Masih terbayang di ingatan penulis peristiwa menarik puluhan tahun lalu sebagai wartawan. Di sela-sela kegiatan mengajar, sore harinya kalau ada peristiwa kebudayaan harus melakukan liputan sampai peristiwa atau pertunjukannya selesai. Pasca menyaksikan pertunjukan dan wawancara dengan narasumber, di rumah harus segera mengetik sekalian membuka banyak referensi, karena harus membuat tulisan feature dengan kajian mendalam.
Maksimal dua hari hasilnya ditunggu di redaksi. Bila belum sampai dipastikan akan ditegur redakturnya. Dinamika yang datang silih berganti tersebut penulis nikmati dengan mengalir saja. Hikmah yang dapat dipetik dari pengalaman tersebut yaitu paling tidak dapat memberikan kontribusi gagasan kepada publik terlepas dari kelebihan maupun kekurangaannya.
Ilustrasi di atas menandakan pers dengan awak-awak media di dalamnya merupakan garda depan dalam memberikan pencerahan kepada publik. Tiap tanggal 9 Februari bangsa Indonesia memeringati Hari Pers Nasional (HPN). Momentum historis ketika koran Pikiran Rakyat pertama kali terbit di Bandung yang tidak hanya berperan sebagai pendukung kemerdekaan, namun juga berperan aktif sebagai media pejuang demokrasi.
Peringatan HPN 2026 mengusung tema yang sangat signifikan, yaitu Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Tema tersebut menegaskan peran penting dan strategis pers dalam memperkuat bangunan demokrasi dan kedaulatan bangsa di tengah tantangan disrupsi digital serta dinamika geopolitik global yang tidak terbendungkan pada saat ini.
Ekspektasinya, pers konsisten menjadi pilar informasi yang kredibel dan memiliki akuntabilitas bagi masyarakat. Selain itu, semua insan pers diharapkan senantiasa terus memperkuat perannya sebagai pilar demokrasi yang tak tergoyahkan. Pers yang sehat diyakini akan mampu memberikan kontibusi faktual dalam memperkuat ketangguhan sekaligus membangun bangsa yang kuat dan memiliki kemampuan daya saing (https://rri.co.id).
Denyut Nadi Pers
Perlu disadari bahwa kontinuitas media baik arus utama maupun online, sangat bergantung dari para awak medianya termasuk wartawan. Kapabilitas wartawan sebagai denyut nadi pers merupakan harta yang tak ternilai harganya. Membanjirnya teknologi yang tak terbendung dahsyat dengan berbagai informasi yang berseliweran dalam pusaran digital, menjadikan para wartawan harus konsisten dengan ketangguhannya dengan melandaskan diri pada idealisme mapun kode etik jurnalistik sebagai dasar untuk melandasi kinerjanya.
Tanggung jawab profesi yang diemban para wartawan tersebut menuntut kesadaran tinggi dari masing-masing pribadinya yang dikenal dengan self perception. Kesadaran tinggi tersebut dapat dicapai apabila memiliki kecapakapan dan keterampilan jurnalistik yang memadai sebagai pedoman menjalankan profesinya.
Pada dasarnya, wartawan itu tak ubahnya sebagai juru narator yang berbicara tentang kehidupan. Mereka berhadapan dengan unsur-unsur dasar yang penting bagi kehidupan komunitas. Wartawan memberikan kotribusi informasi dan pencerahan yang dibutuhkan masyarakat. Di sini relasi mutual dapat terbangun sinergis sehingga tercipta keharmonisan.
Selain itu, wartawan mempunyai tugas memberikan warta atau informasi kepada pembacanya terkait dengan segala sesuatu yang terjadi di berbagai sektor, baik itu lembaga bisnis, institusi sosial, pemerintah, dan lembaga-lembaga lainnya. Pesan tersebut dapat merajut ikatan emosional yang pada gilirannya dapat menyatukan masyarakat (Hikmat Kusumaningrat & Purnama Kusumaningrat, 2005).
Untuk itu kiranya perlu dilakukan pendekatan multidimensional guna menyikapi problematika tersebut. Di antaranya perlunya penguatan etika jurnalistik maupun profesionalisme merupakan keharusan yang sangat prinsip. Verifikasi, keberimbangan, dan independensi tetap menjadi fondasi kerja jurnalistik, bahkan ketika teknologi terus berubah.
Di samping itu, literasi di masyarakat perlu mendapat perhatian dengan sistematis juga terukur. Pada saat ini publik perlu untuk lebih dicerdaskan dalam memilih dan memilah informasi yang kredibel atau hanya manipulasi, dengan ekspetasi tidak terjebak dalam pusaran hoaks. Selebihnya peran negara juga perlu hadir melalui regulasi yang adil, representatif, dan adaptif. Regulasi tersebut pada prinsipnya untuk memastikan ekosistem informasi yang sehat dan berkeadilan, termasuk dalam relasi antara media dan platform digital.
Nilai Humanisme
Jacob Oetama pendiri harian Kompas pernah menegaskan, pers akan bisa langgeng dan berkelanjutan apabila selalu mengedepankan nilai-nilai humanisme (kemanusiaan) baik dalam pola pikir maupun pola tindakannya. Humanisme yang dibela bukan sembarang kemanusiaan melainkan kemanusiaan yang ditandai perhatian kepada kaum papa atau bisa disebut kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (Aloys Budi Purnomo, 2020).
Membicarakan humanisme tidak akan lepas dari perspektif sosial dengan segala dinamikanya secara holistik. Pada dasarnya humanisme selalu akan berkelindan erat dengan solidaritas terhadap sesama dan semesta. Sinergitas humanisme sosial dan kultur anamensis (kepekaaan sosial) akan melahirkan cita-cita dan pengharapan untuk membela masyarakat yang tertindas, menderita, dan dilupakan.
Membela nilai-nilai kemanusiaan dengan spirit humanisme yang demikian akan memantik setiap orang selalu terbuka mencari inspirasi baru dan tidak terjebak pada sikap materialistis. Sikap materialistis yang lebih dikenal dengan borjuis ini akan mereduksi cita-cita humanisme untuk membela nilai kemanusiaan yang hakiki. Tentu saja sikap ini mampu menggoda siapa saja, termasuk masyarakat pers, sehingga kehilangan aura mewartakan kebenaran, kebaikan, dan keadilan yang menjadi idealismenya.
Untuk itu tantangan membela kemanusiaan melalui karya jurnalisme semakin besar pada era global yang ditandai teknologi digital. Tak berlebihan bahwa kiat untuk menjaga marwah kemanusiaan yang terkandung dalam karya jurnalisme dapat menginspirasi siapa saja yang memiliki komitmen membangun nilai-nilai kehidupan manusia melalui media massa, apapun itu bentuknya.
Kiranya fenomena tersebut menjadi tantangan pers di tengah banjir informasi di era pusaran digital ini. Teknologi boleh berubah, namun nurani jurnalisme tetap menjadi kompas utama untuk tetap berani menyuarakan kebenaran di atas segala kepentingan dengan senantiasa mengedepankan jurnalisme kemanusiaan yang diyakini.
Selamat Hari Pers Nasional 2026.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang
0 Komentar