BERITAMAGELANG.ID - Materi tentang sejarah Perang Badar dan keajaiban pertolongan Allah menjadi daya tarik tersendiri bagi ratusan jemaah yang hadir memadati Joglo Ngawen Dairy Farm, Muntilan, Rabu (8/4/2026). Dalam kajian yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Sahabat Muslimah Muntilan (MT Salima) ini, dua pemateri utama hadir memberikan suntikan spritualitas mengenai kemenangan besar umat Islam tersebut.
Ustadz Salim A. Fillah mengawali materi dengan memaparkan latar belakang Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah. Ia menjelaskan, pada awalnya, Rasulullah Saw dan 313 sahabat hanya berniat menghadang kafilah dagang Abu Sufyan untuk mengambil kembali harta kaum Muslimin yang dirampas di Makkah.
"Allah menjanjikan salah satu dari dua golongan kepada kaum Muslimin, kafilah dagang atau pasukan perang. Secara manusiawi, kafilah dagang lebih diharapkan karena minim risiko, namun Allah menghendaki sesuatu yang lebih besar demi tegaknya kebenaran," jelas Ustadz Salim di hadapan jemaah yang menyimak dengan takzim.
Kesenjangan kekuatan fisik sangat kontras digambarkan dalam kajian tersebut. Pasukan Muslim yang hanya membawa 2 ekor kuda dan 70 unta harus berhadapan dengan 1.000 personel Quraisy yang bersenjata lengkap. Namun, kemenangan besar akhirnya diraih oleh kaum Muslimin berkat intervensi langit.
Lebih lanjut, Ustadz Salim menekankan, pertolongan Allah diturunkan melalui berbagai cara yang menenangkan hati. Seribu malaikat didatangkan secara berturut-turut untuk membantu peperangan, rasa kantuk diberikan sebagai penenang, hingga turunnya hujan yang menguatkan pijakan tanah bagi kaum Muslimin.
"Doa Rasulullah Saw yang sangat menghujam langit menjadi kunci. Beliau memohon hingga selendangnya terjatuh, menunjukkan bahwa saat kekuatan manusia telah mencapai batasnya, pertolongan Allah akan mengambil alih," tambahnya.
Melengkapi materi tersebut, Ustadz Hammad Rosyadi mengupas tema "Lebih Utama, Tapi Tak Disukai" yang dikaitkan dengan pilihan-pilihan sulit dalam hidup. Ia mengingatkan jemaah agar tidak menjadi golongan yang "bangkrut" di akhirat (Muflis).
"Seringkali kita lebih menyukai hal-hal duniawi yang tampak menguntungkan, padahal ada hal lain yang lebih utama di sisi Allah meski terasa berat dijalani," ungkap Ustadz Hammad.
Beliau mengutip hadis tentang orang bangkrut, yakni mereka yang datang membawa pahala salat dan puasa, namun pahala tersebut dihabiskan untuk membayar tuntutan orang-orang yang pernah dizaliminya semasa hidup. Sebagai penutup, kisah inspiratif Suhayb Ar-Rumi yang merelakan seluruh hartanya demi hijrah diangkat sebagai teladan nyata bahwa pengorbanan di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia.
Kajian ini berakhir menjelang waktu Zuhur dengan pesan kuat bagi para jemaah, bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh jumlah atau materi, melainkan oleh kedekatan hamba kepada Sang Pencipta.

0 Komentar