BERITAMAGELANG.ID - Prosesi detik-detik Waisak 2556 BE/2022 yang jatuh pada hari Senin, (16/5) pukul 13.46.13, tidak menjadi penghalang bagi PT. Taman Wisata Candi Borobudur untuk tetap melayani wisatawan. Hanya saja, wisatawan tidak diperbolehkan sampai halaman Kenari atau sisi barat candi, yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatann Waisak.
"Wisatawan tidak diperbolehkan sampai halaman Kenari yang digunakan sebagai tempat prosesi acara Waisak," terang General Manager PT TWCB, Aryono Hendro Malyanto, Jumat, (13/5/2022).
Aryono menjelaskan, saat prosesi Waisak, wisatawan yang datang hanya diperbolehkan menikmati kemegahan candi Borobudur hingga pelataran saja.
Disebutkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan panitia Waisak dari Walubi, dan diizinkan buka untuk melayani pengunjung saat prosesi Waisak.
Diluar kegiatan Waisak, pengunjung bisa mengitari keseluruhan pelataran candi Borobudur. Namun khusus untuk kegiatan Waisak, pengunjung diarahkan keluar lewat pintu barat candi.
Agar pengunjung tidak bingung, maka sejumlah petugas di tempatkan untuk mengarahkan para wisatawan, melalui jalur pintu keluar. Dengan demikian, umat Budha yang sedang mengikuti rangkaian acara Waisak tidak merasa terganggu dan menjalaninya dengan tenang.
Dikatakan, hingga saat ini, wisatawan yang datang belum diperbolehkan naik candi peninggalan wangsa Syailandra abad 8 ini. Sejak pandemi Covid-19 dua tahun silam, pihak Balai Konservasi Borobudur masih menutup dan belum membukanya hingga saat ini.
Usai detik Waisak, pada malam harinya dilaksanakan Dharmasanti yang digelar di zona II taman Lumbini. Pada saat itu, akan dilangsungkan penerbangan lampion yang merupakan acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh umat Budha dan masyarakat pada umumnya.
Aryono menerangkan, penerbangan lampion ramah lingkungan ini dibagi dalam dua sesi. Yakni, pukul 18.00 WIB dan pukul 20.00 WIB.
@kominfomagelang Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (31/05/2026), dipenuhi harmoni budaya dan spiritualitas. Sebanyak 25 balon udara berwarna-warni menghiasi langit. Festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan pariwisata. Festival ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para duta besar, serta perwakilan Dirjen Bimas Buddha, menunjukkan daya tariknya yang semakin luas.
♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar