Tipologi Arsitektural Candi

Dilihat 75 kali
Candi Borobudur sebagai sebuah mahakarya merupakan karya arsitektur yang hadir pada abad kedelapan dengan tipe punden berundak.

Sampai saat ini bangunan candi masih menjadi destinasi wisata yang menarik dikunjungi. Terutama pada masa liburan, bangunan bersejarah tersebut ramai dipadati pengunjung baik domestik maupun mancanegara. Fenomena itu menunjukkan bahwa bangunan candi masih menjadi primadona fenomenal untuk menjadi sasaran kunjungan wisatawan.

Akan tetapi, membludaknya pengunjung tersebut apakah juga berbanding lurus dengan antusiasme mereka untuk mengamati secara detail bangunan historis yang sampai saat ini tetap megah berdiri. Apakah juga terbayang di mindset wisatawan akan pemikiran para pendiri bangunan candi tersebut yang potensi maupun lompatan berpikirnya sudah jauh ke depan melebihi zamannya? Pada saat itu, peralatan maupun infrastruktur pendukung tidak secanggih sekarang, namun mereka mampu membangun karya monumental yang sampai saat ini masih tetap berdiri dengan megah.

 

Jejak Arsitektural

Pada hakikatnya Indonesia memiliki tradisi arsitektur yang beragam, kuat, dan unggul. Keberagaman itu menunjukkan pola berpikir masyarakat Indonesia pada waktu itu sangat potensial dan beragam. Adapun jejak arsitektural era klasik Hindu-Buddha yang dapat disaksikan sampai saat ini adalah bangunan yang dikenal dengan nama candi.

Sebagaimana pada umumnya candi dapat dipahami sebagai sebuah bangunan yang dominasinya digunakan sebagai tempat peribadatan serta pendarmaan para penguasa pada masa kerajaan Hindu dan Buddha di seluruh penjuru Nusantara. Di Pulau Jawa, situs candi banyak ditemukan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Candi di Jawa Tengah banyak ditemukan terbuat dari bahan batu andesit juga batu putih. Lain lagi di Jawa Timur, batu bata menjadi bahan untuk membut bangunannya.

Candi dapat dikenali sebagai wujud keunggulan tradisi arsitektur di Indonesia baik dari sudut pandang kedinamisan, variasi bentuk, maupun pengaruhnya pasca Hindu Buddha.Di Jawa Tengah terdapat candi besar yakni Borobudur dan Prambanan. Borobudur merupakan candi Buddha dibangun pada masa Dinasti Syailendra abad 8-9 yang berfokus pada perjalanan spiritual menuju Nirvana. Sedangkan Prambanan adalah candi Hindu dari Dinasti Sanjaya yang dibangun pada abad 9 yang fokusnya didedikasikan untuk pemujaan pada Trimurti.

Memahami candi dari sudut pandang arsitektur dapat diketahui bahwa candi tidak dianggap sebagai benda statis (pathological monument) saja, namun dapat berlaku dinamis (propelling monument), baik dalam wujud bendanya maupun wujud transformasi gagasan arsitekturalnya. Di Indonesia, candi-candi berbeda dengan kuil-kuil yang ada di India, meskipun tak dipungkiri tradisi Hindu-Buddha berasal dari sana (Rahadian P.H, et.al., 2018).

Berdasarkan tipologi arsitekturalnya, bangunan candi tersebut dapat dibagi menjadi beberapa jenis yang cukup elementer, yaitu, pertama, tipe menara. Tipe menara ini sering disebut bentuk candi yang dikenal saat ini secara luas, seperti Candi Prambanan, Sewu, Gedongsongo, dan sebagainya. Tipe menara merupakan bangunan yang dibangun menjulang, seperti bangunan menara yang langsing. Tipe ini dapat memiliki ruang maupun tidak dan terbuat dari material batu, bata, kayu, dan sebagainya.

Kedua, tipe berundak. Tipe ini meruapakan bangunan pepunden (sesuatu yang dihormati), yang konstelasinya disusun menyerupai bukit yang berundak-undak. Sebagaimana sudah sering dikenali tipe ini merupakan wujud dari bangunan berundak, seperti di Borobudur dan juga candi-candi lain. Tipe ini menurut hipotesa para ahli, terinspirasi dari bangunan prasejarah punden berundak yang telah dibangun sebelum masuknya tradisi Hindu dan Buddha.

Ketiga, tipe kolam atau petirtaan. Tipe ini menunjukkan bangunan menyerupai kolam, baik yang merespon sumber air dari permukaan bumi, dalam tanah yang muncul  ke tanah permukaan datar, ataupun air yang mengalir dari permukaan berundak yang lebih tinggi ke bawah. Kolam dapat dibedakan menjadi kolam yang bersandar pada tingkat kemiringan tanah, seperti Candi Jalatunda (di Mojokerto Jatim), Candi Belahan (di Pasuruan Jatim), Candi Ngawonggo (di Malang Jatim), dan banyak lainnya. Sedangkan yang tidak bersandar pada permukaan tanah datar di antaranya adalah Candi Penataran di Blitar Jatim.

Keempat, tipe gua. Tipe gua ini dikorelasikan dengan fungsi gua sebagai tempat ritual pemujaan ataupun untuk meditasi, seperti halnya di India. Gua-gua di India dihias dengan ornamen ukiran estetis dan digunakan sebagai tempat pemujaan hingga tempat meditasi. Di Indonesia dapat dilihat di Candi Selomangleng Kediri, Sentono di Prambanan Jawa Tengah, dan banyak lagi lainnya.

Variasi sosok dapat juga berlaku kombinasi antar tipe tersebut, seperti kombinasi antara menara dan berundak. Seperti bagian kaki atau tapaknya dapat berundak-undak kemudian puncaknya berupa menara, seperti Candi Sukuh dan Prambanan (Jawa Tengah), Candi Jago dan Penataran (Jawa Timur). Adapun tipe menara paling banyak ditemukan dari berbagai tipe-tipe bangunan candi yang ada di Indonesia.

Apabila ditelisik lebih mendalam secara holistik, diketahui bahwa candi melambangkan bentang alam makrokosmos atau alam semesta yang dibagi menjadi tiga bagian, yakni dunia bawah tempat manusia yang masih dipengaruhi nafsu. Dunia tengah yang merupakan dunia antara tempat manusia telah meninggalkan alam mayapada dan dalam keadaan suci menemui Sang Pencipta, serta dunia atas tempat bersemayamnya para dewata.

Candi pada dasarnya merupakan bangunan replika tempat para dewa, seperti Mahameru yang ada di bumi, yaitu tempat interaksi manusia dan para dewata. Maka tidak mengherankan, candi sampai saat ini diperkaya dengan motif hiasan yang berkorelasi dengan alam kedewataan, seperti bunga teratai, binatang, dewa-dewa, bidadari, dan sebagainya.

 

Menggali Lebih Mendalam

Mencermati bahwa candi memiliki struktur yang unik dari perspektif arsitektur, kiranya perlu juga penggalian lebih mendalam. Di lembaga pendidikan, seperti sekolah, sanggar-sanggar seni, atau lembaga kebudayaan, perlu diperkenalkan dengan arsitektural candi terutama yang ada di lingkungannya.

Di Kabupaten Magelang, terdapat banyak situs candi yang dapat digali lebih mendalam. Tidak ada salahnya sekolah, sanggar-sanggar seni, atau komunitas kebudayaan membuka kelas untuk mengenalkan arsitektural candi-candi tersebut dengan ekspektasi generasi muda dapat mengenal candi di lingkungannya agar semakin membumi. Sebagai contoh, Candi Mendut, Pawon, dan Borobudur merupakan satu mata rantai imajiner dalam kesatuan candi Buddha yang dapat digali melalui perspektif arsitektural sehingga komunitas dapat lebih mendalami secara intens.

Apabila mereka sudah dapat memahami tentunya akan merasa memiliki. Memberikan wawasan arsitektural candi kepada masyarakat di sekitarnya adalah langkah krusial untuk meningkatkan apresiasi, rasa memiliki, serta mendukung upaya pelestarian warisan budaya. Candi bukan sekadar tumpukan batu, melainkan mahakarya seni dan teknologi masa lampau. Dengan wawasan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan budaya.

Eksistensi warisan budaya tersebut merupakan tanggung jawab dan komitmen bersama yang perlu dilakukan sebagai gerakan bersama. Kolaborasi paralel dengan berbagai pihak untuk mendukung gerakan belajar ini sangat diperlukan agar terbangun sinergitas yang satu sama lain saling berkelindan demi tetap solidnya warisan budaya yang sudah menjadi kebanggaan nasional.

 

Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar