Melatih Kemandirian Anak Dalam Keluarga

Dilihat 302 kali

AKHIR-akhir ini banyak dijumpai anak-anak yang tidak mau berangkat sekolah atau enggan untuk masuk sekolah atau mogok sekolah dengan berbagai alasan, ada yang mengeluh sakit ketika akan berangkat sekolah, dan sebagainya. Hal tersebut sebenarnya bukan kesalahan anak semata, mungkin juga karena kesalahan orang tua. Maka perlu langkah bijaksana yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Langkah bijaksana yang perlu diperhatikan adalah dengan menelusuri, apa yang menyebabkan anak berbuat seperti itu? Kadang-kadang kesalahan itu justru datangnya dari sikap orang tuanya sendiri. Misalnya, orang tua yang terlampau sayang pada anaknya, yang diwujudkan dalam bentuk tindakan menjaga yang terlalu berlebihan sejak dari bayi. Akibatnya anak terlalu dekat pada orang tua. Karena rasa sayang yang tinggi, kadang menumbuhkan rasa kehilangan bila ingin meninggalkannya.

Bila perasaan seperti itu sudah menguasai orang tua, yang ada ia akan selalu menyertakan anak dalam setiap kegiatannya. Seharusnya sejak dari bayi pun seorang anak sudah harus dilatih untuk mandiri. Bagaimana caranya? Yaitu tidak terlalu sering menggendongnya. Contoh lain dari sikap orang tua yang terlampau menjaga, biasanya bila melihat anaknya yang sedang belajar jalan, kemudian tertaih-tatih dan jatuh, si ibu langsung menjerit keras. Reaksi yang berlebihan seperti itu, justru sering kali dampaknya tidak baik untuk anak itu sendiri. Secara spontanitas, anak kaget dan menangis sekencang-kencangnya. Lebih jauh lagi, ia akan menjadi anak yang penakut dan cengeng.

Berikan Kepercayaan Pada Anak

Wujud rasa sayang orang tua, biasanya diekspresikan lewat sikapnya yang selalu ingin dekat dengan sang anak. Hal inilah yang kurang disadari para orang tua, bahwa kedekatannya dengan sang anak malah akan membuatnya ia menjadi anak yang takut untuk bergaul dengan dunia sekelilingnya, Dan akan jelas terlihat, ketika si anak akan memasuki bangku sekolah. Anak menjadi takut duduk dengan teman-temannya, yang dirasa masih asing. Tentu saja yang kewalahan orang tua itu sendiri, karena minta ditunggui terus sampai jam sekolah berakhir.

Karena itu, sekali waktu ajaklah anak-anak untuk bermain dengan teman sebayanya. Berikan kepercayaan padanya, bagaimana dia akan bersikap kepada teman-temannya. Namun jangan lupa untuk mengawasi dari jauh. Pada awalnya, mungkin ajakan seperti ini membuatnya takut atau malu-malu. Yang dibutuhkan dalam hal ini adalah kesabaran untuk melatihnya bersikap mandiri. Niscaya lama-lama si anak akan berani mendekati teman-temannya.

Memberikan kepercayaan pada anak bukan berarti mengabaikan. Biarkanlah anak jalan-jalan sendiri di seputar lingkungan yang ingin dikenalnya. Tidak ada salahnya sesekali menitipkan anak pada neneknya. Secara tidak langsung, dengan cara seperti ini anak terlatih untuk tidak selalu tergantung  pada orang tuanya. Selain itu, jangan terlalu melarang anak bila mereka suka bermain dan mengumpulkan benda-benda yang ditemukan di lingkungan tempat mainnya. Jangan pula selalu memberikan perintah dan larangan, sehingga kemauan anak terpenggal. Sebab bisa menyebabkan kreativitas anak mati.

Jangan Memaksakan Kemampuan Anak

Keluhan sakit ini itu pada saat anak mau berangkat sekolah biasanya akan reda dengan sendirinya kalau sudah terbiasa dan mulai kenal jauh dengan lingkungan sekolahnya. Tahapan ini sering terjadi bila usianya telah menginjak lima tahun ke atas. Mereka mulai mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Namun bila ternyata tetap saja sering mogok sekolah atau tidak mau berangkat sekolah , memang diperlukan kesabaran yang tinggi dari oarng tua untuk membimbingnya. Misalnya dengan menanyakan kesulitan apa yang dihadapinya saat berada di sekolah? Barangkali dengan kelembutan suara ibu, ia merasa damai dan mau mengungkapkan isi hatinya.

Atau bisa juga dengan menanyakan, kesulitan apa yang dihadapi berkaitan dengan materi pelajaran. Tentu si anak akan akan mengutarakan kesulitan yang dialami di sekolahnya. Nah, bila hal itu terjadi pada anak kita, sikap bijaksana dalam menangani masalah ini sangat diperlukan. Janganlah memaksakan anak untuk menguasai semua mata pelajaran di sekolah. Apa kesulitan yang dikeluhkannya? Berpijak dari pertanyaan ini, tuntunlah anak untuk mempelajarinya dengan cara perlahan-lahan.

Memang diperlukan ketelatenan yang tinggi dalam membimbing anak. Satu hal yang harus diingat para orang tua adalah, jangan memaki atau memarahi anak dengan kata-kata kasar dan membentak. Misalnya: Dasar anak goblok! Sudah diajarin berulang-ulang, nggak ngerti-ngerti juga, atau Begini saja kamu tidak tahu. Mau jadi apa kamu nanti, dan sebagainya. Ucapan kasar seperti  itu, sangat buruk akibatnya karena dapat mematikan kemampuan si anak. Dan lebih buruk lagi, anak akan bersikap apatis dan masa bodoh.

Berikan Pujian Pada Anak

Setiap anak memilki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Misalnya: seorang anak tidak menguasai pelajaran matematika, tetapi ia mempunyai kelebihan pandai menggambar. Dalam hal ini, orang tua harus peka melihat kemampuan anak. Bukan menyalahkan dan memaksakan kemampuannya. Arahkan kemampuan anak ke bakat yang dimilikinya. Berikan pujian kepadanya, agar ia terus bersemangat untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Jangan terlalu cemas bila anak tidak dapat menguasai salah satu mata pelajaran. Tapi alihkan pada mata pelajaran atau bidang lain yang dikuasainya. Karena kemampuan dan kelebihan anak itu beragam. Sesekali berilah hadiah padanya untuk prestasi yang diraihnya. Melatih anak untuk  mandiri, tidak selalu dengan cara yang keras dan penuh dengan aturan-aturan. Sesuaikan dengan kemampuan , bakat anak, dan daya nalar anak. Semoga.


 Penulis: P. Budi Winarto, S.Pd. Guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar