Di tengah gegap gempitanya era digitalisasi ini, berbagai kemudahan fasilitas informasi mudah untuk didapatkan. Dalam genggaman gawainya, seseorang dengan gampang mendapatan akses informasi yang menjangkau seluruh dunia. Tentunya hal itu tidak bisa dihindari, akses informasi yang gampang didapat akan membawa konsekuensi baik itu positif maupuan negatif.
Akses positif sudah dapat dirasakan hingga saat ini. Kemudahan-kemudahan berbagai hal akan didapatkan dengan cepat. Terlebih lagi seiring dengan perjalanan waktu, muncul banyak aplikasi dengan banyak pilihan menarik beserta variasi konten-kontennya seakan manusia dimanjakan melalui banyak kemudahan.
Namun, perlu juga disadari kemudahan-kemudahan tersebut dapat berimbas manusia inginnya cenderung mendapatkan sesuatu dengan instan tanpa berusaha maksimal. Sebut saja, banyak masyarakat sekarang yang malas membaca media massa atau buku, karena dengan gampang mereka tinggal buka gawai dan membaca sekilas saja. Padahal dengan membaca media massa arus utama atau buku, masyarakat diedukasi untuk mencermati setiap peristiwa atau artikel yang disajikan secara jeli dan mendalam.
Dinamika yang berkembang di masyarakat terkait dengan pola maupun gaya hidup yang cenderung konsumtif dengan budaya instan, kini sebagian masyarakat sudah banyak yang menyadari untuk kembali menggeluti maupun mendalami tradisi leluhur yang sarat akan pesan-pesan moral, seperti upacara tradisional adat Jawa.
Upacara tradisional yang berlangsung di masyarakat tersebut dilakukan untuk mencapai ketenteraman hidup lahir batin. Dengan mengadakan upacara tradisional itu, masyarakat di Jawa meyakini dapat memenuhi kebutuhan spiritualnya. Tidak bisa dipungkiri kehidupan rohani komunitas Jawa memang dominasinya bersumber dari ajaran agama yang dikompilasikan dengan untaian kearifan lokal. Oleh karena itu, orientasi kehidupan yang penuh nilai keberagaman itu senantiasa memperhatikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya (Purwadi, 2005).
Ritual Kolektif
Salah satu upacara tradisional di Jawa yang dilakukan menjelang bulan puasa adalah nyadran. Masyarakat pedesaan di Jawa pada umumnya melakukan ritual kolektif untuk mensyukuri karunia yang telah diberikan Sang Pencipta setahun sekali dengan tradisi nyadran. Kata nyadran berasal dari kata bahasa sansekerta sraddha yang artinya keyakinan atau kepercayaan.
Terminologi yakin atau percaya dalam konteks kultur Jawa dapat dimaknakan sebagai keyakinan atau kepercayaan masyakat bahwa para leluhur yang sudah meninggal masih memiliki pengaruh dominan bagi kehidupan manusia secara langsung baik saat ini maupun masa mendatang. Terlebih bagi mereka yang ada keterikatan lansung dengan para cikal bakal desa atau pendiri desa.
Oleh karena itu arwah para pendahulu mereka harus dimuliakan dengan jalan membuat/menyajikan makanan dan minuman yang menjadi kesukaan para leluhurnya dahulu ketika masih hidup, misalnya apem, panggang ayam (kampung), nasi gurih, dan lain-lain. Ritual memuliakan arwah para leluhur itulah yang disebut sraddha atau kini dikenal sebagai nyadran.
Dengan mengimplementasikan tradisi ritual nyadran, masyarakat memiliki keyakinan sudah memenuhi kewajibannya yang sudah dilaksananan turun temurun melintasi berbagai generasi. Mereka juga meyakini bahwa dengan melaksanakan tradisi nyadran akan terbebas dari segala macam bencana. Tradisi nyadran ini juga disebut sebagai bersih desa yang bertujuan untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan atas berkat yang telah diberikan, memohon perlindungan, serta merajut ikatan sosial dengan sesama warga desa.
Adapun nilai spiritualitas nyadran terealisasi dalam berbagai tahapan ritual yang dapat diklasifikasikan menjadi empat dimensi, yaitu pertama, kesadaran akan kematian. Ritual ziarah kubur dan pembersihan makam (besik) adalah pengingat kolektif yang paling kuat akan kefanaan hidup. Kunjungan massal ke kompleks pemakaman membuat setiap individu secara visual dan emosional dihadapkan pada realitas kematian. Masyarakat diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan perlu mempersiapkan bekal untuk alam akhirat. Proses besik atau membersihkan makam juga dimaknai sebagai simbol pembersihan hati dari segala kesalahan menjelang bulan suci Ramadan.
Kedua, penghormatan kepada leluhur. Inti dari nyadran adalah mendoakan arwah leluhur. Melalui pembacaan tahlil, istigasah, dan doa, masyarakat meyakini adanya koneksi spiritual yang terus berlanjut antara generasi yang hidup dan yang telah meninggal. Nilai ini menempatkan penghormatan kepada leluhur sebagai bagian dari ketaatan kepada Sang Pencipta.
Ketiga, ungkapan rasa syukur. Puncak dari rangkaian Nyadran seringkali adalah kenduri atau selamatan (tasyakuran). Masyarakat membawa hidangan tradisional seperti ingkung dan apem untuk didoakan dan dimakan bersama. Nilai spiritual ini adalah ungkapan rasa syukur kolektif kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah, keselamatan, dan rezeki selama setahun terakhir. Doa dan selamatan berfungsi sebagai pengakuan vertikal bahwa segala karunia bersumber dari Sang Pencipta, sekaligus memohon keberkahan untuk tahun yang akan datang.
Keempat, penguatan ikatan emosional berbasis religius. Dalam perspektif sosio-kultural tradisi nyadran juga dapat menyatukan komunitas tanpa memandang status sosial atau ekonomi di bawah satu tujuan religus yaitu mendoakan dan bersyukur. Praktik saling berbagi makanan (berkat) dan bersalam-salaman (silaturahmi) bukan hanya sekadar interaksi sosial, melainkan perwujudan nilai ukhuwah (persaudaraan) yang diperkuat oleh semangat kebersamaan dalam beribadah. Nilai ini mengingatkan bahwa ibadah kepada Tuhan juga terwujud dalam harmonisasi hubungan antarsesama manusia
Secara spiritual, nyadran merupakan mekanisme adaptif yang efektif dan terbukti dapat mengomunikasikan nilai-nilai esensial ajaran moral secara holistik dalam bahasa budaya yang akrab bagi masyarakat Jawa, menjadikannya benteng moral. dan spiritual di tengah disrupsi modernisasi pada saat ini.
Nilai Kearifan Lokal
Tidak bisa dipungkiri, nyadran merupakan wujud dari nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal tersebut dapat terwujud beberapa aspek yang saling terkoneksi satu dengan lainnya. Sebagaimana dalam nyadran, terdapat aspek penguatan solidaritas dan silaturahmi yang mempererat tradisi sosialitas antar warga tanpa memandang stratifikasi sosial.
Di samping itu, wujud syukur juga terbangun dari tradisi nyadran ini. Wujud syukur atas panen atau rezeki yang diterima merupakan penguatan dari identitas budaya di tengah gencarnya modernisasi di era digital ini. Nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi nyadran dapat menjadi penguatan juga dari jati diri kebudayaan yang terus akan membumi di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan segala dinamikanya.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang
0 Komentar