BERITAMAGELANG.ID - Suasana Dusun Dawung Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan mendadak ramai pada Minggu (15/2). Ratusan warga yang didominasi anak-anak dan remaja terlihat saling melempar air yang dikemas dalam plastik. Mereka nampak bergembira dan ceria.
Pemandangan itu merupakan tradisi warga desa setempat yang dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan, yakni perang air atau "Bajong Banyu". Kalau umumnya warga akan mensucikan diri dengan padusan di kolam renang, namun di Dusun Dawung dilaksanakan secara unik.
Sebelum perang air, terlebih dahulu dilaksanakan ritual doa di sendang Kedawung, yang ada di desa setempat. Sendang ini oleh warga dijaga dengan hati- hati karena merupakan mata air untuk kehidupan sehari-hari.
Sebelum menuju sendang, ditampilkan tarian tradisional oleh beberapa gadis dan jejaka setempat. Kemudian para penari ini menjadi cucuk lampah para tokoh masyarakat yang mengenakan pakaian tradisional Jawa menuju ke sendang. Mereka membawa kendi untuk diisi air yang diambil dari sendang.
Di sendang ini dilaksanakan doa bersama memohon kesejahteraan, keamanan dan kemakmuran untuk warga. Gending-gending Jawa mengiringi perjalanan menuju sendang.
Setelah melakukan ritual di sendang, rombongan kemudian menuju ke lapangan dan para sesepuh secara bergantian menuangkan air suci itu ke dalam sebuah gentong. Setelah diberi aba-aba, warga kemudian saling melempar air, sedangkan sesepuh memercikkan air dari gentong ke arah warga. Suasana menjadi riuh rendah.
Sekdes Banjarnegoro, Sarjoko mengatakan, Bajong Banyu merupakan tradisi warga yang sudah lama dilakukan menjelang Ramadan. Sebelumnya, warga sering padusan di sungai Progo, namun kemudian berkembang menjadi tradisi yang dikemas oleh para pemuda karang taruna menjadi Bajong Banyu.
Tradisi ini mengambil air suci dari sendang Dawung kemudian diarak dan kemudian saling lempar air.
Makna dari air suci sebagai perwujudan bersih diri untuk mensucikan diri menjelang Ramadan.
Rangkaian kegiatan ini cukup padat dari siang hingga malam hari dengan menampilkan berbagai macam kesenian tradisional dari Desa Banjarnegoro dan sekitarnya.
Sementara itu, saling lempar air bukan untuk saling bertengkar atau dendam, namun wujud kerukunan.
"Dengan saling lempar dengan riang hati bisa menghilangkan rasa dendam, dengki dan iri hati," tuturnya.
Panitia pelaksana, Mulai Tri Rahayu mengatakan, Bajong Banyu sudah masuk dalam kalender event budaya tahunan Kabupaten Magelang dan Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini semakin memperkuat ekosistem seni budaya di desa setempat. Dengan kegiatan ini menjadi stimulan bagi generasi muda untuk berdiskusi, berorganisasi dan beraktivitas seni budaya.
Melalui Bajong Banyu, Dusun Dawung membuktikan keterbatasan potensi wisata alam bukan penghalang untuk menciptakan daya tarik budaya yang prestisius dan bermakna bagi masyarakat luas.
0 Komentar