Kemasan Seni Pertunjukan Pariwisata

Dilihat 3688 kali

Tidak bisa dipungkiri pada saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, mulai awal tahun 2020 sampai sekarang, sektor pariwisata yang paling terkena imbasnya. Hal itu disebabkan karena regulasi PSBB yang membatasi kunjungan wisata baik wisatawan nusantara ataupun mancanegara. Menyikapi hal tersebut, pemerintah pada pertengahan tahun ini berencana akan membuka beberapa obyek pariwisata di Indonesia. 


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyiratkan ada rencana pembukaan kembali akses wisatawan mancanegara (wisman) pada pertengahan tahun ini. Di sisi lain, pemerintah  akan mengoptimalkan upaya dalam menggaet wisatawan domestik sebagai replacement value (nilai pengganti) sebesar 50% sampai 70% (https://industri.kontan.co.id)


Dengan mulai dibukanya kembali akses pariwisata, semua pihak perlu segera berbenah untuk mempersiapkan segala sesuatunya guna mendukung agar sektor pariwisata bangkit kembali seperti semula, termasuk sektor seni pertunjukan. 


Daya tarik wisata


Sebagaimana diketahui, seni pertunjukan  merupakan salah satu bentuk atraksi wisata andalan yang merupakan special event sebagai daya tarik wisata. Berpijak pada prinsip-prinsip elaborasi pariwisata berkelanjutan, maka seni pertunjukan  dalam konteks pariwisata idealnya didasarkan pada pengggalian warisan seni budaya  komunitas setempat agar dapat menggambarkan karakteristik daerah setempat. 


Zepel dan Hall dalam tulisannya Art and Heritage Tourism (1992) menegaskan bahwa seni pertunjukan dapat dikategorikan sebagai heritage tourism. Implikasi dari heritage tourism adalah bagian dari pariwisata budaya yang mengeksplanasikan secara ringkas kepada pengunjung tentang pentingnya motivasi budaya. Adapun bentuk konkret  motivasi budaya tersebut bisa semacam karya wisata, seni pertunjukan, perjalanan budaya, festival, cerita rakyat, dan peristiwa budaya lainnya.


Dalam proses perjalanan waktu, seni pertunjukan telah menjadi salah satu bentuk atraksi wisata yang menjanjikan. Di samping memiliki keunikan, juga mempunyai dampak ikutan sebagai penggerak perekonomian rakyat. Terlebih lagi, atraksi wisata khususnya seni pertunjukan yang berbasiskan kebutuhan komunitas setempat mempunyai dampak ikutan yang mampu memperluas kesempatan kerja khususnya bagi penduduk setempat.


Festival seni misalnya, berkorelasi langsung dengan pengusaha tata rias, penginapan, dan rumah makan. Dampak ikutan tersebut bisa bersinergi yang mampu meningkatkan  penghasilan secara ekonomi  dan perluasan lapangan kerja.


Kemasan seni pertunjukan


Menyikapi akan dibukanya obyek pariwisata pada tahun ini, para seniman perlu segera berbenah diri untuk melakukan proses kreatif  yang selaras dengan konsep seni wisata. Seni pertunjukan bisa dikatakan berhasil apabila penyajiannya mampu berkomunikasi dengan penonton secara baik dan memuaskan. Hal ini  berarti menandakan pertunjukan pariwisata perlu dikemas berdasarkan atas selera estetis wisatawan.


Ni Made Ruastiti dalam bukunya Seni Pertunjukan Bali Dalam Kemasan Pariwisata (2005) menegaskan kehadiran seni pertunjukan kemasan dalam seni pertunjukan wisata merupakan aktualisasi dari salah satu dampak positif dari pariwisata, yang mempunyai konsekuensi terjadinya suatu perubahan. Aspek perubahan yang terjadi adalah pada cara penyajian seni pertunjukan wisata dengan keterbatasan waktu pentas yang mengharuskan terjadinya pengemasan kembali terhadap semua pertunjukan yang ditampilkan dalam seni pertunjukan kemasan baru.


Oleh karena itu, para pelaku seni pertunjukan perlu memperhatikan pengemasan konsep seni wisata yang antara lain mempunyai ciri-ciri, tiruan dari aslinya, dikemas singkat dan padat penyajiannya, penuh variasi, tidak sakral, murah harganya, serta penyajiannya mudah dicerna (Soedarsono, 2004).


Untuk itu menjadi tantangan tersendiri bagi para seniman agar bisa menampilkan seni wisata yang memang proporsional untuk wisatawan. Tentunya penyajian yang sudah dimiliki, apabila belum memenuhi standar seni wisata bisa digarap kembali. 


Belakangan ini, beberapa hotel dan resort di Borobudur sudah mulai menerima tamu dengan standar protokol ketat. Di Plataran Resort Borobudur sudah mulai mengundang para penari untuk menemani dinner (jamuan makan malam) tamu dengan sajian repertoar tari klasik, seperti Tari Gambyong, Klana Topeng, Gunungsari, dan beberapa repertoar lain.

 

Beberapa sanggar seni di Borobudur pun sudah mulai mengeliat melakukan proses kreatif  dalam mengemas seni pertunjukan. Sebut saja Bengkel Seni Sasana Aji Borobudur telah melakukan proses kreatif mengarap Sendratari Maitrakanyaka yang pentas perdananya  dilakukan awal bulan April 2021 lalu di Marga Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur. Sendratari dengan koreografer Lukman Fauzi itu mengambil cerita dari relief di Candi Borobudur pada panil 106-112  lantai tiga yang mengisahkan tentang ambisi dan idealisme pribadi tokoh Maitrakanyaka. Namun di akhir cerita ia menyesali segala perbuatannya dengan bertobat.

 

Dalam garapan sendratari tersebut, sudah melakukan terobosan dalam pengarapannya. Seperti variasi gerak yang mengacu pada idiom-idiom gerak relief baik untuk  detail gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi (gesture movement). Durasinya pun hanya 15 menit selaras dengan  karakteristik seni pariwisata. 


Kiranya peluang-peluang tersebut perlu ditangkap secara jeli oleh para pelaku pariwisata termasuk pelaku seni pertunjukan untuk kembali mengemas seni pertunjukan pariwisata. Tentunya peran semua pihak baik pemerintah, pengusaha, dan beberapa pihak yang peduli sangat dibutuhkan untuk menstimulasi  peningkatan SDM seniman. Semisal workshop dalam mengemas seni pertunjukan wisata  baik itu aspek seni tari, manajemen, kostum, dan juga musik pengiringnya yang dapat menjadi pijakan dasar seniman untuk melakukan proses kreatifnya. 


Ch. Dwi Anugrah, Guru Seni Budaya Bidang Keahlian Pariwisata SMK Wiyasa Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar