Proses Kreatif Seni Kriya

Dilihat 4315 kali
Mateus Budianto, kreator seni kriya dari Galeri dan Rumah Edukasi Godong Pawon Brojonalan Borobudur melakukan proses kreatif pembuatan karya seni relief dari bahan daun bodi.

Hari Minggu yang cerah, beberapa wisatawan yang berkunjung ke beberapa destinasi wisata mulai berangsur normal. Tak terkecuali pengunjung Candi Borobudur. Kelihatan banyak di antara mereka mengunjungi Galeri dan Rumah Edukasi Godong Pawon. Galeri yang berada di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Borobudur, tersebut menghasilkan karya seni kriya relief yang terbuatkan dari daun bodi.


Mateus Budianto selaku kreator dan beberapa tim kerjanya dalam melakukan proses kreatif sampai menghasilkan karya membutuhkan proses panjang. Mulai dari terobosan melakukan karya inovasi, mencari referensi yang berkorelasi dengan Candi Borobudur, sampai bahan baku yang akan digunakan.


Namun berkat keuletan dan soliditas mereka, akhirnya galeri dapat didirikan pada 27 November 2021. Karya mereka cukup unik, karena biasanya karya relief terbuat dari batu, namun mereka membuat dari daun bodi yang dikemas secara detail baik tekstur maupun wujud visualnya, sehingga menghasilkan karya yang spesifik, seperti kisah Jataka, Avadana, Lalitavistara, dan sebagainya.


Dengan terampil, setiap tamu yang datang, diberi penjelasan oleh tim kerja Godong Pawon secara detail mulai dari proses awal karya sampai finishing. Tak ketinggalan kisah relief yang telah dihasilkan tersebut dibuatkan narasi untuk memberi pemahaman kepada pengunjung. Godong Pawon di samping berfungsi sebagai galeri juga menjadikan rumah edukasi bagi pengunjung terkait dengan relief di Candi Borobudur.


Ilustrasi di atas menandakan, seni kriya dapat diolah sedemikian rupa melalui media apapun. Untuk menghasilkan karya tersebut memang dibutuhkan tangan-tangan terampil yang tak kenal lelah untuk melakukan proses kreatif. Tidak jarang dalam perjalanannya mengalami jatuh bangun. Namun upaya untuk melakukan terobosan inovasi terus dilakukan oleh para seniman, sehingga mewujudkan karya yang bisa dinikmati publik


Keterampilan Tangan


Jika ditilik secara etimologis, istilah kriya diambil dari bahasa Sansekerta, yakni krya yang memiliki arti mengerjakan. Pada perkembangannya, kata krya berkembang, diantaranya karya, kerja, serta kriya. Meski begitu, ketiga kata tersebut memiliki makna yang sama.


Dengan demikian pengertian seni kriya secara umum adalah seni kerajinan tangan yang proses pembuatannya menggunakan keterampilan tangan manusia atau handmade dan membutuhkan keterampilan khusus. Jenis seni ini adalah salah satu bentuk seni rupa terapan Nusantara yang telah dikenal sejak zaman dahulu secara turun temurun oleh nenek moyang.


Seni kriya merupakan cikal-bakal atau akar seni rupa Indonesia yang kehadirannya tergayut 3 (tiga) tujuan yaitu pragmatis, magis, dan hiburan. Ketiga tujuan tersebut menjadi parameter perkembangan seni kriya sampai saat ini yang tak lekang oleh pusaran waktu (I Ketut Sunarya, 2008).


Sebagai barang seni, produk seni kriya memiliki beberapa fungsi, diantaranya, pertama, sebagai hiasan atau dekorasi. Produk yang dihasilkan dari kerajinan tangan banyak digunakan sebagai benda pajangan, hiasan, maupun dekorasi ruangan. Beberapa contoh karya seni jenis ini yang dipakai sebagai hiasan atau dekorasi diantaranya patung, seni ukir, hiasan dinding, benda cendera mata, tembikar, dan sebagainya.


Kedua, sebagai media permainan. Selain digunakan sebagai hiasan/dekorasi, jenis karya seni juga banyak digunakan sebagai media permainan. Umumnya, jenis kriya seperti ini berbentuk sederhana dengan bahan yang mudah didapat dan dikerjakan, serta memiliki harga yang lebih terjangkau. Misalnya permainan perang untuk anak-anak. 


Ketiga, sebagai benda terapan. Jenis kriya yang digunakan sebagai benda terapan atau siap pakai adalah benda yang lebih mengutamakan fungsi ketimbang nilai estetikanya, seperti perabot rumah  tangga, gerabah, anyaman, dan sebagainya.


Publikasi Digital


Era digital sekarang ini menuntut semua seniman termasuk seni kriya, perlu lebih mengembangkan kreativitasnya sejalan dengan tanda-tanda zaman yang selalu berubah. Merenung, mencari, mengeksplorasi untuk pengembangan kreativitas perlu terus dilakukan dalam kemajemukan budaya ini.


Publikasi karya lewat media digital tak bisa dielakkan lagi agar karya tersebut dapat menembus batasan ruang dan waktu. Di samping itu, kejelian mencari jejaring merupakan parameter karya yang dihasilkan dapat lebih dikenal publik secara detail dan sebarannya dikenal sampai kedalamannya.


Proses kreatif para seniman kriya dari Galeri dan Rumah Edukasi Godong Pawon Borobudur tersebut pantas diapreasiasi. Mereka melakukan proses kreatif seni kriya dengan terobosan inovasi pembuatan relief yang berkorelasi dengan eksistensi Candi Borobudur. Dalam perkembangan ke depannya, tentu dapat meningkatkan branding Candi Borobudur dengan pluralitas senimannya yang tak henti melakukan proses kreatif.


Beberapa waktu lalu diinisiasi Balai Konservasi Borobudur (BKB) para seniman tari telah menciptakan seni tari yang beriorientasi pada relief Candi Borobudur. Alangkah idealnya bila sudah tiba saatnya pementasan rutin, bisa dirajut kolaborasi paralel, para seniman kriya bisa memamerkan karya seninya yang berkorelasi dengan seni tari yang dipentaskan.


Dengan demikian simbiosis mutualisme dapat terbangun. Pengunjung dapat menikmati seni pertunjukan tari ditambah dengan seni kriya yang berkorelasi dengan pementasan yang baru disaksikan. Nilai keunggulan yang didapat, visualisasi karya seni tari ternyata juga sudah dibuat reliefnya oleh seniman seni kriya. Harapannya, pengunjung mendapatkan nilai tambah dan kesan mendalam dari kunjungannya, sehingga ke depannya akan berkunjung ke Borobudur lagi.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar