Denyut Terakhir Randu Alas, Merawat Ingatan Kolektif Warga Tuksongo

Dilihat 33 kali
Jalanan sekitar pohon randu alas di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur.

BERITAMAGELANG.ID - Di lapangan Desa Tuksongo, Borobudur, Magelang, pokok tua randu alas menjadi pusat perhatian. Mengundang banyak perbincangan mengenai takdirnya yang mendekati penghujung.


Pohon tua itu sekarat. Lingkar batang bawah yang seukuran rentang tangan sepuluh orang dewasa, tak lagi kokoh menopang balaknya yang menjulang.


Bercabang pendapat orang yang biasa lalu lalang di bawah randu alas. Sebagian bilang randu alas harus ditebang karena membahayakan. Sebagian lain berharap pohon tua itu masih bisa diselamatkan.


Mereka yang mendukung agar randu alas berumur panjang, kebanyakan punya ikatan emosional. Di sana banyak ingatan warga pernah ditambatkan.


Kenangan masa kecil, tentang bermain bola di lapangan sampai menjelang maghrib atau jadi tempat berteduh di kala hujan sepulang sekolah. Buat mereka, randu alas menjadi teman yang tumbuh bersama waktu.


"Kami punya ingatan kolektif yang lekat pada pohon randu alas itu. Perkembangan Desa Tuksongo sampai seperti hari ini, ya sejalan dengan tumbuhnya randu alas," kata Atmojo.


Terpaut Memori


Atmojo adalah pelukis yang tinggal bersama keluarga besarnya dekat dengan randu alas. Dia mengaku proses kreatif melukis sedikit banyak dipengaruhi oleh kenangan masa kecil yang terpaut dengan pohon itu.


"Tidak ada ide kreasi yang muncul dari ruang kosong imajinasi. Pohon randu alas itu pasti punya pengaruh pada karya-karya saya. Terutama memori yang berkaitan dengan masa kecil," kenangnya. 


Dua pekan lalu Atmojo bersama beberapa seniman lukis mencoba mengabadikan momen akhir hidup sang randu alas. Tujuan mereka sama: Mengingat randu alas sebagai bagian dari memori kolektif warga Tuksongo.


Sebelum mengering, di bawah rindangnya randu alas warga kerap berteduh. Di naungan pohon, orang tua bercengkrama, para pelancong berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.


Dilema Ikon Desa


Pohon berusia 250 tahun itu melekat menjadi identitas Desa Tuksongo. Lapangan Randu Alas menjadi salah satu tujuan wisata di kawasan Borobudur.


"Jadi kami juga dilema. Kemarin misalkan dari Pemerintah Desa Tuksongo tidak mengambil sikap, otomatis kami berbenturan dengan warga," kata Kepala Desa Tuksongo, M. Abdul Karim, Senin (26/1).


Dengan alasan membahayakan warga, Abdul Karim sempat memutuskan menebang pohon randu alas. Pohon besar itu berada di tepi jalan yang ramai dan dekat permukiman warga.


Menurut Abdul Karim, pohon randu alas itu hampir mati. Tidak sekadar meranggas seperti yang disebut banyak orang.


"Pohon randu alas memang bisa meranggas. Tapi setahu saya, jika meranggas itu biasanya hanya daunnya. Sekarang sampai kulitnya (mengering dan mengelupas). Otomatis kami memandang pohon itu sudah mati," ujarnya.


Pemerintah Desa Tuksongo pernah mengupayakan menyelamatkan randu alas. Mereka meminta Dinas Lingkungan Hidup Magelang untuk mengobati pohon yang pelan-pelan mengering.


"Kami bersama masyarakat tidak sedikitpun ingin memangkas atau menebang pohon randu alas itu. Tapi kami utamakan aspek keselamatan. Mau tidak mau harus merelakan pohon itu," ungkapnya. 


Rusak Ekstrem


Pemerintah Kabupaten Magelang kemudian menggandeng Fakultas Kehutanan dan Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk melakukan kajian ilmiah mengenai kondisi randu alas.


Hasil kajian Tim Evaluasi Kesehatan dan Risiko Pohon UGM menyimpulkan, randu alas Tuksongo tidak lagi bisa diselamatkan. Risiko pohon secara keseluruhan berada pada level ekstrem.


Tim evaluasi menemukan banyak rongga pada akar permukaan atau banir. Terjadi pelapukan intensif pada kulit banir dan pangkal batang.


Memang pada akar terlihat beberapa jalur pertumbuhan yang mengindikasikan munculnya trubusan. Namun kondisi tunas baru terlihat tidak sehat.


Kondisi batang menghitam, kering, dan lapuk dengan jejak keberadaan penggerek batang randu sebagai hama utama. Seluruh ranting telah kering, rapuh, dan mudah luruh.


"Informasi dari kajian akademisi UGM itu, 95 persen pohon randu alas itu tidak bisa dipertahankan. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka memang harus dilakukan pemangkasan," kata Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono saat memimpin rapat koordinasi penangangan randu alas Tuksongo, Senin (26/1).


Monumen Randu Alas


Tim evaluasi Universitas Gadjah Mada merekomendasikan 3 opsi penanganan randu alas:


Pilihan pertama, memangkas cabang pohon dari pucuk hingga permukaan tanah. Kedua, memotong cabang dan ranting hingga cabang besar bawah pertama, dan pilihan ketiga mempertahankan batang pohon utama menjadi fosil kayu. 


"Saya selaku kepala desa memilih opsi yang ketiga. Jadi walaupun pohon itu ditebang, kami masih mempunyai monumen yang bisa diabadikan. Karena Tuksongo dikenal melalui pohon randu alas," imbuh Kepala Desa Tuksongo, M. Abdul Karim.


Pilihan itu akhirnya disepakati forum untuk kemudian diajukan kepada Bupati Magelang, Grengseng Pamuji. Pemerintah Kabupaten Magelang akan memberikan dukungan sesuai tugas pokok dinas masing-masing.


Badan Penanggulangan Bencana Daerah misalnya, akan menyiapkan dukungan saat pemangkasan pohon. BPBD juga akan membantu mendirikan dapur umum.


Dinas Pekerjaan Umum akan memberikan dukungan alat dan sumber daya. Begitu juga Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pariwisata yang terkait dengan kondisi ini.


"Hasil rapat ini akan kami sampaikan kepada bupati. Bahwa pada prinsipnya mengerucut pada opsi ketiga. Setelah itu baru nanti bupati menyampaikan tentang waktu (pelaksanaan)," kata Kepala BPBD Magelang, Edi Wasono.


Bagi warga Tuksongo, keputusan menjadikan randu alas sebagai monumen fosil kayu merupakan jalan tengah.


Randu alas memang tidak lagi berdiri utuh. Namun sebagian darinya akan tetap tinggal, sebagai penanda bahwa di tempat itu pernah tumbuh pohon yang menjadi saksi kehidupan banyak generasi.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar