Dinamika Kebudayaan dalam Kehidupan Masyarakat

Dilihat 9464 kali
Dalam dinamika perjalanan waktu kebudayaan senantiasa berkembang selaras dengan kehidupan komunitasnya. Lukisan Mural bertemakan relief Candi Borobudur karya kreatif KSBI Borobudur dengan berbagai detail inovasinya.

Dalam proses perjalanan waktu yang senantiasa bergulir, manusia dan kebudayaan merupakan dua aspek yang saling berkelindan. Masyarakat dan kebudayaan sebagaimana dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang. Implikasinya, bahwa manusia merupakan sosok berwujud, sementara kebudayaan di samping juga memiliki wujud kebendaan, tetapi hakikatnya adalah sebuah proses kehidupan yang terus menerus menyertai kehidupan manusia.

Manusia dalam hidup kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena manusia adalah pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri. Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan kadangkala disadari atau tidak manusia telah masuk dalam pola normatif kebudayaan tersebut.

Bila dirunut dari kajian historis, kebudayaan lahir juga karena proses kehidupan manusia tersebut. Sebagai proses kehidupan, maka manusia dan kebudayaan senantiasa mengalami perubahan. Oleh karena itu, dalam pembicaraan yang berlangsung di ranah publik sering dikatakan bahwa perubahan merupakan pertanda kehidupan (Sumaryono, 2016).


Dinamika kehidupan

Tanda-tanda kehidupan tersebut menandai suatu wujud dinamika kehidupan kebudayaan yang terefleksi dalam kehidupan komunitasnya. Dalam disiplin ilmu antropologi dikenal konsep-konsep yang terkait dengan dinamika kehidupan masyarakat dan kebudayaan. Konsep-konsep tersebut menekankan pada berbagai aspek.

Pertama internalisasi. Aspek internalisasi ini merupakan suatu proses elaborasi emosi individu, hasrat, perasaan, dan kepribadian yang dipengaruhi oleh sosio-budaya lingkungannya. Dimulai sejak manusia lahir di tengah lingkungan kebudayaannya. Proses ini mendasari pembentukan identitas budaya yang pada gilirannya dapat menjadi salah satu sikap kepribadiannya secara alami.

Sebagai contoh, anak-anak Bali dapat menari, bukan karena orang tuanya berasal dari etnis Bali, tetapi mereka belajar dengan lingkungan sosial kehidupannya. Keterampilan menari dengan segala ekspresinya diperoleh bukan karena keturunan darah, akan tetapi karena belajar pada lingkungan sosialnya.

Kedua, sosialisasi. Aspek ini menekankan pada belajar kebudayaan dalam suatu proses yang berkorelasi erat dengan sistem dan pranata sosial. Implikasinya adalah tiap-tiap individu yang dengan kesadarannya ingin mempelajari suatu kebudayaan dengan terjun langsung dalam sistem sosialnya. Bahkan menjadi anggota lembaga kebudayaan komunitas tersebut. Pada aspek ini, banyak dilakukan oleh para peneliti kebudayaan yang langsung terjun dan masuk dalam sistem sosial komunitas yang menjadi objek penelitiannya. Termasuk seniman yang akan belajar berbagai kelompok seni dengan cara berguru atau nyantrik pada kelompok lain, guna menambah wawasannya. 

Ketiga, enkulturasi. Aspek ini merupakan proses pembelajaran kebudayaan secara individual untuk masuk ke dalam kelembagaan kebudayaan yang ada. Pada proses ini lebih merupakan pembudayaan dengan jalan lintas budaya. Aktualisasinya dilakukan dengan jalan masuk ke dalam kebudayaannya. Misalnya, sekarang ini banyak para seniman yang belajar berbagai format seni dari daerah lain untuk mengembangkan seni di daerahnya. Seniman kriya Kabupaten Magelang banyak belajar dari Bali untuk memperkaya produk di daerahnya, yang banyak diikuti oleh para seniman lainnya belajar ke daerah lain untuk menambah wawasan pengetahuannya.

Mencermati konsep-konsep dinamika kebudayaan tersebut dapat ditengarai bahwa, satu sama lain dapat menjadi bagian integral dan sinergis yang tidak dapat dipisahkan. Sampai saat ini konsep-konsep tersebut senantiasa aktual dan terbukti diimplementasikan pelaku budaya di masing-masing daerah.

 

Perkembangan kebudayaan

Kebudayaan akan senantiasa berkembang seiring dengan tingkat kemajuan peradaban manusia, baik secara individual atau kelompok. Sedangkan proses perkembangan hakikatnya adalah terjadinya perubahan sesuai dengan tingkatan dan kondisi sosial yang memengaruhinya.

Demikian pula kebudayaan dengan segala unsur-unsurnya, dari kebudayaan yang sederhana menuju perubahan yang kompleks. Terjadinya perkembangan dan perubahan kebudayaan tersebut disebabkan oleh beberapa proses. Di antaranya proses tertinggi yang dikenal dengan inovasi. Dalam proses inovasi ini ditandai dengan munculnya teknologi baru atau digitalisasi.

Di dalam tataran kesenian, hal ini telah dibuktikan dengan elaborasi seni modern di Indonesia. Karya-karya seni pertunjukan, seni rupa, atau media rekam telah merambah dunia digitilasasi yang memungkinkan publik menyaksikan lewat media online dengan daya jangkau luas bagaikan menembus batasan ruang dan waktu.

Dengan demikian, dalam dinamika perjalanan waktu kebudayaan akan senantiasa berkelanjutan, karena sifat simbolis kebudayaan memungkinkannya dapat dengan mudah diteruskan dari seorang individu ke individu lain dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akumulatif dalam artian unsur-unsur baru terus menerus ditambahkan kepada kebudayaan yang ada. Kebudayaan bersifat progresif dalam arti mencapai kontrol yang semakin meningkat terhadap alam dan semakin menjamin kehidupan yang semakin baik bagi manusia.

Adapun yang perlu diingat, walau perubahan kebudayaan itu senantiasa ada, namun jati diri kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap konsisten. Kepesatan perubahan kebudayaan tersebut bila akan diterapkan dalam kehidupan perlu difilter dan disesuaikan dengan pola normatif sesuai dengan kultur yang ada dalam komunitas tersebut. 


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar