howard Gardner, seorang psikologi berani menentang pendapat lama tentang IQ. Gardner merumuskan kecerdasan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah, atau menciptakan produk mode yang merupakan konsekuensi dalam suasana budaya masyarakat tertentu.

Berkat penelitian Gardner  terkuaklah rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas daripada kepercayaan manusia sebelumnya, serta menghasilkan konsep kecerdasan yang sungguh prakmatis dan menyegarkan. Gardner tidak memandang kecerdasan manusia berdasarkan skor test standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai kemampuan untuk 1) menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia; 2) menghasilkan penyelesaian atas persoalan-persoalan baru; dan 3) menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya  seseorang.

Sumbangan lebih bermakna dari pendapat Gardner tentang  kecerdasan membuka peluang bagi ilmuwan lainnya untuk menelisik aneka kecerdasan lainnya seperti telah dipaparkan di atas. Dan yang dipaparkan bagi dunia pendidikan, lewat temuan Howard Gardner dan para ilmuwan lainnya, kini guru lebih paham bahwa setiap anak memiliki keunikan. Maka dalam kaitannya dengan Merdeka Belajar, guru juga dipanggil untuk memahami karakteristik anak dari pelbagai jenis kecerdasan. Dengan entry point yang tepat lewat pemahaman karakteristik anak yang unik itulah kiranya pembelajaran akan lebih efektif dan efisien sehingga pembelajaran yang merdeka serta Merdeka Belajar akan terwujud secara berkualitas. Semoga.


*)Penulis adalah Guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar