Cinta Produk Jamu Tradisional

Dilihat 1595 kali
Delegasi Menteri Kebudayaan negara-negara anggota G20 menikmati jamu tradisional di Balkondes Ngargogondo Borobudur dalam Sarasehan Culture for Sustainable Living pada 11 September 2022.

Di tengah gegap gempitanya era digitalisasi, sampai saat ini kehidupan budaya tradisional masih tetap berlangsung. Fenomena itu menandakan, budaya yang berada di tengah-tengah komunitas apabila sudah diyakini dan terpatri kuat akan terus mengakar, walau dinamika zaman datang silih berganti.


Sebagaimana diketahui, sampai saat ini penjual jamu gendong masih tetap manjajakan barang dagangannya. Baik itu di pusat keramaian kota, maupun di sudut-sudut desa. Bagi komunitas kota, jamu tradisional tetap mendapat tempat tersendiri. Di samping eksistensinya sudah turun temurun, komunitas kota masih meyakini, bahwa dengan mengonsumsi jamu akan dapat memperkuat imunitas dan kesehatan raganya. Bagi komunitas di desa-desa, jamu tradisional memang sudah menjadi minuman keseharian sebagai pengganti obat.


Dari sekian banyak jamu tradisional yang dikenal masyarakat, jamu gendong menjadi salah satu jenis jamu yang digemari dan menjadi salah satu produk yang menjadi branding. Jamu gendong adalah jamu hasil produksi rumahan (home industry) yang sudah berlangsung turun temurun. Jamu ini dipasarkan dengan cara memasukkannya ke dalam botol-botol. Kemudian, botol-botol ini disusun di dalam bakul. Selanjutnya, penjual jamu akan menggendong bakul tersebut ketika berjualan. Mulai dari tengah-tengah kota sampai pelosok-pelosok desa, yang sampai saat ini sering mendapat sebutan sebagai jamu gendong.

 

Ciri Khas


Hal yang membuat menarik dari jamu gendong adalah cara membawa barang dagangannya, yaitu digendong menggunakan kain batik, jarik, dan sebagainya. Ini adalah ciri khas perempuan Jawa dari dahulu, bahkan sampai saat ini. Para penjual jamu masih mempunyai prinsip untuk terus mengenakan baju khas perempuan Jawa, sebagai wujud dari kecintaan dan komitmennya untuk terus membumikan nilai kultural yang mereka yakini.


Sampai saat ini, jamu gendong banyak digemari masyarakat karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Selain itu, beberapa jenis jamu gendong juga memiliki rasa yang manis, segar, dan hangat di tenggorokan. Cita rasa yang segar dan khas ini membuat banyak orang gemar meminum jamu.


Jamu gendong dibuat dari bahan-bahan alami. Untuk memberikan rasa manis pada jamu gendong, digunakan gula asli, baik gula merah, gula pasir, maupun gula batu. Penggunaan gula asli ini merupakan suatu keharusan. Para pembeli pada umumnya dapat merasakan gula yang dipakai tersebut gula asli atau tidak. Citarasa yang sudah menjadi pembiasaan karena sudah sering membeli sangat terasa di lidah.


Jamu diyakini sampai saat ini berasal dari dua kata Jawa Kuno, jampi yang bermakna penyembuhan dan Oesodo yang bermakna kesehatan. Istilah jamu diperkenalkan ke publik lewat orang-orang yang dipercaya punya ilmu pengobatan tradisional. Khasiat jamu telah teruji oleh waktu secara turun-temurun sebagai obat tradisional.


Warisan nenek moyang ini tetap tetap dijaga sampai kapan pun. Istilah jampi banyak ditemukan pada naskah kuno, seperti pada naskah Gatotkacasraya. Naskah ini ditulis oleh Mpu Panuluh, pujangga pada zaman keemasan Kerajaan Kediri, pada masa pemerintahan Raja Jayabaya. 


Dari berbagai catatan sejarah diketahui bahwa awalnya budaya meracik jamu hanya dikenal di kalangan istana. Jamu diracik untuk para raja, permaisuri, pangeran, para putri keraton, serta para bangsawan lainnya. Keluarga kerajaan menggunakan jamu untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan kecantikan.


Dahulu, jamu hanya dibuat oleh orang-orang yang dianggap mempunyai kekuatan spiritual, seperti wiku atau dukun. Penjualan jamu dengan cara digendong diperkirakan telah dimulai pada masa Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, praktik-praktik pengobatan banyak dilakukan oleh wiku. Para wiku ini umumnya melakukan pengobatan menggunakan ramuan (jamu) dan doa-doa.


Para wiku sering kali mengirimkan jamu racikannya kepada orang-orang yang membutuhkan atau berdasarkan pesanan. Jamu dikirimkan melalui para laki-laki yang menjadi utusan. Seiring berjalannya waktu, permintaan terhadap jamu terus meningkat sehingga pengirimannya ke berbagai tempat pun dilakukan dengan teratur. Hingga  akhirnya, penjualan jamu ke desa-desa terus berkembang.


Lambat laun, pekerjaan ini banyak dijalani oleh kaum perempuan. Hal ini karena tenaga laki-laki lebih diperlukan untuk usaha pertanian. Selain itu, keluwesan dan keramahan kaum perempuan juga dirasakan lebih sesuai untuk pekerjaan menjajakan jamu. Kondisi ini terus berlanjut hingga di era modern sekarang ini (Sukini, 2018).


Bangga Produk Lokal


Bila ditelisik lebih jauh ternyata jamu tradisional sebagai minuman kesehatan sudah eksis sejak puluhan abad silam. Oleh karena itu, kiranya sangat bijaksana dan arif kalau semua elemen dalam masyarakat juga ikut mengonsumsi jamu tersebut. Di samping dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi pembuatnya, juga sebagai wujud bangga pada produk lokal.


Jamu tradisional agar tetap eksis dan berkembang kiranya perlau dikemas dengan cara kekinian dan dipasarkan dengan mengikuti perkembangan teknologi. Untuk itu, diperlukan penguatan kelompok usaha jamu yang bersinergi dengan beberapa pihak untuk membuat jejaring agar jamu tradisional dapat dipasarkan menembus pasar global, salah satunya dengan memasukkan produk jamu ke dalam e-katalog lokal.


Dengan demikian, kiranya semua pihak perlu mendukung agar produk lokal jamu tradisional tersebut dapat mendunia. Sebagai warisan budaya, jamu tradisional dapat menjadi oase parameter kebudayaan untuk kehidupan berkelanjutan yang sangat dirindukan semua pihak.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar