Spirit Belajar di Bulan Ramadan

Dilihat 39 kali
Proses pembelajaran di kelas yang penuh keceriaan selama ibadah puasa dapat menumbuhkan spirit belajar sekaligus menguatkan pendidikan karakter berbasis kelas dan kultur sekolah.

Bulan Ramadan atau ibadah puasa telah tiba. Pembelajaran di kelas sudah berjalan normatif seperti biasa, hanya alokasi waktunya yang dikurangi. Sudah barang tentu pembelajaran di bulan puasa ini teknis implementasi dan strategi guru perlu dibedakan dengan pada saat hari-hari normal.


Adapun tujuan dari perbedaan dengan hari-hari normal yaitu untuk menyesuaikan dengan kondisi fisik dan spiritual murid yang sedang berpuasa. Penyesuaian ini bertujuan untuk menjaga produktivitas belajar tanpa mengabaikan kesehatan dan kekhusyukan ibadah. Substansinya walaupun terdapat perbedan dalam strategi pembelajaran, namun tujuan yang mendasar dari proses pembelajaran dapat tercapai, yaitu perubahan perilaku yang positif, meningkatkan pengetahuan, mengembangkan keterampilan, serta membentuk sikap dan nilai-nilai (afektif) murid secara terukur.


Selain itu, kiranya perlu juga diaplikasikan kiat-kiat guru memotivasi murid selama puasa agar semangat belajarnya tetap tinggi. Karena mamang tidak bisa dipungkiri, rasa haus, dahaga, lapar, dan kelelahan fisik tentunya mendera pada saat mereka berpuasa. Tinggal guru perlu pandai-pandainya memberikan motivasi agar mereka tetap memiliki spirit untuk terus menimba ilmu dan puasa bukan menjadi kendalanya.


Latihan Spiritual


Pada dasarnya puasa bukan sekadar praktik fisik, tatapi juga latihan spiritual. Puasa mendidik manusia untuk menunda keinginan, menahan amarah, dan menjaga tutur kata. Dalam dunia modern yang serba cepat dan konsumtif, latihan spiritual tersebut menjadi sangat relevan. Ibadah puasa di bulan Ramadan menghadirkan suatu jeda, memaksa manusia memperlambat ritme hidup dan menata kembali orientasi batinnya (Latif Fuad Nurul H., 2026).


Demikian pula bagi murid di satuan pendidikan atau sekolah. Puasa bagi murid bukan sekadar menahan lapar, melainkan sarana mendidik karakter disiplin, sabar, dan empati sosial. Ibadah ini mengajarkan manajemen emosi, ketaatan, dan bersyukur atas nikmat makanan, sekaligus meningkatkan konsentrasi dan fungsi kognitif. Ini adalah momen penting membentuk kejujuran dan kepedulian terhadap sesama yang kurang mampu.


Menyikapi bulan puasa yang juga berbarengan dengan pesatnya informasi di dunia digital, kiranya guru perlu berperan juga sebagai motivator dan pendukung emosional bagi murid. Keterlibatan afektif sangat berpengaruh dalam pembelajaran mendalam. Dukungan emosional dari guru mendorong penggunaan strategi belajar yang lebih reflektif dan mendalam. Lingkungan kelas yang aman dan empatik memungkinkan murid merasa nyaman, termotivasi, dan aktif dalam belajar. Guru yang menjadi sosok inspiratif dapat mendorong semangat belajar dan keterlibatan murid secara utuh.


Namun perlu juga disadari, saat ini tantangan guru terbesar bukannya memahamkam materi kepada murid, namun menghadapi mereka yang tidak antusias mengikuti proses pembelajaran. Dinamika sekolah, seperti banyak libur, atau kadang kalau banyak kegiatan sekolah sering ada jam kosong, terasa imbasnya di kelas.


Di sinilah pentingnya guru memotivasi murid dengan berbagai cara, di antaranya, pertama, langkah preleksi. Implikasi preleksi adalah upaya yang dilakukan di awal pembelajaran untuk membuka memori, memotivasi, dan mempersiapkan murid sebelum menerima materi inti. Sebagai ilustrasi dapat digambarkan dalam suatu penyajian sinetron yang familiar di tengah-tengah kehidupan masyarakat.


Layaknya sebuah tontonan, dalam adegan sinetron sering memunculkan kembali episode cerita sebelumnya, yang dapat membantu penonton mengingat kembali cerita yang pernah ditayangkan sebelumnya. Di samping itu, penonton dapat terbantu karena dapat menemukan kaitannya dengan cerita sekarang. Bahkan sekarang ini lebih marak, sinetron banyak pula yang menampilkan episode sesudahnya untuk mamancing penonton mengikuti secara berkelanjutan.


Guru dalam memotivasi dapat mengambil inspirasi dari dunia yang tidak jauh dari situasi keseharian murid. Mengorelasikan setiap materi pelajaran dengan dunia nyata akan mendatangkan antusiasme belajar. Yang tidak boleh dilupakan oleh guru dalam memotivasi murid adalah guru sendiri mesti penuh dengan bekal motivasi dalam dirinya. Dalam teori pedagogis lebih ditegaskan, para murid tidak mengingat materi yang diajarkan gurunya, melainkan mengingat segala sesuatu yang dilakukan gurunya baik dalam perilaku, nilai keteladanan, pola pikir, maupun pola tindakannya (St. Kartono, 2011).


Kedua, mendalami makna puasa. Guru dapat memotivasi murid terkait dengan makna puasa secara lebih mendalam dengan tujuan agar puasa tidak hanya sekadar rutinitas tahunan, namun mempunyai makna sebagai tuntunan kehidupan. Seperti makna disiplin dan pengendalian diri. Mengajarkan makna puasa kepada murid membantu mereka memahami pentingnya disiplin dan pengendalian diri. Dengan menahan diri dari makan dan minum selama jam puasa, mereka dapat belajar untuk mengatur keinginan dan emosi. Makna disiplin diri dan pengendalian dari mulai dari pemahaman sampai tataran praksis, tidak hanya berlaku dalam momentum puasa, tetapi juga dalam menjalani kehidupan keseharian, seperti interaksi dengan sesama teman, belajar bersama, dan ketegaran menghadapi berbagai tantangan.


Ketiga, melakukan refleksi dan diskusi di kelas. Mengadakan sesi refleksi di kelas tentang pengalaman berpuasa dapat membantu murid untuk berbagi perasaan dan pemikiran mereka. Dalam konteks diskusi ini dapat mencakup berbagai dinamika selama mereka menjalani puasa termasuk mengaplikasikan nilai-nilai puasa dalam kehidupan keseharian. Dengan cara ini, mereka dapat saling mendukung dan belajar dari pengalaman satu sama lain, serta memperkuat pemahaman mereka tentang makna puasa.


Karakter Positif


Dengan mengimplementasikan berbagai langkah positif terkait dengan makna puasa, guru dan juga sekolah sebagai satuan pendidikan sudah mengaplikasikan makna puasa dalam tataran praksis, sekaligus membentuk karakter yang positif. Kegiatan tadarus, projek sosial, dan sesi refleksi tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai disiplin, empati, dan rasa syukur dalam diri mereka.


Melalui pendekatan yang holistik ini, bulan Ramadan menjadi momen yang tidak hanya berfokus pada aspek ibadah, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kepedulian sosial, menjadikan murid lebih siap untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan dengan sikap yang arif, bijaksana, berempati, dan penuh kasih.


Lebih jauh lagi, puasa dapat menguatkan substansi dari pendidikan karakter berbasis kultur sekolah dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran yang dapat membantu setiap individu semakin dapat menemukan individualitasnya dengan harapan dapat tumbuh secara dewasa, sehat, baik secara psikologis, moral, juga spiritual.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar