Workshop Meramu Jamu, Upaya Lestarikan Budaya Leluhur

Dilihat 86 kali

BERITAMAGELANG.ID - Upaya pelestarian budaya bangsa kembali diwujudkan melalui kegiatan edukatif yang menyasar generasi muda. Workshop meramu jamu tradisional dan milenial digelar di Aula Kartini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Sabtu (16/5/2026), sebagai ruang belajar sekaligus eksplorasi warisan budaya luhur Indonesia.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi yang didanai melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Workshop ini tidak hanya menghadirkan praktik meracik jamu, tetapi juga memperkuat pemahaman peserta tentang nilai historis dan filosofis di balik budaya jamu sebagai penyangga kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Wisnu Argo Budiono menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, workshop ini menjadi wujud nyata pelestarian budaya bangsa, khususnya tradisi rempah dan jamu yang telah diwariskan secara turun-temurun.

"Jamu bukan sekadar minuman kesehatan, melainkan identitas budaya bangsa yang memiliki nilai historis, filosofis, dan manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat," ujar Wisnu. 

Ia menambahkan, Kabupaten Magelang memiliki potensi besar dalam pengembangan budaya jamu dan rempah, baik dari sisi sumber daya alam, tradisi masyarakat, hingga peluang pengembangan ekonomi kreatif daerah. Oleh karena itu, penguatan kearifan lokal melalui inovasi menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan budaya tersebut.

Dalam kesempatan itu, Wisnu juga berharap generasi muda yang hadir, khususnya para pelajar, mampu menjadi agen pelestari budaya jamu melalui pendekatan kreatif dan inovatif. 

"Jamu harus mampu beradaptasi dengan modernisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya," kata Wisnu. 

Penyelenggara workshop, sekaligus pemilik Jamu Deka, Dwi Kuntari mengatakan, kegiatan ini secara khusus menyasar generasi milenial dan Gen Z sebagai penerus budaya bangsa. Menurutnya, keberlanjutan jamu tidak terlepas dari peran generasi muda dalam menghidupkan kembali tradisi dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Jamu bagian dari warisan budaya Indonesia yang juga menjadi fokus kerja Balai Pelestarian Kebudayaan. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa jamu bisa hadir dalam bentuk yang lebih modern," ungkap Dwi.

Ia juga menjelaskan, dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan tidak hanya pada pelestarian nilai budaya, tetapi juga mencakup pembinaan pelaku UMKM jamu serta penguatan ekosistem budaya yang berkelanjutan. Antusiasme peserta pun terlihat tinggi, bahkan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah seperti Kendal, Temanggung, Semarang, hingga Yogyakarta.

Lebih lanjut ia menekankan, eksistensi jamu perlu terus dijaga, terlebih setelah pengakuan dunia melalui UNESCO. Pengakuan tersebut menjadi momentum penting untuk semakin memperkuat posisi jamu sebagai warisan budaya yang tidak hanya dikenal, tetapi juga dipelajari secara luas.

"Harapan kami, ke depan jamu tidak hanya dikenal sebagai tradisi, tetapi juga dapat masuk dalam kurikulum pendidikan, sehingga generasi muda memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya ini," tambahnya.

Melalui workshop ini, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pelestarian budaya jamu sekaligus mendorong inovasi yang berkelanjutan. Jamu pun tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat modern.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, resmi melepas keberangkatan 188 jemaah calon Haji kloter 16 dari halaman Kantor Setda Kabupaten Magelang dalam suasana penuh haru dan doa, Senin (11/5). Selamat menunaikan ibadah haji bagi seluruh jemaah, semoga perjalanan ini membawa keberkahan dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur. #haji #hajimabrur #magelang ♬ original sound - kominfomagelang