Merti Dusun Tingal Kulon Desa Wanurejo Borobudur

Dilihat 933 kali
Kepala Dusun Tingal Kulon, Supardjo, menerima air dari lima mata air di dusunnya

BERITAMAGELANG.ID - Acara ritual tradisional Merti Dusun Tingal Kulon Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang digelar pada Sabtu (18/11/2023). Acara ini diawali dengan pengambilan air dari mata air Sendang Kalongan, mata air masjid al Mubarok, mata air Umbul Tirta atau mata air Siklopo, sendang Gayam dan sendang Mawar Kweni. 


Air tersebut dengan ditempatkan di kendi dibawa dalam Kirab Merti Dusun yang diawali dari pelataran makam petilasan Bendara Pangeran Harya Tejakusuma atau Eyang Wanu, cikal bakal desa Wanurejo. Kirab yang diikuti warga dusun Tingal Kulon ini mengusung Gunungan Hasil Bumi dan beberapa tumpeng menuju ke halaman pendopo Yut Ting di dusun Tingal Kulon.


Kepala Dusun Tingal Kulon Supardjo menjelaskan acara Merti Dusun ini sudah lama diselenggarakan masyarakat dusun ini tetapi hanya digelar dengan selamatan dan membaca doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki, ketenteraman, dan kemakmuran kehidupan masyarakat. 


Acara ini juga menjadi ajang kiprah untuk memupuk semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Untuk tahun ini Merti Dusun diselenggarakan dengan meriah dan diharapkan pada tahun mendatang dapat diselenggarakan lebih baik. Namun, belum ada kesepakatan warga untuk menentukan waktu pelaksanaan acara yang digelar setiap tahun ini.


Tokoh masyarakat, Umar Hasan Sukiyadi menambahkan, pengambilan air dari lima mata air tersebut bermakna "Kiblat papat lima pancer" yang melambangkan komponen pendamping kelahiran dan kehidupan manusia di dunia. Di setiap mata air ditanam bibit pohon sebagai upaya untuk pelestarian alam lingkungan. 


"Di samping sebagai ungkapan rasa syukur, masyarakat memanjatkan doa bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari bencana dan hasil panen yang melimpah," ujarnya.


Camat Borobudur, Subiyanto berharap acara ini dapat diagendakan sebagai event wisata budaya yang menarik bagi wisatawan. Karena atraksi budaya di Borobudur dirasa masih kurang terutama pada malam hari. 


"Masyarakat di wilayah Borobudur agar dapat membangun pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan serta dapat melayani wisatawan dengan baik," kata Subiyanto.


Sugeng Sugiyarto, mewakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Magelang, mengatakan pertunjukan kesenian rakyat yang digelar pada acara ini merupakan media sangat efektif untuk memberikan informasi dan menghibur masyarakat. Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum tahun 2024, banyak informasi yang harus dicermati. 


"Diharapkan, untuk pelaksanaan Pemilu mendatang masyarakat dapat ikut menyukseskan dengan tetap menjaga suasana yang kondusif, aman, nyaman dan damai," harapnya.


Dalam acara ini dengan didukung Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kabupaten Magelang, sanggar seni Kinnara Kinnari yang diketuai Eko Sunyoto menggelar drama tari "Tong Tong Bolong" dengan tema menyukseskan pelaksanaan Pemilihan Umum 2024. 


Menurut Ketua FK Metra Kabupaten Magelang, Donny Eggers, pesan yang tersirat dalam pementasan drama tari ini adalah bebas memilih pemimpin dan wakil rakyat dengan mengedepankan suasana yang demokratis, aman, dan damai.


Ketua Panitia Merti Dusun yang juga Ketua Paguyuban "Eling Budaya", Ganung Haryadi, menjelaskan di samping ritual acara Merti Dusun dimeriahkan dengan pentas berbagai kesenian, senam tradisi, berebut gunungan hasil bumi dan kembul bujana dengan menyantap bersama tumpeng merti dusun.


Dusun Tingal Kulon desa Wanurejo pernah menjadi kancah Perang Diponegoro, banyak nama-nama dusun yang berkaitan dengan peperangan itu. Di dusun ini pada masa perang dulu sering terjadi pertempuran sengit antara prajurit P. Diponegoro dengan serdadu Belanda dan sebagai daerah yang rawan konflik dengan musuh. Musuh prajurit P. Diponegoro bukan hanya serdadu Belanda yang berkulit putih, tetapi juga begundal-begundalnya yang sama-sama berkulit sawo matang.


Desa Wanurejo yang letaknya hanya sekitar satu kilometer di sebelah timur Candi Borobudur, merupakan salah satu Desa Wisata yang kini terus berkembang. Desa yang mempunyai banyak peninggalan sejarah dan potensi kesenian rakyat ini juga sebagai gerbang masuk ke Kawasan Wisata Candi Borobudur dari arah timur.


Bendara Pangeran Harya Tejakusuma yang oleh masyarakat setempat terkenal dengan sebutan Eyang Wanu adalah cikal bakal desa Wanurejo Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Dia adalah putra Hamengku Buwana II yang ke-76 dari garwa ampeyan (garwa selir) Bendara Mas Ajeng Rantamsari, yang lahir pada 17 Mei 1769. 


Dia adalah adik Pangeran Diponegoro, lain ibu. Pangeran muda itu, oleh ayahandanya diberi Tanah Perdikan Wonorejo, sebuah wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di sebelah timur Candi Borobudur. BPH Tejakusuma dinobatkan sebagai adipati pada 17 Mei 1799 dengan gelar Adipati Wanu Tejakusuma. Penobatan Wanu Tejakusuma menjadi Adipati Wonorejo ini bertujuan untuk memperkuat jaringan perjuangan pribumi dalam mempertahankan bumi pertiwi dari kekuasaan penjajah Belanda. Bendara Pangeran Harya Wanu Tejakusuma menikah dengan Rara Ngatirah, salah seorang putri Pangeran Puger.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar