BERITAMAGELANG.ID - Kolaborasi bantuan air bersih sebanyak 51.000 liter menyentuh warga di tiga desa, yakni Wonolelo, Jati, dan Banyuroto, Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, Selasa (29/9/2026).
Krisis air bersih di ketiga wilayah tersebut terjadi setelah mata air yang selama ini menjadi tumpuan perlahan mengecil, bahkan tak lagi mengalir setiap hari.
Bantuan berupa 51 tangki atau toren air tersebut diakomodir oleh Polsek Sawangan bersama Persatuan Purnawirawan Polri (PP Polri) Ranting Muntilan dan sejumlah donatur.
Kapolsek Sawangan, AKP Abdul Muthohir mengatakan, penyaluran air dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang mulai terdampak kekeringan.
"Ini kegiatan kepedulian kami terhadap masyarakat dan kemanusiaan. Warga mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, kami memberikan bantuan air bersih," jelasnya.
Menurutnya, bantuan tidak berhenti pada penyaluran kali ini. Jika kebutuhan warga masih tinggi, pihaknya akan kembali mengupayakan bantuan air bersih.
"Apabila warga masih membutuhkan, akan kami rencanakan kembali untuk memberikan bantuan," ujarnya.
Penasehat PP Polri Ranting Muntilan, S. Budiono menyampaikan, 51 tangki air tersebut dihimpun dari sejumlah pihak. Rinciannya, 16 tangki dari PP Polri Ranting Muntilan, 17 tangki dari Jogja Darjun Club, 10 tangki dari donatur perorangan asal Wonosobo, serta delapan tangki dari Diara Coffee and Kitchen Kadirojo Muntilan.
Camat Sawangan, Agus Triwijoko mengatakan, tiga desa tersebut menjadi sasaran awal karena kebutuhan air sudah mendesak. Setidaknya masih ada sekitar 15 desa lain yang berpotensi mengalami persoalan serupa.
Ia menambahkan, di wilayah atas, hal ini memang menjadi persoalan utama karena air merupakan kebutuhan dasar, untuk minum maupun mandi.
Pihak kecamatan pun telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Magelang untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan.
Kepala Desa Wonolelo, Marpomo mengungkapkan, sebulan terakhir sedikitnya 350 kepala keluarga di Dusun Bentroan, Denoan, dan Ngagrom Batur harus mencari air ke tempat lain.
Bagi warga, bantuan tersebut bukan sekadar bantuan biasa karena bisa menjadi cadangan untuk bertahan ketika sumber mata air tak lagi bisa diandalkan.
Sebelumnya, warga mengandalkan sumber air dari Sungai Iboa dan wilayah Desa Banyuroto. Namun, kemarau membuat sumber tersebut tak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga seperti biasanya.
Kondisi serupa dirasakan warga Dusun Babadan, Desa Jati.
Kepala Dusun Babadan, Ngatimin mengatakan, sekitar 42 kepala keluarga atau 125 jiwa telah mengalami kesulitan air selama sebulan terakhir.
"Mata air Wulung Gunung yang biasanya menjadi andalan warga kini debitnya sangat kecil. Air yang keluar pun harus dibagi agar seluruh warga mendapat bagian," ungkapnya.
Surati (36), warga Dusun Babadan mengatakan, kebutuhan air digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Selama ini keluarganya mengandalkan mata air, tetapi kini alirannya kerap terhenti.
"Biasanya kami menggunakan mata air, tapi sekarang sering mati. Jadi mengandalkan bantuan dari relawan," kata dia.
@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar