Pariwisata Berbasis Pengalaman Baru

Dilihat 35 kali
Eksotika latar belakang panorama bukit yang menghijau di lereng Gunung Sumbing dengan hamparan sayuran di sekitar Negeri Sayur Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang banyak dikunjungi wisatawan dari generasi milenial dan gen Z.

Pada saat ini sektor pariwisata kembali menjadi salah satu sektor andalan utama pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia dan sumber devisa negara pascapandemi, dengan adanya peningkatan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara serta domestik. Industri ini secara langsung terbukti memiliki kapabilitas memacu lapangan kerja baru, ekonomi kreatif, pemasukan daerah, serta menunjukkan ketahanan ekonomi strategis.


Sejalan dengan elaborasi tersebut, tentunya diperlukan strategi untuk menggali, mengolah, dan memromosikan kepariwisataan, sehingga banyak menarik animo wisatawan domestik juga mancanegara untuk berkunjung. Elaborasi pariwisata menjadi suatu kegiatan dan usaha yang menyediakan berbagai infrastruktur, produk, dan jasa fasilitas yang diperlukan untuk kebutuhan wisatawan selama dalam perjalanan.


Sebagaimana diketahui, bahwa unsur pokok dalam pariwisata dapat ditengarai dari adanya unsur perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Sedang unsur lainnya ada kegiatan tinggal sementara di tempat yang bukan merupakan tempat biasanya. Adapun tujuannya tak lain untuk mencari penghidupan dan pengalaman baru (Sedarmayanti, 2014).

 

Tren Pariwisata


Pergerakan pariwisata Indonesia diproyeksikan memasuki fase kalibrasi atau mengomparasikan ulang standar pelayanan menuju 2026. Tren pariwisata mendatang perlu ditangkap oleh pelaku pariwisata. Friksi ini ditandai perubahan perilaku wisatawan yang cukup signifikan. Mereka kini semakin mengutamakan pemaknaan perjalanan, fleksibilitas, dan pengalaman bermakna yang berkualitas.


Sebagaimana dikemukakan para pakar, pengalaman eksklusif dan otentik menjadi lebih menarik bagi para pelaku perjalanan atau wisatawan. Terkadang malahan mereka mendikte preferensi sejumlah destinasi. Tren ini banyak dilakukan oleh generasi milenial dan gen z atau digital native.


Digital native, merupakan generasi yang paling haus bepergian untuk mendapatkan pengalaman baru. Buat mereka bepergian bukan sekadar liburan, melainkan juga bagian dari upaya pengembangan diri. Hal ini tercermin dari destinasi wisata yang mereka pilih. Untuk itu penawaran program yang bermakna atau pengalaman eksklusif dapat ditawarkan kepada mereka (Kompas, 2/2/2026).


Oleh karena itu, pihak yang bergerak di bidang pariwisata perlu secara akuratif memahami profil wisatawan, agar ketika wisatawan berkunjung segala infrastruktur utama dan kelengkapan fasilitas lainnya sudah tersedia. Dalam memberikan pelayanan, para pelaku wisata hendaknya juga mengetahui latar belakang pribadi yang bersangkutan.


Digital native yang tumbuh di era digital ini dalam berwisata lebih tertarik pada visualisasi destinasi yang unik, estetis, dan kuliner lokal untuk dibagikan di media sosial. Di samping itu, mereka memiliki minat besar pada wellness tourism (yoga, meditasi, kesehatan mental), ekowisata, dan wisata sejarah yang menawarkan pengalaman nyata.


Pariwisata berbasis pengalaman ini merujuk pada keseluruhan pengalaman yang dialami oleh wisatawan selama kunjungan mereka ke suatu destinasi. Cakupan dalam pengalaman wisatawan ini scopenya meliputi berbagai aspek baik terkait dengan akomodasi, kuliner, atraksi kegiatan, dan intensitas interaksi dengan komunitas lokal.


Pengalaman pariwisata positif dapat menciptakan kenangan yang tak terlupakan bagi wisatawan dan mendorong mereka untuk kembali atau merekomendasikan destinasi tersebut kepada orang lain. Impresif positif ini sangat penting, karena sebarannya langsung dari wisatawan sendiri yang menerima pelayanan langsung tanpa direkayasa. Kiat-kiat strategis ini juga dapat dijadikan sebagai media promosi.


Pengalaman yang baik juga dapat meningkatkan kepuasan wisatawan, pada gilirannya dapat berkontribusi pada loyalitas wisatawan dan pertumbuhan pariwisata jangka panjang. Selain itu, pengalaman pariwisata yang positif dapat membantu destinasi untuk membedakan diri mereka dari pesaing dan menciptakan nilai tambah bagi wisatawan.


Hubungan antara pengalaman pariwisata dan citra destinasi pariwisata itu sangat kompleks. Pengalaman pariwisata yang positif cenderung meningkatkan citra destinasi, sementara pengalaman negatif dapat merusak citra tersebut. Korelasi tersebut sudah tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti harapan wisatawan, kualitas pelayanan, dan komunikasi pemasaran. Faktor-faktor tersebut satu sama lain merajut dalam satu mata rantai yang tidak bisa dipisahkan.


Ekspektasi wisatawan memainkan peran penting dalam responsif mereka mengevaluasi pengalaman mereka di destinasi pariwisata. Apabila ekspektasi wisatawan dapat terpenuhi mereka cenderung memiliki pengalaman positif dan citra baik terhadap destinasi tersebut yang telah memberikan pelayanan memuaskan.


Namun sebaliknya, jika ekspektasi tidak terpenuhi, wisatawan akan merasa kecewa dan memiliki citra negatif terhadap destinasi yang dikunjungi. Tingkat kualitas layanan juga dapat memengaruhi pengalaman pariwisata dan citra destinasi tersebut. Pelaku pariwisata dituntut memberikan layanan yang ramah, supel, familier, efisien, dan menunjukkan tingkat profesional selaku insan pariwisata. Apabila standar komponen tersebut dapat terpenuhi akan menciptakan kesan positif sekaligus wisatawan akan mendapatkan pengalaman bermakna.


Pengalaman yang baik juga dapat meningkatkan kepuasan wisatawan untuk mengoptimalkan lama tinggal. Selain itu, pengalaman pariwisata yang positif dapat membantu destinasi wisata untuk menjadi daya hidup yang membedakan dengan destinasi wisata lainnya. Hal itu tentunya dapat menciptakan nilai tambah bagi pengalaman wisatawan. Ketika pengalaman pariwisata positif terjadi, wisatawan cenderung memiliki citra yang lebih positif terhadap destinasi tersebut.


Peningkatan Pelayanan


Mengingat minat wisatawan tahun ini berbeda dengan sebelumnya, kiranya pelaku pariwisata baik biro perjalanan, hotel, restoran, destinasi wisata lainnya perlu melakukan peningkatan pelayanan. Dalam pariwisata berbasis pengalaman ini, wisatawan akan lebih cenderung langsung berinteraksi dengan budaya lokal untuk tinggal atau berinteraksi bersama masyarakat agar mendapatkan pengalaman baru.


Mereka berharap dengan tinggal dan berinteraksi bersama masyarakat, akan lebih intens dalam mendapatkan pengalaman yang diharapkan, seperti belajar membatik, menikmati kuliner, dan menyaksikan eksotika alam sekitar sepanjang harinya.


Menyikapi fenomena tersebut, kiranya optimalisasi pelayanan merupakan kata kunci agar wisatawan merasakan kenyamanan ketika melakukan perjalanan maupun kegiatan lainnya. Sumber daya manusia pariwisata baik secara langsung maupun tidak langsung perlu menyadari bahwa dirinya dituntut untuk memiliki kapabilitas dalam memberikan pelayanan prima.


Ekspektasinya ketika melaksanakan pelayanan prima ini pelaku pariwisata dapat bersikap profesional untuk mengembangkan fungsi instrumental dengan melakukan terobosan melalui pemikiran yang kreatif dan inovatif. Di samping itu, mereka dituntut memiliki wawasan futuristik dan sistemik sehingga risiko yang mungkin timbul akan dapat diminimalisir.


Tidak kalah pentingnya, wisatawan juga sangat mendambakan destinasi wisata itu ramah lingkungan yang mengutamakan keberlanjutan, konservasi alam, dan minim jejak karbon. Untuk itu kolaborasi antara pemerintah dengan berbagai komponen dalam masyarakat untuk melakukan inisiatif dengan gerakan wisata bersih lingkungan akan menjadi pemantik kesadaran bersama agar lokasi destinasi wisata dan sekitarnya asri, bersih, aman, dan nyaman untuk dikunjungi.


Dengan melakukan strategi yang tepat, ekspektasinya pariwisata Indonesia tidak cukup hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu menangkap peluang serta mendefinisikan ulang bentuk perjalanan baru yang lebih bermakna, inklusif, dan berkelanjutan menuju pariwisata di tahun ini dan prospektifnya di masa depan.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Pariwisata Wiyasa Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar