Pentingnya Dimensi Humaniora dalam Era Merdeka Belajar

Dilihat 2607 kali

P. Budi Winarto, SPd


PERSOALAN mendasar dalam dunia pendidikan di Negara kita saat ini adalah matinya visi, roh dan isi sebuah pengajaran. Institusi pendidikan mereduksi diri menjadi semacam balai latihan pertukangan belaka yang gemar melahirkan tukang yang ahli namun tanpa roh.

Sebagai institusi pendidikan, seperti yang diamanatkan Kurikulum Merdeka, sekolah adalah tempat mendidik dan mengajar, sebagai wahana membuat manusia lebih manusiawi dengan membangun sinergi konstruktif bagi pengaktualan potensi-potensi kecerdasan dalam diri manusia. Namun realitasnya, hal tersebut sampai sekarang belum seperti yang diamanatkan oleh Kurikulum Merdeka, karena manusia kini hanyalah produk mesin sejarah dan barang mainan gurita konglomerasi raksasa. Manusia direduksi sebatas fungsi dan kegunaannya dalam memproduksi sesuatu yang menguntungkan. Situasi ini menuntut institusi pendidikan merefleksikan ulang makna dan visi pembelajaran yang seharusnya sesuai dengan yang diamanatkan kurikulum merdeka dapat diterapkan  di sekolah-sekolah, khususnya dalam konteks peningkatan dimensi  humaniora dalam dunia pendidikan.

Humaniora adalah ilmu-ilmu yang mampu mengangkat manusia menjadi lebih manusiawi. Ilmu-ilmu yang mengkaji mengenai kebudayaan secara umum meliputi ilmu agama, filsafat, seni, sejarah dan ilmu-ilmu bahasa. Kebudayaan yang merupakan bentuk dari humaniora adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan juga  menjelaskan segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia yang meliputi kebudayaan material dan kebudayaan non material.

Manusia sebagai pengemban nilai-nilai

Adanya akal dan budi pada manusia, telah menyebabkan adanya perbedaan cara dan pola hidup di antara keduanya. Oleh karena itu, akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan pola hidup yang berdimensi ganda, yakni kehidupan yang bersifat material dan kehidupan yang bersifat spiritual. Manusia dimanapun dia berada dan apapun kedudukannya selalu berpengharapan dan berusaha merasakan nikmatnya kedua jenis kehidupan tersebut.

Hal di atas sebagaimana kodrat dari Tuhan bahwasanya manusia memang ditakdirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal. Saling mengenal di sini diartikan bahwasanya agar mereka yang berbeda-beda itu bisa saling melengkapi dalam artian memberi dan menerima.

Kemajuan dan perkembangan yang hanya terbatas pada kemajuan material saja akan menimbulkan kepincangan pada kehidupan manusia. Kehidupan mereka kurang sempurna, dimensi di dalamnya akan hilang, karena batin mereka kosong akibatnya tidak akan memperoleh ketenteraman, ketertiban hidup, melainkan justru dapat lebih rusak karenanya.

Material dan spiritual adalah dua hal yang saling melengkapi. Dua hal ini bagaikan jasad dan roh. Kebahagiaan material akan menunjang jasmani kita, sedangkan kebahagiaan spiritual akan menunjang rohani kita.

Manusia sebagai makhluk termulia

Kalau kita lihat dari segi bentuk fisiknya maupun yang ada di sebaliknya, tidak berlebihan kalau manusia menyatakan dirinya sebagai makhluk termulia. Di antara makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan.

Beberapa keistimewaan yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk yang lain, adalah :

  1. Manusia mampu mengatur perkembangan hidup makhluk lain dan menghindarkannya dari  kepunahan.
  2. Manusia mampu mengubah apa yang ada di alam ini.
  3. Manusia memiliki ilmu pengetahuan yang karenanya kehidupan mereka makin berkembang dan makin sempurna.
  4. Semua unsur alam termasuk makhluk-makhluk lain dapat dikuasai manusia dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.

Metode Pendidikan Humaniora

Tugas pendidikan masa kini, seperti yang diamanatkan dalam kurikulum merdeka, pertama-tama bukannya mengajarkan apa yang paling baik diketahui dan dipikirkan pada masa lampau, akan tetapi yang lebih penting adalah menyajikan informasi dan orientasi terhadap masa kini, dan khususnya orientasi terhadap masa depan di mana nantinya para siswa akan hidup di dalamnya. Dengan pendidikan seperti itu, mereka akan memiliki kepekaan dan kemampuan-kemampuan untuk mengambil bagian secara kreatif di berbagai kehidupan masa mendatang.

Mengingat masa lampau tidak akan memberikan kesegaran pada masa kini dan yang akan datang.  Yang perlu kita pikirkan adalah hari ini, marilah kita hadapkan diri kita pada kejadian sekarang. Boleh juga kita menoleh masa lampau, sekedar untuk pelajaran. Kita bisa mengoreksi diri kita dengan melihat kesalahan-kesalahan pada masa lampau. Namun hanya sebatas itu, jangan kita terlalu larut dalam kejadian masa lampau.

Pendidikan humaniora adalah pembinaan kualitas kepribadian anak didik, yaitu untuk mencapai tujuan pengembangan pribadi seutuhnya, maka dalam mengimlementasikan kurikulum merdeka perlu untuk disajikan program-program kegiatan belajar-mengajar yang sifatnya non-verbal, sehingga memungkinkan anak didik untuk mengembangkan kesadaran kepekaannya, serta kemampuan-kemampuan lainnya untuk menikmati kehidupan aktual dan bukan lagi terkungkung hanya di dalam lingkungan dunia intelek yang serba abstrak.

Secara implisit Kurikulum Merdeka mengamanatkan bahwa seseorang yang hanya intelek, tidak akan seimbang jika tidak disertai dengan kecakapan. Orang yang tidak cakap tidak akan mampu menunjukkan dan mengembangkan keintelekannya. Begitu pula orang yang cakap tapi tidak intelek. Dia mampu menunjukkan dan mengembangkan sesuatu. Akan tetapi, dia tidak punya sesuatu atau materi atau bahan untuk ditunjukkan dan dikembangkan.

Selain hal-hal di atas, pendidikan humaniora seperti yang diamanatkan dalam kurikulum merdeka juga mementingkan masalah spiritual. Manusia tak cukup hanya kaya, tampan, cantik dan berkecukupan. Orang yang tersebut tidak akan tenang hatinya tanpa adanya ketenteraman hati. Hal ini dapat dicapai dengan selalu mendekatkan diri pada Tuhan dan mensyukuri segala nikmat-Nya. Bila dimensi humaniora bisa dikembangkan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka di sekola-sekolah maka Persoalan mendasar dalam dunia pendidikan di Negara kita saat ini yaitu matinya visi, roh dan isi sebuah pengajaran tidak akan terjadi lagi. Dan pendidikan yang memanusiakan manusia dan pendidikan yang manusiawi serta pendidikan yang utuh seperti yang amanatkan dalam kurikulum merdeka akan terwujud. Semoga.


*)Penulis adalah guru SMP Pendowo Ngablak

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar