Pentingnya Pengembangan Aktivitas dan Kreativitas Belajar Peserta Didik di Era Kurikulum Merdeka

Dilihat 3956 kali

Oleh : P. Budi Winarto, S.Pd*)


KURIKULUM Merdeka mengamanatkan bahwa  proses pembelajaran pada hakikatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya seringkali kita tidak sadar, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik.

Apa yang diungkapkan tersebut dapat dilihat dalam proses pembelajaran di kelas yang pada umumnya lebih menekankan pada aspek kognitif sehingga kemampuan mental yang dipelajari sebagian besar berpusat pada pemahaman bahan pengetahuan, dan ingatan. Dalam situasi demikian, biasanya peserta didik dituntut untuk menerima apa-apa yang dianggap penting oleh guru dan menghafalnya. Guru pada umumnya kurang menyenangi suasana pembelajaran yang para peserta didiknya banyak bertanya mengenai hal-hal di luar konteks yang dibicarakannya. Dengan kondisi yang demikian, aktivitas dan kreativitas para peserta didik terhambat atau tidak dapat berkembang secara optimal. Banyak resep untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif yang dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas belajar secara optimal, sesuai dengan kemampuan setiap peserta didik.

Efektivitas pembelajaran di era kurikulum merdeka banyak bergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, baik yang dilakukan secara mandiri maupun kelompok. Dalam hal ini, E. Mulyasa (2003) menekankan pentingnya upaya pengembangan aktivitas, kreativitas, dan motivasi siswa di dalam proses pembelajaran.

Dengan mengutip pemikiran Gibbs, E. Muyasa (2003) mengemukakan hal-hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajarnya, yaitu:

  1. Dikembangkan rasa percaya diri para siswa dan mengurangi rasa takut
  2. Memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas terarah
  3. Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya
  4. Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter
  5. Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.

Sementara itu, Widada (1994) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa, guru dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut.

  1. Self esteem approach; guru memperhatikan pengembangan self esteem (kesederhanaan akan harga diri) siswa.
  2. Creative approach; guru mengembangkan problem solving, brain storming, inquiry, dan role playing.
  3. Value clarification and moral development approach; guru mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan holistik dan humanistik untuk mengembangkan segenap potensi siswa menuju tercapainya self actualization, dalam situasi ini pengembangan intelektual siswa akan mengiringi pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa, termasuk dalam etik moral.
  4. Multiple talent approach; guru mengupayakan pengembangan seluruh potensi siswa untuk membangun self concept yang menunjang kesehatan mental. 
  5. Inquiry approach; guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan proses mental dalam menemukan konsep atau prinsip ilmiah serta meningkatkan potensi intelektualnya.
  6. Pictorial riddle approach; guru mengembangkan metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil guna membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
  7. Synectics approach; guru lebih memusatkan perhatian pada kompetensi siswa untuk mengembangkan berbagai bentuk metaphor untuk membuka inteligensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan yang tidak rasional, kemudian berkembang menuju penemuan dan pemecahan masalah secara rasional.

Carolyn Edwards dan Kay Springate dalam artikelnya yang berjudul “The Lion Comes out of the Stone: Helping Young Children Achieve Their Creative Potensial” memberikan saran tentang upaya pengembangan kreativitas siswa, sebagai berikut.

  1. Berikan kesempatan dan waktu yang leluasa kepada setiap siswa untuk mengeksplorasi dan melakukan pekerjaan terbaiknya dan jangan mengintervensi pada saat mereka justru sedang termotivasi dalam menyelesaikan tugas-tugas secara produktif.
  2. Ciptakan lingkungan kelas yang menarik dan mengasyikkan. Lakukan unfinished work sehingga siswa merasa penasaran dan tergoda pemikirannya untuk berusaha melengkapinya pada saat-saat berikutnya. Berikan pula kesempatan kepada setiap siswa untuk melakukan kontemplasi.
  3. Sediakan dan sajikan secara melimpah berbagai bahan dan sumber belajar yang menarik dan bermanfaat bagi siswa.
  4. Ciptakan iklim kelas yang memungkinkan siswa merasa nyaman jika melakukan suatu kesalahan, mendorong keberanian siswa untuk mengambil risiko menerima kegaduhan dan kekacauan yang tepat di kelas, serta memberikan otonomi yang luas kepada siswanya untuk mengelola belajarnya sesuai dengan minat, karakteristik dan tujuannya.

Sesuai dengan yang diamanatkan kurikulum merdeka, untuk membangkitkan motivasi siswa dalam mengembangkan aktivitas dan kreativitas belajar, menurut E. Mulyasa (2003) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

  1. Siswa akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya.
  2. Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai. Siswa juga dilibatkan dalam penyusunan tersebut.
  3. Siswa harus selalu diberitahu tentang hasil belajarnya
  4. Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
  5. Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu siswa
  6. Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual siswa, seperti perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subjek tertentu.
  7. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, rasa aman, menunjukkan bahwa guru peduli terhadap mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.

Apa yang dikemukakan tersebut nampaknya memang tidak mudah untuk dilakukan. Namun, paling tidak guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, yang mengarah pada situasi tersebut. Kendatipun demikian, kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh aktivitas dan kreativitas guru, di samping kompetensi-kompetensi profesionalnya. Semoga.


*)Penulis adalah guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar