BERITAMAGELANG.ID - Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melukis bersama puluhan perupa asal Magelang dan Yogyakarta di Wonolelo Hill Camp, Sawangan, Kabupaten Magelang, Kamis (12/2).
Dalam kegiatan yang diinisiasi SBY Art Community itu, SBY mengajak para seniman mengisi ruang kebersamaan dan pengabdian melalui karya seni yang penuh kedamaian.
SBY menyebut seni sebagai ruang ekspresi yang melampaui sekat-sekat sosial maupun politik. Maka, setelah tuntas pengabdian panjang di militer dan pemerintahan, ia mengaku kini memilih seni dan olahraga sebagai medium kebersamaan dengan masyarakat.
"Setelah saya meninggalkan dunia politik dan pemerintahan, juga masa pengabdian saya sebagai prajurit selama 30 tahun di TNI, saya bergabung dengan teman-teman di dunia seni dan olahraga," ujar SBY.
Ia menegaskan, SBY Art Community bukan organisasi massa maupun organisasi politik. Komunitas itu, kata dia, menjadi wadah berkarya dan berbagi gagasan tanpa kepentingan kekuasaan.
Dalam sesi melukis yang berlangsung sekitar dua hingga tiga jam itu, SBY memilih membuat lukisan lanskap semi-abstrak. Ia mengaku pendekatan tersebut dipilih karena keterbatasan waktu untuk menggarap detail.
"Kalau mengejar detail tidak bisa, pasti lebih lama. Jadi saya ambil semi abstrak landscape painting," ujarnya.
Momen itu berlangsung di tengah cuaca mendung dan kabut yang menyelimuti perbukitan. Panorama Gunung Merbabu, Merapi, hingga kawasan Ketep menjadi latar alami bagi para pelukis yang menggelar kanvas di ruang terbuka.
SBY menyebut kondisi cuaca yang berubah-ubah memberi banyak pilihan sudut pandang bagi pelukis.
SBY mengungkapkan mulai melukis secara serius sejak 2021. Aktivitas itu ia tekuni hampir setiap hari. Ia menyebut seni menjadi bagian dari proses menemukan kembali keseharian setelah mengalami berbagai fase kehidupan, termasuk kehilangan sang istri, almarhumah Ani Yudhoyono.
"Saya almost everyday melukis. Saya kembali ke habitat dunia seni," ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya memuliakan seniman di negeri sendiri. Menurutnya, para seniman perlu diberi ruang dan kesempatan untuk berkreasi, sementara masyarakat diharapkan semakin menghargai karya seni dalam negeri.
"Seniman itu mungkin bukan orang kaya raya, bukan pemilik kekuasaan politik, tapi hatinya tulus untuk melakukan sesuatu demi kebaikan bangsa dan negara," katanya.
Seniman asal Borobudur, Umar Chusaeni menilai kegiatan tersebut memperkuat citra Magelang sebagai kota yang memiliki ekosistem seni yang hidup. Kedekatan dengan Yogyakarta serta keberadaan museum dan galeri seni menjadi modal penting bagi perkembangan seni rupa di wilayah tersebut.
"Ini kegiatan positif yang menunjukkan bahwa Magelang punya kekuatan sebagai kota seni. Seniman di sini kompak dan saling mendukung," ujar Umar.
Umar berharap kegiatan serupa terus berlanjut dan dapat menginspirasi kota lain untuk menjadikan seni sebagai bagian dari napas kehidupan masyarakat.
0 Komentar