BPBD Kabupaten Magelang Gercep Atasi Dampak Kemarau

Dilihat 569 kali
Antusias warga Dusun Butuh Candirejo Kecamatan Borobudur saat mendapat bantuan air bersih dari BPBD Kabupaten Magelang pada musim kemarau 2023

BERITAMAGELANG.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang melakukan berbagai upaya dalam mencukupi kebutuhan air bersih selama musim kemarau tahun 2023.


Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Warsono mengatakan, hingga 2 November 2023 BPBD Kabupaten Magelang telah menyalurkan 1.450.000 liter air bersih ke sejumlah pemukiman warga terdampak kekeringan. 


Distribusi bantuan air bersih menyentuh 17.239 jiwa dari 5.095 kepala keluarga yang tersebar di 44 desa di 13 kecamatan yakni Ngluwar, Bandongan, Candimulyo, Secang, Ngablak, Grabag, Sawangan, Mertoyudan, Tempuran, Salaman, Pakis, Tegarejo dan Borobudur.


"Untuk dropping air bersih terus kita lakukan untuk semua titik yang kita nilai rawan kekeringan. Itu rutin mendapat bantuan air bersih," kata Edi di kantornya, Jumat (3/11/2023).


Menurutnya, kondisi terik saat ini merupakan dampak fenomena El Nino yang memicu sebagian wilayah Kabupaten Magelang dilanda krisis air dan kekeringan. Sebagai perbandingan, pada awal kemarau kisaran Juli - Agustus hanya 4 kecamatan yang dilanda kekeringan, namun saat ini meningkat signifikan hingga 14 kecamatan.


BPBD Kabupaten Magelang juga masih mengandalkan dua unit mobil tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Adapun dalam realisasi distribusi air bersih selama ini pihaknya menggandeng berbagai lembaga organisasi, komunitas relawan dan CSR.


Sedangkan pasokan air bersih, lanjut Edi, diambil dari sumber air Tuk Mudal di Desa Ngrajeg. Karena selain debit air stabil dan bersih, lokasi Tuk Mudal juga mudah diakses oleh armada tangki BPBD.


“Di Ngrajeg kini tersedia sarana pengambilan khusus yang dibangun oleh warga setempat. Itu sangat memudahkan kita," ungkap Edi.


Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang, Cahyono Dwikartikaputra (Yoyok) mengatakan, geografis desa terdampak kekeringan diantaranya adalah desa-desa di perbukitan Menoreh dan lereng gunung dengan akses menanjak. Dalam satu hari, dua armada tangki BPBD dituntut melayani minimal enam trip pengiriman air ke dusun atau desa terdampak kekeringan.


Menurut Yoyok, penyebab kekeringan di Kabupaten Magelang kebanyakan desa yang terdampak itu sumber air berasal dari sumur yang sampai saat ini sudah kering dan masyarakat juga belum bisa menemukan alternatif lain untuk sumber mata air baru.


Dari 14 kecamatan itu berdasar pantauan terparah adalah di Kecamatan Pakis dan Tegalrejo. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Borobudur cenderung stagnan dengan jumlah dan lokasi desa terdampak kekeringan masih sama setiap musim kemarau.


Sementara saat ini beberapa wilayah di Borobudur dan Salaman sudah terdapat jaringan air dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Sedangkan sejumlah desa di Kecamatan Pakis dan Tegalrejo merupakan data baru yang pada tahun sebelumnya tidak terlalu signifikan seperti saat ini.


“Alhamdulillah kalau Borobudur itu minim penambahan (desa terdampak kekeringan) tapi kalau Pakis dan Tegalrejo menambah terus tanpa kita duga-duga," ungkapnya.


Ditambahkan Yoyok, dengan kondisi saat ini BPBD Kabupaten Magelang menghadapi kendala yakni kurangnya armada truk yang dimiliki. Karena selain melayani distribusi air bersih, keberadaan dua armada tangki air dan personil BPBD juga turut membantu penanganan kebaran hutan dan lahan (karhutla) setiap saat.


Dalam distribusi, lanjut Yoyok, BPBD Kabupaten Magelang sangat berterima kasih atas bantuan dari teman-teman relawan yang ada di Kabupaten Magelang yang bisa mem-back up wilayah yang belum tersentuh oleh BPBD Kabupaten Magelang.


"Namun demikian, kami berusaha agar semua wilayah yang terdampak kekeringan bisa kami penuhi untuk kebutuhan air bersih," imbuhnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar