Uki Kautsar, Mantan Gitaris Band Noah Berbagi Kisah dengan Jemaah Salima di Muntilan

Dilihat 20 kali
Kegiatan Kajian Majelis Taklim Sahabat Muslimah Muntilan (MT Salima) kali ini menghadirkan Mohammad Kautsar Hikmat, atau yang akrab disapa Uki Kautsar, mantan Gitaris Band NOAH.

BERITAMAGELANG.ID - Suasana sejuk di Joglo Ngawen Dairy Farm, Muntilan, Kabupaten Magelang, mendadak berubah menjadi hangat dan penuh haru, Minggu (17/5/2026). Lebih dari 800 jemaah dari Kabupaten Magelang dan sekitarnya, tampak memadati pelataran hingga ke sudut-sudut joglo. Mereka hadir untuk satu tujuan, yaitu mencari oase di tengah dunia yang kian hari terasa kian berat.

Kegiatan Kajian Majelis Taklim Sahabat Muslimah Muntilan (MT Salima) kali ini menghadirkan sosok yang tak asing di dunia hiburan, Mohammad Kautsar Hikmat, atau yang akrab disapa Uki Kautsar. Mantan gitaris band NOAH ini hadir bukan untuk memetik dawai gitar, melainkan membagikan kisah tentang ketenangan yang ia temukan setelah melepaskan gemerlap panggung.

Mengenakan pakaian sederhana, Uki memulai cerita titik baliknya saat ia melaksanakan ibadah umrah bersama sang istri. Di sana, ia merasakan ketenangan luar biasa muncul justru di saat tidak ada musik maupun hiruk-pikuk popularitas yang selama ini mengepungnya.

"Saya menyadari bahwa agama bukan sekadar ritual shalat atau puasa, tapi ada lautan ilmu yang sangat luas yang selama ini belum saya sentuh," kenang Uki di hadapan jemaah yang menyimak dengan takzim.

Keberaniannya untuk berhenti total dari industri musik bukan tanpa alasan kuat. Uki mengaku mulai merasa tidak nyaman dengan praktik-praktik yang jauh dari nilai tauhid. Baginya, hidayah adalah panggilan yang tidak boleh diabaikan.

Senada dengan kisah Uki, Ustadz Hanan Yasir memberikan penguatan lewat perspektif nubuwwah. Beliau mengutip hadits Rasulullah saw tentang kekhawatiran beliau bukan pada kefakiran umatnya, melainkan pada dunia yang dibentangkan luas hingga membuat manusia berlomba-lomba mengejarnya dan akhirnya binasa.

"Kadang yang membuat manusia hancur bukan karena kekurangan materi, tapi ketika dunia sudah terlalu penuh mengisi hati," terang Ustadz Hanan.

Uki pun mengakui hal tersebut. Dulu, rasa amannya bersandar pada angka-angka di rekening dan kontrak yang jelas. Namun kini, setelah hijrah, ia belajar arti tawakal yang sesungguhnya, seperti burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.

Di sisi lain, Ustadz Abdur Rasyid membedah alasan mengapa banyak manusia merasa hidupnya sesak meski secara lahiriah berkecukupan. Mengutip Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, beliau menyebutkan penyebab utama kesempitan dada diantaranya yaitu berpaling dari Allah dan bergantung pada selain Allah.

"Ibu-ibu, pernah dikecewakan manusia? Itu karena kita berharap pada mereka. Manusia itu tempatnya mengecewakan, maka berharaplah hanya pada Allah," ujar Ustadz Abdur Rasyid yang disambut anggukan setuju para jemaah.

Bagi Uki, perjalanan hijrah bukanlah proses instan yang langsung membuat hidup terasa ringan. Ini adalah perjalanan memperbaiki akhlak, terutama kepada orang tua. Ia berpesan agar mereka yang sedang berproses tidak mendadak menjadi hakim bagi keluarga sendiri.

Kajian ditutup dengan sebuah pesan kuat bagi seluruh jemaah, bahwa di tengah dunia yang berat, jalan keluar bukanlah dengan berlari mengejar dunia lebih kencang, melainkan dengan pulang dan mendekat kepada Sang Pemilik Semesta.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, resmi melepas keberangkatan 188 jemaah calon Haji kloter 16 dari halaman Kantor Setda Kabupaten Magelang dalam suasana penuh haru dan doa, Senin (11/5). Selamat menunaikan ibadah haji bagi seluruh jemaah, semoga perjalanan ini membawa keberkahan dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur. #haji #hajimabrur #magelang ♬ original sound - kominfomagelang