Refleksi, Adaptasi Baru Pembelajaran Tatap Muka

Dilihat 1857 kali
Membangun motivasi dapat dilakukan guru dengan melakukan pedampingan personal agar materi pembelajaran yang disampaikan kepada peserta didik dapat bermakna

DALAM dinamika perjalanan kehidupan, sang waktu itu terus berjalan. Putaran waktu itu diandaikan sebagai suatu perjalanan panjang. Detak jarum jam, jejak langkah kaki, jalur kereta api atau pusaran bergulirnya waktu pagi, sore, sampai malam seakan bergulir terus tiada henti bagaikan berputarnya roda cakra.

Pusaran waktu lebih tepatnya dikatakan serupa dengan mengalirnya air sungai bengawan. Ia terus tak henti-hentinya mengalir menuju muara, membawa tumpukan sampah dan segala yang hanyut padanya. Sang waktu terus bergulir juga berlalu membawa segala kisah umat manusia dengan segala dinamikanya.

Apabila direnungkan lebih mendalam sang waktu boleh terus berlalu, tetapi manusia sesekali waktu perlu berhenti untuk menimbang dan merenungkan tindakan-tindakannya yang sudah pernah dilakukan. Bukan untuk bernostalgia atau merasa bangga atas capaian-capaian yang pernah diraih, tetapi untuk merefleksi diri atau lebih jelasnya langkah praksis untuk menimbang-nimbang baik buruk segala sesuatu yang telah dilakukan.

Refleksi dapat dikonotasikan sebuah proses untuk mengajak mengendapkan makna manusiawi tentang berbagai hal yang sudah dilakukan dan pentingnya bagi sesama. Dari berbagai hal yang terjadi di lingkungan sekitar atau diri sendiri sebagai personal, terdapat banyak nilai-nilai kehidupan yang sering dijumpai. Tentu saja, untuk menguji nilai-nilai tersebut perlu pengendapan dengan nurani yang jernih agar mendapatkan nilai-nilai keutamaan (St. Kartono, 2002).

Untuk itu, kiranya dibutuhkan tempat pemberhentian sejenak untuk merenung atas berbagai peristiwa yang sudah dialami. Perenungan tersebut diharapkan dapat menjadi refleksi positif agar titian jalan untuk hari berikutnya dapat lebih baik. Upaya merefleksi diri ini menjadi semakin penting, manakala menyangkut perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat karena ditopang oleh kemajuan sains dan teknologi.

Adaptasi Pembelajaran

Pada tahun ini, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah sudah dimulai. Kiranya sekolah sebagai satuan pendidikan sudah menyikapi dengan berbagai regulasi yang sudah ditetapkan pemerintah, terutama agar pesesta didik merasa nyaman di sekolah dan kesehatan mereka terjamin dengan baik. Maka sekolah-sekolah sudah menerapkan protokol kesehatan agar pembelajaran bisa kondusif.

Untuk guru-guru yang mengajar di kelas perlu juga beradaptasi dengan kondisi yang jauh berbeda dengan sebelum pandemi. Peserta didik yang datang ke sekolah, karakteristiknya sangat beragam. Mereka sudah lebih dari dua tahun mengikuti pembelajaran daring dari rumah, ketika kembali masuk sekolah kondisinya jelas jauh berbeda, karena mereka sudah lama hanya berkutat di rumah.

Mereka biasa bangun siang, hanya di sampingnya ada ponsel. Di rumah tidak berhadapan dengan berbagai regulasi atau aturan normatif sebagaimana di sekolah. Ketika mereka masuk sekolah, guru harus dengan kesabaran ekstra tinggi mendampingi mereka, agar dapat beradaptasi dengan lingkungan baru di sekolah pasca pandemi.

Dengan demikian, peran guru di sini adalah sebagai fasilitator yang diharapkan dapat mengantarkan peserta didik pada tujuan pembelajaran. Fasilitator dapat dimaknai guru dapat mempermudah dan membebaskan peserta didik dari kesulitan maupun hambatan, menguatkan dan memotivasi agar dapat memecahkan masalah dalam belajarnya

Melalui pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik guru dapat berperan sebagai fasilitator. Kapabilitas dalam memfasilitasi pembelajaran yang berlangsung pada diri peserta didik menjadi parameter utama. Ekpetasinya, perserta didik akan memeroleh pengalaman belajar nyata dan otentik.

Dengan memfasilitasi pembelajaran, berarti guru berusaha mengajak dan membawa seluruh peserta didik yang ada di kelasnya untuk berpartisipasi secara aktif. Memfasilitasi pembelajaran bukanlah hal mudah jika guru tidak memiliki cukup pemahaman tentang psikologi pendidikan dan berbagai teori pembelajaran berikut model-model inovasi pembelajaran yang proporsional dan efektif agar dipahami dengan mudah serta menyenangkan peserta didik.  

Pada abad 21 ini, guru harus selalu mengubah cara-cara mengajar lama dengan mengoptimalkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Penguasaan TIK menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pada saat ini semua informasi pengembangan pembelajaran dan berbagai pengetahuan dapat diakses lewat internet. Bahkan dalam Kurikulum Merdeka, guru diharapkan mampu memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang berisi berbagai materi untuk mengembangkan diri. Kata kuncinya guru harus memiliki akun belajar dan bisa mengoperasionalkan perangkat TIK.  

Untuk dapat merealisasikan tujuan pembelajaran agar bermakna, maka semua peserta didik dengan segala keunikan dan karakteristiknya masing-masing harus dapat digugah dan distimulasi oleh guru untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung. 

Strategi tersebut merupakan hal penting penting, karena keinginan dan motivasi muncul dari dalam diri peserta didik untuk belajar mengetahui berbagai informasi yang berguna untuk dirinya, akan membuat mereka lebih dalam memahami sesuatu hal yang sedang disampaikan di kelas. Untuk itu guru perlu memantik motivasi dan keingintahuan mereka dengan pembelajaran yang menantang dan menarik.

Strategi Preleksi

Membangun motivasi dapat dilakukan dengan cara melakukan preleksi di awal pembelajaran. Sebagaimana penyajian sinetron, dengan memunculkan kembali episode cerita sebelumnya dapat dianalogikan dengan langkah strategi preleksi secara faktual. Dengan menyegarkan ingatan peserta didik akan pembelajaran sebelumnya daya ingat peserta didik akan terbangun dengan mengorelasikan dengan pembelajaran yang akan diberikan guru.

Membangun motivasi atau antusiame pada proses preleksi ini dapat berupa menyodorkan pertanyaan-pertanyaan ringan atau memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menceritakan pengalaman kesehariannya yang berkait dengan isi pembelajaran. Sebagai contoh dalam pembelajaran Seni Budaya dengan topik kesenian tradisional, peserta didik dapat menceritakan pengalaman kesehariannya ketika mengikuti kegiatan kesenian di kampungnya. Dengan demikian, peserta didik dapat memaknai pembelajaran yang erat korelasinya dengan kehidupan di lingkungannya.

Adapun yang menjadi pegangan saat ini bagi guru adalah, tidak usah risau dengan berbagai perubahan kurikulum. Hal itu bisa ditanggapi dengan positif sebagai dinamika dalam pendidikan. Pada prinsipnya guru perlu mengikuti perubahan tersebut dengan selalu memperbarui pengetahuan yang dimiliki. Di samping itu, nilai-nilai keutamaan yang diberikan kepada peserta didik perlu dilandasi dengan niat tulus untuk menjadikan jiwa-jiwa muda ini bertumbuh dengan membentuk mereka menjadi pribadi utuh.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar