BERITAMAGELANG.ID - Ribuan bibit kopi diserahkan kepada masyarakat di kawasan Borobudur sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan berbasis agroforestry, Senin(6/4/2026). Bibit kopi diserahkan melalu Padepokan Diponegaran dan Agroforestry Kopi Lestari.
Perwakilan Yayasan Move Nusantara, Dewi Madayanti menjelaskan, bibit yang dibagikan berasal dari sejumlah kawasan pegunungan yang memiliki nilai historis dan simbolis.
"Sebanyak 1.025 bibit kopi robusta berasal dari Gunung Welirang, dan 3.150 bibit Arabika dari Gunung Semeru. Kami berharap tanah dan bibit dari gunung-gunung ini dapat disatukan di Borobudur sebagai simbol persatuan Nusantara," ujarnya, di sela penyerahan di Padepokan Diponegaran, di Desa Wringin Putih Kecamatan Borobudur.
Menurutnya, program ini tidak hanya bertujuan memberikan dampak ekonomi, tetapi juga membawa nilai keberlanjutan lingkungan dan harmoni sosial.
Sementara itu, perwakilan Padepokan Diponegaran, KRT Dipoyudo Raharjo Wibowo, menyampaikan, bibit kopi tersebut akan disalurkan kepada petani milenial di kawasan Borobudur, termasuk di Desa Ngadiharjo, lereng Perbukitan Menoreh.
"Bibit ini akan kami bagikan kepada masyarakat agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik. Dari hasil kopi, diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan, seperti menyekolahkan anak, membangun rumah, hingga menciptakan usaha," jelasnya.
Ia menambahkan, hasil panen kopi nantinya tidak hanya dijual dalam bentuk kopi asli, tetapi juga akan dikembangkan menjadi produk turunan seperti wine kopi.
Dipilihnya komoditas kopi bukan tanpa alasan. Menurutnya, tanaman kopi memiliki daya tahan tinggi dan dapat produktif dalam jangka panjang.
"Kalau kopi cukup dirawat, tidak perlu sering menanam ulang. Ini investasi jangka panjang untuk generasi berikutnya," imbuhnya.
Program ini juga menyasar masyarakat sekitar Borobudur, dengan rencana distribusi tambahan sekitar 300 hingga 400 bibit bagi warga setempat.
Di sisi lain, Founder Agroforestry Kopi Lestari, Shalahuddin menjelaskan, program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif pengembangan lahan tidak produktif di kawasan Menoreh sejak dua tahun terakhir.
"Kami menemukan banyak lahan yang belum produktif, dan kopi menjadi solusi karena memiliki nilai ekonomi yang jelas dan diminati masyarakat," ungkapnya.
Ia menyebut, sebelumnya pihaknya telah menanam ribuan bibit kopi di berbagai wilayah, termasuk kawasan lereng Sumbing. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk BUMN dan pengelola kawasan wisata Borobudur.
"Ke depan, kawasan Menoreh hingga Sumbing akan kami kembangkan menjadi kawasan agroforestry kopi terpadu," katanya.
Selain aspek ekonomi dan lingkungan, program ini juga diyakini memiliki nilai spiritual bagi sebagian masyarakat. Penanaman kopi yang berasal dari berbagai gunung dianggap sebagai simbol penyatuan energi dan harmoni di kawasan Borobudur.
Meski demikian, Shalahuddin menekankan, pendampingan kepada petani menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
"Kalau hanya dibagikan tanpa pendampingan, biasanya tidak bertahan lama. Karena itu, kami lakukan pembinaan secara berkala," jelasnya.
Ia berharap program ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat luas, baik bagi masyarakat maupun kelestarian kawasan Borobudur sebagai salah satu kawasan strategis nasional.

0 Komentar