SPPG Magelang Mungkid Bumirejo Kembangkan Pusat Edukasi Gizi

Dilihat 123 kali
Kebun percontohan SPPG Magelang Mungkid Bumirejo.

BERITAMAGELANG.ID - Di samping bangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Magelang Mungkid Bumirejo, sejumlah batang jagung tumbuh rapi. Rencana besar menciptakan perekonomian yang bersinergi dengan warga.


Kebun kecil ini disiapkan menjadi lahan percontohan program ekosistem pangan berbasis masyarakat. Di sebelah lahan jagung, ditanam cabai rawit dan cabai keriting yang siap panen.


Kebun jagung dan cabai yang digarap SPPG di bawah Yayasan Zuriyah Sejahtera Bersama, sedang diuji coba menjadi lahan pertanian sirkular.


Limbah dapur diolah menjadi kompos untuk pupuk di kebun sendiri. Metode tanam yang sedang diuji coba ini akan ditularkan kepada warga sekitar.


Warga kemudian didorong untuk menanam sayuran dan menyuplai kebutuhan dapur. Gagasan ini bertujuan menjadikan dapur gizi tidak hanya menjadi pusat pengolahan MBG tapi menghidupkan ekosistem pangan di sekitarnya.


"Awalnya kami ingin membuktikan dulu, apakah pupuk dari food loss itu bisa dipakai. Ternyata bisa. Tanamannya tumbuh, hasilnya juga bagus," kata Kepala SPPG Magelang Mungkid Bumirejo, Muhammad Bagas Safrudin, baru baru ini.


Melangkah ke Kebun


SPPG Magelang Mungkid Bumirejo mulai beroperasi 1 September 2025. Dalam empat bulan berjalan, dapur ini melayani 2.000 hingga 3.000 penerima manfaat, mulai dari siswa sekolah hingga kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.


Pada awal beroperasi, jumlah penerima manfaat sempat mencapai lebih dari 3.600 orang. Seiring pemerataan layanan antar-SPPG, jumlahnya kini berada di kisaran 2.500 penerima manfaat per hari, mencakup 18 sekolah dan 11 posyandu.


Di tengah ritme dapur yang padat, muncul persoalan yang sering luput dibicarakan: Limbah. SPPG menghasilkan sisa bahan pangan setiap hari.


Bagi Bagas dan timnya, limbah bukan akhir melainkan awal dari siklus baru.


"Untuk food loss, kami manfaatkan. Di belakang ada bank kompos. Sisa bahan organik kami olah jadi pupuk, lalu dipakai untuk kebun sendiri," katanya.


Sementara sampah sisa makanan yang tidak bisa diolah, dikelola oleh pihak ketiga serta dibuang ke tempat pengolahan sampah sementara di luar dapur.


Sebagian kecil limbah makanan dimanfaatkan warga dan relawan untuk pakan ternak. Dengan sistem itu, hampir tidak ada sampah yang menumpuk.


Panen Kebun Sendiri


Kebun percontohan di area dapur SPPG tidak terlalu luas. Hanya beberapa bedengan di lahan sepanjang 20 meter dengan lebar 1,5 meter. Di kebun ini sejak tiga bulan yang lalu ditanam jagung, cabai rawit, cabai keriting, dan pepaya.


Cabai sudah beberapa kali dipanen. Hasilnya berkisar 3 hingga 5 kilogram yang langsung dipakai untuk kebutuhan dapur.


Bagas memperkirakan jagung menyusul dipanen dalam waktu dekat.


"Jagung itu penting buat kami. Selain nasi, menu karbohidrat juga pakai jagung. Jadi kalau bisa, suplai dari sendiri itu bagus sekali," harapnya.


Begitu juga dengan hasil panen pepaya. Nantinya pepaya dari kebun SPPG ikut masuk menu dapur.


"Ini uji coba. Apakah tanah di sini cocok, apakah pupuk dari food loss cukup, apakah hasilnya layak. Dari situ baru kita pikirkan jangka panjangnya," lanjutnya.


Ekonomi Sirkular


Gagasan jangka panjang SPPG Magelang Mungkid Bumirejo melampaui pagar dapur. Kebun percontohan ini disiapkan sebagai model pertanian sebelum melibatkan warga sekitar.


Rencananya, warga akan diberdayakan menanam komoditas yang rutin dibutuhkan dapur seperti cabai, jagung, pepaya, dan bahan pangan lain.


SPPG tidak harus memiliki semua lahan. Petani atau warga bisa menggunakan lahan sendiri, lalu memasok hasil panen ke dapur.


"Metodenya nanti kita dampingi. Kalau belum ada pengetahuan, kita belajar bareng. Harapannya, dapur tidak hanya beli dari pasar, tapi juga bekerja sama dengan warga lokal," terangnya. 


Dengan pola itu, ekonomi sirkular diharapkan berjalan. Dapur menyerap hasil tani warga, warga mendapat kepastian pasar, dan kebutuhan bahan baku lebih stabil.


"Supaya cabainya terus sama, kualitasnya terjaga, dan pasokannya jelas," imbuhnya. 


Standar Kepercayaan


Di luar inovasi kebun, SPPG Magelang Mungkid Bumirejo juga menata aspek standar dan keamanan pangan.


Operasional dapur mengikuti petunjuk teknis Badan Gizi Nasional, dilengkapi sertifikat laik sehat (SLS), uji air, uji makanan, hingga uji kebersihan alat makan.


"Ini penting untuk kepercayaan. Kita melayani anak-anak, ibu hamil, balita. Standarnya harus jelas," ujar Bagas.


Saat ini, dapur didukung sekitar 45 relawan yang sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar. Selain itu, ada tenaga ahli gizi, akuntan, keamanan, dan staf inti.


Fondasi Edukasi Gizi


Pemenuhan gizi tidak cukup berhenti di dapur. SPPG hanya memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan gizi anak. Sisanya ditentukan oleh lingkungan rumah.


Karena itu, SPPG Magelang Mungkid Bumirejo rutin melakukan edukasi gizi ke sekolah-sekolah. Setiap minggu, tim mendatangi sekolah untuk mengajarkan pentingnya makan sayur, pola makan seimbang, dan kebiasaan sehat.


"Anak-anak sekarang banyak yang susah makan sayur. Itu yang kita edukasi," kata Bagas.


SPPG akan mengembangkan pusat edukasi gizi di lokasi dapur. Masyarakat bisa datang untuk belajar tentang makanan sehat, pengolahan pangan, hingga pola makan bergizi.


Sebagai langkah jangka panjang dapur SPPG tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tapi juga melakukan intervensi pengetahuan pangan kepada siswa dan keluarga.


Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan Desa Bumirejo, Romzah Khanani menyambut baik rencana SPPG menjalin kerja sama ekonomi-pertanian dengan warga.


"Saya kira bagus juga (warga dilibatkan). Sementara masih melayani anak-anak sekolah. Layanan untuk ibu hamil dan balita sangat membantu kami pemerintah desa," kata Romzah.


Pemajuan Desa


Romzah berharap bahan-bahan pokok yang digunakan SPPG dipasok oleh warga Desa Bumirejo.


"Apalagi jika besok ada (menerima bahan baku) dari hasil pertanian warga, mungkin sangat membantu," lanjutnya.


Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bumirejo sempat mengajukan diri memasok sebagian beras SPPG.


"Terutama kemarin dari desa minta salah satu (memasok) beras. Yang sudah masuk itu telur puyuh tapi baru sekali," ujar Romzah.


Di tengah seluruh dinamika itu, kebun kecil di belakang dapur SPPG tetap tumbuh. Jagung menua, cabai terus dipetik, dan pepaya mulai masak.


Perlahan, SPPG Magelang Mungkid Bumirejo membangun narasi bahwa pemenuhan gizi bukan hanya persoalan distribusi pangan. Tapi menjadi simpul ekonomi warga yang mengikat dalam lingkaran dan terus berputar.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar