BERITAMAGELANG.ID - Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, memicu terjadinya tanah longsor pada Kamis (15/1) sekitar pukul 18.00 WIB. Kondisi tersebut menyebabkan tanah longsor dan pergerakan tanah di sejumlah titik yang berdekatan dengan permukiman warga dan infrastruktur desa.
Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Magelang, kejadian tanah longsor di Dusun Tanjung merupakan kejadian yang dipicu hujan lebat berkepanjangan. Longsor dilaporkan pertama kali terjadi pada Senin (12/1) sekitar pukul 16.15 WIB di wilayah Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur. Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan tebing di sekitar permukiman warga menjadi labil. Longsor tersebut mengakibatkan satu rumah warga terancam serta menutup akses jalan penghubung Desa Ngadiharjo dengan Desa Giripurno akibat material longsoran.
Cuaca ekstrem yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir tersebut menyebabkan terjadinya longsor pada tebing setinggi sekitar delapan meter dengan lebar kurang lebih enam meter. Material longsoran menutup akses jalan lingkungan serta mengenai tembok rumah dan mengancam bangunan milik Sriwoto, warga Dusun Tanjung, yang dihuni satu kepala keluarga dengan empat jiwa. Mengingat kondisi tanah masih bergerak dan berpotensi terjadi longsor susulan, Sriwoto beserta keluarganya sementara waktu mengungsi ke rumah tetangga terdekat.
Seiring dengan meningkatnya curah hujan dan kondisi tanah yang masih jenuh air, sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang terpasang di Dusun Tanjung kemudian aktif dan berbunyi pada dini hari. Bunyi EWS terdengar oleh warga dan menjadi penanda adanya potensi ancaman longsor susulan, sehingga langkah kesiapsiagaan segera dilakukan oleh pemerintah desa bersama BPBD Kabupaten Magelang.
Sekretaris Desa Ngadiharjo, Haidar Imama menjelaskan, pada awalnya rencana evakuasi hanya difokuskan pada sejumlah rumah yang telah terdampak longsor. Namun setelah EWS berbunyi dan dilakukan asesmen lapangan, cakupan wilayah berpotensi terdampak dinilai lebih luas.
"Awalnya kami menerima laporan ada tujuh rumah yang terdampak longsor dan akan dilakukan evakuasi. Namun saat proses berjalan, EWS berbunyi. Setelah BPBD melakukan asesmen, ternyata jumlah warga yang perlu dievakuasi bertambah," ujar Haidar.
Ia menegaskan, langkah tersebut merupakan evakuasi sementara sebagai upaya mitigasi awal. Warga dipindahkan ke tempat yang lebih aman untuk menghindari risiko apabila terjadi longsor lanjutan.
Proses evakuasi mulai dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB dini hari dengan melibatkan BPBD Kabupaten Magelang, relawan, Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB), unsur SAR, serta pemerintah desa. Warga dievakuasi menuju Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Ngadiharjo sebagai lokasi aman sementara.
Seiring proses pendataan, jumlah warga yang dievakuasi terus diperbarui. Hingga Kamis pagi, tercatat sebanyak 154 jiwa telah dievakuasi ke Balkondes Ngadiharjo dan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah sesuai hasil pemantauan di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono menyampaikan, aktivasi EWS merupakan bagian dari sistem kesiapsiagaan bencana untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.
"Ketika hujan dengan intensitas lebat, alat akan berbunyi. Itu menjadi indikasi adanya potensi terjadinya tanah longsor di beberapa titik," kata Edi Wasono.
Ia menambahkan, langkah utama yang dilakukan BPBD adalah penyelamatan warga melalui pergeseran sementara ke lokasi aman. Warga akan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi dinyatakan aman dan potensi ancaman menurun.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Magelang dalam dua hari tersebut tercatat 19 kejadian bencana yang tersebar di 19 dusun, 9 desa, dan 2 kecamatan (Borobudur & Salaman). Sebagian besar (18 kejadian) merupakan tanah longsor yang dipicu cuaca ekstrem. Dampak signifikan yang tercatat 13 rumah mengalami kerusakan dengan rincian 11 rusak ringan dan 2 rumah rusak berat. Selain itu Puluhan rumah terancam, termasuk 6 rumah di Gedangsambu dan 2 dusun di Derepan. Akses jalan di beberapa lokasi terputus, salah satunya membutuhkan alat berat untuk penanganan.
Hingga saat ini, kejadian tanah longsor di Dusun Tanjung masih dalam penanganan. BPBD Kabupaten Magelang terus melakukan pemantauan, asesmen lanjutan, serta koordinasi dengan pemerintah desa dan unsur terkait, sembari mengimbau warga untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan longsor susulan.
0 Komentar