Nilai Seni Tari Menguatkan Pendidikan Karakter

Dilihat 24 kali
Pementasan Sendratari bertajuk Bhumi Sambhara Budhara di GOR Laudato di kompleks SMA Seminari Mertoyudan Kabupaten Magelang dengan penari dan pengrawit para seminaris Kelas Persiapan Pertama angkatan 114 dapat menguatkan Pendidikan Karakter berbasis budaya yang sarat akan nilai humaniora.

Dalam dinamika perjalanan waktu, ada pengalaman menarik yang penulis alami, ketika melakukan pendampingan seni tari di SMA Seminari Mertoyudan Kabupaten Magelang. Pada semester genap ini, proses pendampingan dilakukan dengan target penilaian berbasis projek. Hasil akhir dari proses pendampingan tersebut murid-murid harus mementaskan semua hasil yang sudah dipelajari selama satu semester ini.


Ide dasar dimulai pada bulan Januari lalu dengan merancang bentuk pertunjukan yang akan ditampilkan. Dari hasil diskusi bersama, tercetus ide pada penilaian projek mereka akan menampilkan seni tari dramatik dalam bentuk sendratari. Penulis sebagai pendamping melontarkan usulan naskah cerita berdirinya Candi Borobudur dengan tajuk Bhumi Sambhara Budhara. Sontak usulan disetujui, karena mereka juga ingin mengetahui secara lebih mendalam latar belakang narasi di balik kemegahan candi peninggalan Dinasti Syailendra tersebut.


Meniti proses kreatif selama latihan tentunya bersinggungan juga dengan berbagai aspek lain yang menyertai, seperti mengatur waktu, disiplin, kerja keras, kolaborasi dengan sesama teman, dan berbagai dinamika lain. Ketika secara teknis, penulis hanya memberikan gerak-gerak kunci, mereka perlu mengelaborasikan agar gerak tersebut memiliki jiwa dan mampu berkomunikasi dengan penonton.


Di samping itu, mereka perlu memahami karakteristik tokoh yang dimainkan sampai tingkat intensitasnya, apa lagi pertunjukan tersebut diiringi gamelan langsung. Dari kerja keras para seminaris yang notabene masih kelas persiapan pertama, akhirnya membuahkan hasil dengan keberhasilan pentas pada 27 April 2026 di GOR Laudato Si Seminari Menengah Mertoyudan dalam acara Pesta Petrus Kanisius ke-114. Terlebih lagi seni pertunjukan yang mereka tampilkan diliput oleh para jurnalis, yang sore harinya bisa langsung dipublikasikan. Fenomena langka tersebut, tentunya dapat memberikan nilai kebanggaan kepada mereka sebagai bentuk reward dari jerih payahnya selama melakukan proses kreatif.


Dari ilustrasi tersebut dapat dieksplanasikan lebih jauh bahwa pelajaran Seni Budaya pada umumnya termasuk seni tari di dalamnya dapat mengartikulasikan dan menyebarkan informasi dan nilai-nilai inovatif. Pelajaran tersebut juga dapat memberikan jalur alternatif untuk bisa menjadi lebih humanis.


Di samping itu melalui pembelajaran Seni Tari dinilai efektif untuk menumbuhkan, merawat, dan mengembangkan potensi-potensi manusia, termasuk generasi saat ini untuk berimajinasi secara positif. Melalui pendidikan yang memunculkan potensi imajinasi, salah satunya seni, anak-anak muda ini bisa belajar dan bertumbuh menjadi sosok-sosok yang berkarakter untuk selalu terhubung (connected), berbela rasa (compassionate), dan berkesanggupan (commited). Pembelajaran tersebut diimplementasikan melalui melalui serangkaian proses, baik itu mengamati, memahami, dan mengomunikasikan hal-hal yang diamati dan dipahaminya (In Nugroho Budisusanto SJ, 2019).

 

Nilai Karakter


Di tengah derasnya arus globlalisasi di era banjir digital, generasi saat ini memerlukan fondasi karakter kuat agar tidak terjerumus dalam deviasi perilaku yang tidak sesuai dengan sistem dan perilaku normatif sebagai bangsa berbudaya. Oleh karena itu penanaman dalam pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran di sekolah menjadi indikator kunci untuk selalu diimplementasikan baik dalam pola pikir maupun pola tindak.


Adapun implikasi pendidikan karakter adalah usaha sadar manusia untuk mengembangkan keseluruhan dinamika rasional antar pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, untuk membuat seseorang dapat menghayati keberhasilannya dan dapat semakin bertanggung jawab dirinya sendiri sebagai pribadi berdasarkan nilai-nilai moral yang menghargai kemartabatan manusia (Doni Koesoema, A., 2012).


Nilai-nilai pendidikan karakter dapat ditanamkan melalui banyak mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam materi pembelajaran, tak terkecuali pelajaran seni. Materi pembelajaran Seni Budaya baik teori maupun praktik sejatinya mengandung nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan kepada murid secara holistik.


Pada dasarnya mata pelajaran Seni Budaya di sekolah sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter bahwa tujuan utama dalam pelajaran ini di sekolah bukan untuk membuat murid sekadar terampil berkesenian, tetapi sebagai media untuk membentuk karakter mereka menjadi pribadi utuh.


Salah satu aspek seni dalam pembelajaran Seni Budaya yang dapat menjadi media dalam membentuk karakter siswa adalah seni tari. Materi pelajaran Seni Tari yang berkaitan dengan norma-norma atau nilai-nilai perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.


Dengan demikian, pendidikan karakter dalam mata pelajaran Seni Tari tidak hanya pada tataran kognitif tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari murid di masyarakat. Mata pelajaran Seni Tari di sekolah tidak hanya sekadar mengajarkan gerak fisik, tetapi sarat dengan pendidikan berdimensi Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional yang selama ini sering terabaikan. Tidak bisa dipungkiri sampai saat pelajaran Seni Tari dapat membantu membentuk karakter murid melalui integrasi raga, irama, dan rasa.


Pendidikan seni tari memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam membentuk karakter dan mengembangkan potensi murid, khususnya dalam menumbuhkan kreativitas dan kedisiplinan. Melalui kegiatan seni tari, tidak tidak hanya belajar tentang keindahan gerak, tetapi juga dilatih untuk berpikir kreatif, bekerja sama, menghargai proses, serta berkomitmen terhadap tugas yang dijalankan.


Kreativitas tumbuh melalui eksplorasi gerakan, improvisasi, dan interpretasi ekspresi yang memberikan ruang bagi murid untuk berpikir bebas dan orisinal. Proses ini melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara terpadu, sehingga menjadikan seni tari sebagai media pembelajaran yang holistik dan menyenangkan.


Sementara itu, nilai-nilai kedisiplinan terbentuk secara alami dalam proses latihan dan pementasan tari. Murid dibiasakan untuk mengikuti aturan, menjaga konsistensi latihan, menghargai waktu, dan menunjukkan tanggung jawab atas peran yang diemban dalam kelompok. Hal ini menjadikan pelajaran Seni Tari bukan hanya sebagai sarana rekreasi atau hiburan, melainkan sebagai alat pendidikan karakter yang efektif dan berdampak jangka panjang.


Pengenalan Budaya Lokal


Sebagaimana dijelaskan dalam ilustrasi awal tulisan ini, bahwa pelajaran Seni Tari perlu dikorelasikan dengan budaya lokal selaras dengan teori pembelajaran kontekstual yang menekankan pendekatan belajar perlu mengaitkan materi akademik dengan situasi dunia nyata. Strategi tersebut diharapkan dapat mendorong murid membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang dekat dengan lingkungannya.


Seperti halnya, mengenalkan Candi Borobudur secara intensif kepada murid melalui nilai estetika gerak seni tari, dapat memantik mereka untuk menelisik jejak budaya candi peninggalan Dinasti Syailendra tersebut, baik historis, struktur bangunan, filosofis, dan narasi latar belakang pembangunannya.


Keterlibatan murid dalam kegiatan seni tari berbasis budaya lokal dapat meningkatkan kesadaran budaya dan memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas dan bangsa. Dalam konteks globalisasi, pendidikan Seni Tari dapat menjadi benteng pertahanan budaya yang mendidik generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya sekaligus menguatkan pendidikan karakter yang sarat akan nilai humaniora.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar