BERITAMAGELANG.ID - Awalnya, Rieva Amalia Charisma tidak pernah membayangkan harus berhadapan dengan alat periksa kesehatan, apalagi yang berhubungan dengan sampel darah. Siswi kelas XII SMA Negeri 2 Grabag, Magelang itu mengaku takut setiap kali melihat jarum suntik atau alat cek darah.
Namun, sejak bergabung dengan Satuan Karya Bakti Husada (SBH), rasa takut itu perlahan berubah menjadi keberanian, bahkan ketertarikan.
"Kalau cek darah, jujur saya masih takut. Takut darahnya tidak bisa berhenti," kata Rieva Rieza sambil tertawa kecil, Sabtu (24/1).
Karena itu, dia memilih fokus pada pemeriksaan dasar non-medis seperti mengukur tinggi dan berat badan, observasi fisik, hingga menginput data kesehatan. Bergabung dalam Saka Saka Bakti Husada menjadi pintu masuk Rieva mengenal dunia kesehatan masyarakat.
Dari sekadar ikut kegiatan ekstrakurikuler, Saka Bakti Husada membawanya memahami bagaimana sistem kesehatan masayarakat bekerja dari level paling dasar yaitu pencegahan penyakit.
Bakti Husada merupakan Satuan Karya (Saka) Pramuka binaan Kementerian Kesehatan yang membekali anggotanya dengan enam krida: Bina Keluarga Sehat, Bina Lingkungan Sehat, Bina Gizi, Bina Obat, Bina Penanggulangan Penyakit dan Bina Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Satuan Karya ini diikuti oleh tingkatan pramuka golongan Penegak dan Pendega usia 16 hingga 25 tahun.
Setiap hari Sabtu, para anggota mengikuti pertemuan rutin, menerima materi dan pendampingan dari tenaga puskesmas, serta praktik sederhana pelayanan kesehatan yang relevan dengan kondisi lapangan.
Bina Lingkungan Sehat
Setelah menjalani Uji Syarat Kecakapan Khusus (SKK), anggota berhak menerima Tanda Kecakapan Khsusus Saka Bakti Husada. Materi saka yang selama ini dipelajari, diuji melalui soal tertulis, penugasan, hingga presentasi.
"Kami diminta membuat poster PHBS, lalu dipresentasikan di malam puncak," kata Rieva.
Ada bagian dari Krida Bina Lingkungan Sehat yang paling menarik perhatian Rieva: Sanitasi air.
Ketertarikan itu bukan datang tiba-tiba. Sebelum masuk SBH, Rieva sempat bergabung dalam Saka Kalpataru, satuan karya Pramuka yang fokus pada lingkungan hidup.
Pengalaman tersebut membuatnya merasa sanitasi air adalah titik temu antara lingkungan dan kesehatan. "Sanitasi air itu dekat sekali dengan lingkungan. Jadi rasanya nyambung dengan pengalaman saya sebelumnya," ujarnya.
Meski praktik lapangan ke lokasi penampungan air belum sepenuhnya terealisasi, pendampingan sudah diberikan. Tenaga puskesmas memperlihatkan hasil uji laboratorium air dari wilayah mata air di hulu sungai Grabag.
Secara kasat mata air terlihat jernih. Namun hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan kandungan mikro organisme yang cukup tinggi.
"Kalau di kawasan hulu saja sudah begitu, apalagi yang di bawah. Aliran air ke rumah warga yang (kemungkinan besar) sudah tercemar limbah," kata Rieva.
Peka Edukasi Masyarakat
Ternyata anggapan umum bahwa wilayah pegunungan otomatis memiliki kualitas air yang aman dikonsumsi, tidak sepenuhnya tepat.
Muslimah, sesama anggota Saka Bakti Husada menilai, keberadaan pabrik, asap industri, dan aliran limbah, membuat kualitas air tidak bisa lagi dinilai hanya dari kejernihan visual.
Menurut Muslimah, di sini peran edukasi kesehatan masyarakat menjadi penting. Cara paling sederhana yang bisa dilakukan adalah mengedukasi warga agar penampungan air rumah tangga memiliki tutup dan terlindung dari kontaminasi udara terbuka.
"Udara yang kelihatan bersih pun tetap membawa mikro organisme," ujarnya.
Menumbuhkan perhatian khusus terhadap isu kesehatan merupakan salah satu tujuan pendidikan Saka Bakti Husada. Setelah dilantik, anggota satuan karya Pramuka SBH tidak berhenti pada kegiatan internal.
Mereka diproyeksikan menjadi Sahabat Husada atau mitra puskesmas untuk melakukan promosi kesehatan di lingkungan masing-masing. Mereka akan menjalankan program berbasis arahan puskesmas setempat dan turun langsung ke masyarakat.
Bagi Rieva dan Muslimah, SBH bukan sekadar organisasi, melainkan ruang pembentukan arah masa depan. Dengan latar belakang keluarga dan lingkungan pedesaan, mereka ingin menjaga kualitas lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat.
Bahkan ketertarikan itu mulai mengerucut pada pilihan rencana karier.
"Saya ingin melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan. Jadi perawat atau mungkin ahli bidang sanitasi air," kata Rieva.
Bina Kader Kesehatan
Rieva Amalia Charisma dan Muslimah adalah angkatan kedua SBH Pangkalan Puskesmas Grabag 1, Kwartir Ranting Grabag yang terbentuk 4 September 2024.
Setiap tahun, Saka Bakti Husada Pangkalan Puskesmas Grabag 1 menggelar Kemah Saka untuk menguji Kecakapan Khusus (SKK) anggota SBH.
Kemah Saka tahun ini diadakan di SMA 1Grabag mulai 24 Januari hingga 25 Januari 2026. Peserta yang juga berasal dari SMA Grabag 2 menginap di sekolah untuk menjalani serangkaian ujian pengetahuan bidang kesehatan masyarakat.
Kepala Puskesmas Grabag 1, drg. Rury Suryani menjelaskan, para Pramuka Saka akan diuji pengetahuan serta keterampilan praktis di bidang kesehatan.
"Agar anggota Penegak dan Pandega mampu menerapkan, menggerakkan, dan mengedukasi masyarakat tentang hidup bersih dan sehat, keluarga sehat, obat-obatan, kesehatan lingkungan, gizi, dan pengendalian penyakit," ujar drg Rury.
Secara ex-officio Kepala Puskesmas otomatis menjadi Ketua Majelis Pemimbing Saka Bakti Husada atau Mabi Pangkalan. Dia bertanggung jawab memberikan pembinaan kepada Pramuka Saka bidang.
Kegiatan pengabdian ke masyarakat terlaksana sejak September 2024 hingga Desember 2025. Anggota SBH antara lain terlibat program Kementerian Kesehatan berupa pelayanan cek kesehatan gratis di institusi pendidikan serta terlibat edukasi dan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat.
Berakhirnya pemaparan materi dan praktek pelayanan kesehatan sesuai dengan program kerja Pangkalan SBH Puskesmas Grabag 1.
"Sebagai bagian dari membangun kader kesehatan generasi muda yang berkontribusi pada kesehatan nasional," kata dia.
0 Komentar