SPPG Mertoyudan Deyangan Menuju Dapur Pemajuan Ekonomi Warga

Dilihat 62 kali
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Magelang Mertoyudan Deyangan menerima kiriman tempe dari perajin setempat.

BERITAMAGELANG.ID - Dapur pemenuhan gizi diharapkan menjadi penyokong kemajuan perekonomian desa. Menyediakan pasar bagi produk usaha kecil.  


Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Magelang Mertoyudan Deyangan saat ini memesan tempe dari perajin lokal 2-3 kali seminggu.


Sekali pengiriman dapur membutuhkan 100 lonjor tempe dengan harga satuan Rp10.000. Untuk sekali kirim, perajin tempe mendapat kepastian pendapatan Rp1 juta.


Bagi usaha skala kecil dan menengah, kepastian pasar semacam ini adalah kesempatan langka. Sebab, menjual produk ke pasar tradisional, seperti melempar dadu mengadu peruntungan.


Berbeda dari menjual bahan baku ke dapur SPPG yang sudah pasti terserap. Sebab, setiap hari dapur pasti menyiapkan makanan untuk ribuan penerima manfaat.


Kepala SPPG Magelang Mertoyudan Deyangan, Muhammad Aulia Rizqi menyebut, keterlibatan UMKM bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bagian dari filosofi besar program pemenuhan gizi Nasional.


"Waktu awal kami running, pemilik tempe datang menawarkan produknya. Kami cek dokumen pendukung seperti PIRT, lalu sampelnya diuji ahli gizi dan juru masak. Rasanya bagus, kualitasnya juga sesuai. Akhirnya kami pakai," kata Rizqi.


SPPG Magelang Mertoyudan Deyangan mulai beroperasi 16 September 2025. Pada awal berjalan, jumlah penerima manfaat mencapai 2.177 orang.


Hingga Desember 2025, jumlah penerima manfaat sempat naik menjadi 2.313 orang. Seiring pemerataan layanan dapur gizi di Kabupaten Magelang, jumlah penerima manfaat kini mencapai 2.077 orang.


Dari jumlah tersebut 1.738 merupakan pelajar yang tersebar di 9 sekolah dan 1 panti asuhan. Di luar jumlah itu, sebanyak 325 penerima manfaat adalah balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang dilayani melalui 10 posyandu.


Perputaran Ekonomi


Operasional dapur melibatkan 44 relawan yang seluruhnya warga Desa Deyangan. Selain itu, terdapat struktur inti yang terdiri dari Kepala SPPG, seorang ahli gizi, akuntan, dan asisten lapangan.


"SPPG ini bukan hanya intervensi gizi. Tapi juga harus menyerap tenaga kerja dan menghidupkan ekonomi sekitar," tegas Rizqi.


Selain tempe, SPPG juga menerima pasokan minyak goreng dari BUMDes Deyangan. Sebanyak 6-8 karton minyak goreng kemasan 2 liter dikirim 4-5 kali dalam seminggu.


Skema ini, menurut Rizqi sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto menjalankan konsep pembangunan yang menekankan perputaran ekonomi dari bawah: Sumitronomics.


"Anggaran SPPG sebisa mungkin tidak berhenti di dapur. Tapi berputar kembali ke masyarakat," harapnya. 


Pelibatan Kader Posyandu


SPPG Magelang Mertoyudan Deyangan berencana memperluas jejaring usaha yang dijalankan warga lokal. Salah satu gagasannya adalah melibatkan kader PKK sebagai produsen pemberian makanan tambahan (PMT) di posyandu.


Menu makanan tambahan seperti puding buah, roti kering, atau bubur bayi yang selama ini disuplai SPPG akan ditangani oleh kader posyandu. Pengelola satuan pemenuhan gizi akan mengawasi takaran dan standar higienitas.


"Kader posyandu sudah terbiasa membuat PMT. Kalau kita kolaborasikan, mereka menyetor ke SPPG, serta uangnya kembali ke mereka, dampak ekonominya akan lebih maksimal," kata Rizqi.


Kolaborasi itu sekaligus membuka ruang edukasi gizi. SPPG saat ini rutin menggelar dialog bulanan dengan kader posyandu dan pihak sekolah untuk monitoring dan evaluasi.


Termasuk membahas syarat keamanan pangan, kehigienisan, dan syarat pemenuhan gizi. Untuk produk non-olahan daging, usaha kecil cukup memenuhi syarat PIRT. Sementara olahan daging wajib bersertifikat halal.


Berdampak untuk Warga


Rizqi menegaskan, dapurnya berupaya memaksimalkan tata kelola agar anggaran benar-benar berdampak bagi warga.


"Dari Badan Gizi Nasional wacananya benar-benar harus bisa merangkul UMKM. Termasuk kantin sekolah yang biasa bikin snack, kalau bisa diajak sama-sama di SPPG," jelasnya. 


Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Desa Deyangan, Ahmad F Farkhan. Menurutnya, kehadiran SPPG sangat membantu pemerintah desa. Tidak hanya dalam pemenuhan gizi anak, balita, dan ibu hamil tapi juga sebagai penggerak ekonomi desa.


"Harapannya bisa lebih melibatkan UMKM yang terdekat ataupun hasil-hasil (produk) yang ada di Desa Deyangan. Memang untuk karyawan kelihatan banyak yang warga Deyangan," kata Ahmad Farkhan.


Dia berharap, BUMDes lebih luas dilibatkan sebagai pemasok kebutuhan dapur SPPG. Sehingga perputaran ekonomi desa semakin terasa dan berkelanjutan.


Pemerintah Desa Deyangan siap memenuhi kualitas produk sesuai standar kesehatan dapur SPPG.


"Kami bisa mengupayakan. Biar semua berjalan lancar, dampaknya positif, terutama untuk kesejahteraan masyarakat dan peningkatan ekonomi," pungkas Ahmad Farkhan.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar