BERITAMAGELANG.ID - Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten
Magelang, mempunyai pasukan milenial yang mengelola sedekah sampah menjadi berkah. Ada 47 orang
remaja milenial yang tergabung dalam kelompok Bank Sampah Muda Berkarya, dan sudah menghasilkan uang untuk membantu anak-anak yatim dan warga yang
membutuhkan.
"Sampah masih menjadi salah satu masalah yang perlu diperhatikan, dan dikelola agar bisa menghasilkan uang yang bisa bermanfaat baik orang yang membutuhkan," kata Ketua Bank Sampah Muda Berkarya Desa Ngargosoko, Septyo Nugroho, Senin (4/5/2026).
Dari pengelolaan sampah yang dikumpulkan setiap selapan atau 35 hari dari warga desa tersebut, dikumpulkan untuk dipilah, baik sampah organik maupun anorganik. Sampah organik dibuat untuk pupuk tanaman. Sedangkan sampah seperti botol plastik, kertas, besi dan alumunium dijual ke pengepul.
Uang hasil penjualan sedekah sampah, dikumpulkan untuk membantu warga yang membutuhkan, terutama anak-anak yatim di desa tersebut. Selain membantu anak yatim, juga pembagian takjil di masjid maupun musala, termasuk kegiatan Jumat berkah, dengan pola membeli sayuran hasil panen warga untuk dibagikan kepada warga yang lain.
"Berdirinya komunitas ini memiliki tujuan utama yaitu, mewujudkan ekosistem pengelolaan sampah yang bertanggungjawab dan berkelanjutan, dengan pendekatan 3R, yaitu Reduce/mengurangi, Reuse/menggunakan kembali, dan Recycle/mendaur ulang.
"Apabila semua tahu sampah itu punya nilai ekonomis yang tinggi, orang-orang jadi mikir lagi mau buang sampah sembarangan. Selain dampak buruknya bagi lingkungan sekitar. Jadi, dari sampah itu ternyata kalau dijadikan usaha sampingan cukup menjanjikan," katanya, sambil menyebutkan Bank Sampah Muda Berkarya berdiri tahun 2023.
Bendahara Bank Sampah Muda Berkarya, Dwi Septi, mahasiswi Untidar serta Uswatun Khasanah, mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengaku, tujuan membentuk kelompok bank sampah, selain untuk menjaka kebersihan lingkungan, ternyata juga bisa menghasilkan uang. Bahkan saai ini, saldo akhir pengelolaan sampah sebanyak tujuh juta rupiah.
"Komunitas bank sampah selain membuat program untuk membantu mengurangi persoalan sampah, baik dengan cara daur ulang maupun memproduksi sampah menjadi suatu produk yang berguna, dan mempunyai nilai ekonomi, juga bisa menjadi tempat untuk belajar berorganisasi," ujar Uswatun Khasanah, yang menyebutkan usia anggota Bank Sampah Muda Berkarya antara 18-22 tahun sebagian besar pelajar dan mahasiswa.
Kepala Desa Ngargosoko, Suhudin mengatakan, keberadaan kelompok Bank Sampah Muda Berkarya sangat membantu dalam menjaga kebersihan lingkungan di tingkat desa. Melalui anak-anak muda yang mau bergelut dengan sampah ini, merupakan langkah yang patut untuk mendapatkan apresiasi, karena tidak hanya peduli dengan kebersihan lingkungan dan kesehatan, juga bisa membantu warga yang membutuhkan dari hasil pengelolaan sampah tersebut.
Anggota bank sampah milenial Desa Ngargorsoko menjadi salah satu komunitas yang mengajak kaum muda untuk lebih memperhatikan dampak sampah bagi lingkungan. Tak hanya itu, juga mengajak kaum muda untuk mengetahui bahwa ada peluang usaha yang sangat menjanjikan dari proses daur ulang sampah.
Terpisah, Plh. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup (PSPKLH) pada DLH Kabupaten Magelang, Soko Wibowo mengatakan, terlibatnya generasi milenial dalam pengelolaan sampah merupakan cermin yang membanggakan, dan patut menjadi contoh desa yang lain. Dengan terlibatnya generasi milenial dalam mengelola sampah mencapai 75 persen, sehingga sampah bisa dikelola dengan baik.
Pola sedekah sampah warga desa yang dikelola gererasi milenial ini, bisa menjadi contoh desa lain di Kabupaten Magelang, sesuai dengan program dan visi Bupati Magelang yang dijabarkan dalam lima misi utama (Panca Dharma), yaitu diantaranya adalah "pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan" yang dimplementasi dalam kegiatan Desa Gemar Mengelola Sampah (De-Gemes) DLH Kabupaten Magelang tahun 2026.
0 Komentar