Mengulik Penelitian Historis Seni Tari

Dilihat 9 kali
Wayang topeng dari Padepokan Tjipta Boedaja Dusun Tutup Ngisor Desa Sumber Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sejak awal keberadaannya sampai saati ini sudah melintasi berbagai generasi dapat menjadi objek penelitian sejarah seni tari.

Dinamika seni pertunjukan khususnya seni tari pada saat ini sudah berkembang pesat. Di berbagai tempat mulai dari komunitas urban sampai pelosok desa sudah mengenal seni tari sebagai bagian dari kehidupan. Seni tari bukan hanya berfungsi sebagai rekreasi saja, namun juga memiliki fungsi lain baik sebagai ritual maupun sosial.


Eksistensi seni tari sejatinya dapat dikenal dalam dua bentuk baik itu ekspresi kolektif maupun individual. Sebagai bentuk ekspresi kolektif merujuk pada jenis-jenis seni tari tradisional yang bersumber pada komunitas-komunitas masyarakat etnik yang tersebar di seluruh Nusantara. Sementara itu seni tari sebagai ungkapan individual lebih berorientasi pada jalur karya atau penciptaan. Implikasinya, ungkapan-ungkapan ekspresi seni tari yang diciptakan lebih mengedepankan aspek-aspek subjektif senimannya.


Permasalahannya pada saat ini  banyak para seniman yang masih berkutat pada jalur karya atau ekspresi kolektif. Jarang yang menggeluti atau mengamati seni tari di lingkungannya atau di luar wilayahnya dalam konteks sejarah keberadaan seni tari tersebut. Padahal sejatinya mendalami sejarah seni tari atau proses penciptaannya sangatlah penting untuk referensi atau dokumentasi naratif yang bermanfaat bagi generasi saat ini maupun masa depan.

 

Dinamika Kehidupan Seni Tari


Sebagaimana diketahui seni tari dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena lahir dari sebuah kebutuhan. Kebutuhan yang berkorelasi dengan aspek religius, hiburan, maupun ranah presentasi estetis. Dinamika kehidupan seni tari dari waktu ke waktu mengalami perubahan karena bersifat dinamis. Dalam perjalanan waktu perubahan eksistensinya berjalan paralel bersama dinamika perubahan sosial dalam komunitas.


Untuk menggali dinamika kehidupan seni tari akan lebih mengena apabila mengaplikasikan metode sejarah. Metode ini dapat mengungkap perjalanan dan dinamika historis seni tari dari waktu ke waktu baik yang berkorelasi dengan teks maupun konteksnya. Selain itu metode sejarah dapat juga menjadi dokumen abadi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.


Mengenal sejarah seni tari secara lebih intens, bukan hanya wilayah para akademisi di kampus saja, namun bisa dilakukan oleh para pekerja seni, anggota seni di komunitas, maupun siapa saja yang peduli agar seni tari dapat lebih terdokumentasikan dengan rapi. Karena memang disadari, sampai saat ini para seniman jarang melakukan pendalaman seni tari melalui pengkajian atau  penelitian. Mereka sudah merasa puas, kalau proses kreatif sudah selesai dengan sukses.


Adapun yang perlu didalami dan dicermati dalam telaah sejarah seni tari adalah mengenali batas-batas dari sumber-sumber yang digunakan dan menarik data sesuai dengan kemungkinan yang diberikan oleh batas-batas tersebut. Secara garis besar segmentasi atau bidang seni tari yang dapat dipakai sebagai sumber pengamatan antara lain bersifat kewujudan dan isi atau makna. Perspektif seni tari bersifat kewujudan meliputi teknik-teknik dan penampilan seni tari tersebut di atas pentas. Sedangkan perspektif yang bersifat isi atau makna berada di wilayah konsep estetika, fungsi, dan peranan seni tari dalam konteks yang lebih holistik (Nungki Kusumastuti, 2025).


Sebagai langkah awal untuk mengimplementasikan penelitian yaitu pemilihan topik. Adapun topik penelitian sejarah disarankan dengan memilih topik yang menarik, memiliki keunikan spesifik, memiliki arti penting, dan memungkinkan untuk diteliti secara intensif (manageable topic).


Dalam penelitian dengan menggunakan metode sejarah terdapat tahapan yang wajib dilakukan, pertama tahap heuristik. Heuristik merupakan pencarian dan pengumpulan sumber-sumber yang berkorelasi erat dengan objek penelitian. Dalam tahapan ini seorang peneliti seyogianya mengumpulkan sebanyak-banyaknya sumber bahan penelitian. Peneliti disarankan melakukan dengan penuh kesabaran, telaten, dan kejelian. Selain itu juga diperlukan testimoni atau kesaksian sebagai informasi yang penting.


Sebagai contoh ketika peneliti akan melakukan penelitian wayang topeng di Padepokan Tjipta Boedaja Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Dukun Kabupaten Magelang, perlu melakukan kajian dari sumber referensi tertulis sebagai rujukan seperti referensi cerita Panji, topeng, alur cerita wayang, atau tulisan di media massa juga jurnal ilmiah yang pernah menulis tentang wayang topeng. 


Kedua, kritik sumber. Dalam tahapan ini lebih menekankan bahwa dalam kritik sumber merupakan langkah untuk mengkritisi dari sumber-sumber yang telah dikumpulkan untuk dibuktikan otentisitas   dan kredibilitasnya. Tujuan dari kritik sumber ini tak lain adalah mengkaji kembali penelitian atau tulisan sebelumnya dikondisikan dengan kondisi terkini, karena dimungkinkan kondisi penelitian sebelumnya dengan aktualisasi terbaru objek penelitian sudah jauh berbeda. Untuk kritik sumber ini peneliti sebaiknya berkolaborasi dengan para ahli di luar disiplin ilmunya atau melakukan kajian lintas disiplin. Misalnya ahli arkeolog dapat menjadi mitra kerja sama apabila objek penelitian berkorelasi dengan benda-benda arkeologi seperti tari di relief candi.


Ketiga, interpretasi. Implikasi interpretasi adalah kegiatan untuk menafsirkan fakta juga menentukan makna dan saling berkorelasi dengan perolehan fakta. Dengan kata lain interpretasi dibuat berdasarkan informasi yang diberikan oleh jejak-jejak masa lampau tersebut untuk masuk pada suasana masa lampau yang diteliti.


Dalam interpretasi diperlukan kejelian dalam mengorelasikan sebuah fakta satu dengan fakta lain sehingga peneliti dapat mengisahkan kembali untuk menarasikan sebuah peristiwa historis. Sebagai contoh, ketika peneliti mendapat informasi bahwa wayang topeng di Tutup Ngisor  Kabupaten Magelang sudah berlangsung melintasi berbagai generasi, kiranya dapat dikorelasikan dengan kondisi sosio kultural yang ada di sekitar lokasi objek, yang dapat menjadi faktor dominan  seni pertunjukan tersebut dapat survival sampai sekarang.


Keempat, historiografi. Pada prinsipnya historiografi adalah tahapan menyampaikan hasil rekonstruksi imajinatif masa lampau sesuai dengan jejak-jejaknya yang kemudian dituangkan ke dalam karya tulis menjadi narasi historis. Oleh karena itu, kapabilitas menulis sangat dibutuhkan. Membuat tulisan bersejarah dengan kombinasi berbagai elemen permainan diksi yang membikin publik tidak bosan untuk membaca. Dalam menuangkan kisah historis tersebut disarankan memuat kemampuan untuk membawa pembaca ke dalam peristiwa tersebut.


Identitas Bangsa


Pada prinsipnya mempelajari seni tari secara komprehensif melalui berbagai perspekif termasuk sejarah dapat menguatkan perannya dalam dinamika kehidupan manusia serta menguatkan perannya sebagai identitas bangsa. Seni tari bukan hanya sekadar wujud ungkapan estetika, namun di dalamnya terkandung simbol budaya yang memuat nilai historis, filosofis, dan estetika dengan segala keunikannya.


Di samping itu, penelitian sejarah seni tari merupakan upaya krusial dalam mendokumentasikan, menganalisis, dan memaknai evolusi gerak manusia dalam konteks sosial, politik, dan budaya. Melakukan penelitian sejarah seni tari tidak sekadar mencatat peristiwa masa lalu, tetapi juga berfungsi sebagai alat pelestarian, identifikasi, dan pengembangan nilai karakter bangsa. Di samping itu, penelitian sejarah seni tari juga dapat menjadi fondasi penting untuk menjaga ingatan kolektif bangsa. Penelitian tersebut dapat mengubah seni tari dari sekadar pertunjukan visual menjadi ruang refleksi diri dan warisan budaya yang tak ternilai.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar