Peringati Tahun Baru Hijriyah, Warga Ngablak Gelar Kirab Seribu Tumpeng

Dilihat 390 kali
Warga Desa Ngablak Kabupaten Magelang menggelar kirab 1.000 tumpeng, untukmemperingati tahun baru Hijriyag 1446, Minggu (7/7/2024), sore.

BERITAMAGELANG.ID - Ribuan warga tiga dusun masing-masing dusun Sowanan, Kuncen dan Ngablak Desa Ngablak Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang, mengikuti kirab 1.000 tumpeng memperingati tahun baru Hijriyah 1446 (1 Muharram atau 1 Suro), pada Minggu (7/7/2024) sore. Kirab ini digelar sebagai wujud syukur warga desa setempat atas limpahan rejeki dari Allah SWT, selama setahun terakhir.

Tumpeng yang dibawa berisi nasi dan aneka lauk, seperti ingkung ayam, sambal goreng krecek, mie goreng, kering kentang, sayur buncis, kerupuk, tahu, tempe, bergedel dan masih banyak lauk lainnya.

Kirab diawali dengan puluhan pasukan bergodo berkostum prajurit lengkap dengan tombaknya, diikuti gunungan sayur hasil bumi warga setempat. Di belakangnya warga dengan mengenakan pakaian adat Jawa membawa tumpeng. Juga ada barisan kesenian seperti jathilan dan topeng ireng turut memeriahkan prosesi kirab. Kemudian ada patung singa berukuran sekitar 7 meter ikut diarak.

Mereka kemudian berkeliling desa untuk selanjutnya menuju petilasan Suro Gendero yang diyakini sebagai pengikut Pangeran Diponegoro. Petilasan ini berada di atas bukit, sehingga rombongan warga harus naik tangga setinggi sekitar hampir 500 meter. Tanpa mengenal lelah, wargapun naik sambil membawa tumpeng.

Setiba di atas, mereka kemudian duduk di atas tikar yang sudah digelar. Tumpeng diletakkan di depannya untuk didoakan oleh tokoh setempat. Doa dilakukan secara lintas agama yakni Islam, Katholik dan Kristen. setelah berdoa, warga dengan riang gembira bersantap bersama.

Kepala desa Ngablak Anni Anggaini mengatakan, tradisi Suran di Pertapaan Suro Gendero ini untuk memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar warga di Desa Ngablak selalu sejahtera dan mendapat lindungan.

Ribuan tumpeng dan lauk pauknya ini merupakan wujud syukur karena warga selalu diberi limpahan rejeki. Gunungan yang sudah dibawa ke atas, kemudian diperebutkan oleh warga. Gunungan ini dibuat sebagai rasa syukur, karena warga yang sebagian besar petani holtikultura bisa hidup sejahtera dengan hasil pertanian tersebut. Suasana menjadi begitu meriah. Apalagi acara ini juga diikuti oleh beberapa mahasiswa dari luar negeri.

Ketua Harian Komite Seni Budaya Nusantara Magelang, Mul Budi Santoso menambahkan, tradisi kirab tumpeng atau  Suran di Pertapaan Eyang Suro Gendero tersebut, sudah menjadi tradisi warga setempat. Kegiatan ini sudah dilaksanakan untuk ke 8 kalinya.

Mereka sengaja berdoa di pertapaan Eyang Suro Gendero karena tokoh yang diyakini sebagai prajurit P Diponegoro ini di makamkam di Sowanan Ngablak.

Mul Budi berharap kegiatan ini kedepan bisa ditata dengan lebih baikdan harus tetap dilestarikan. bahkan tidak menutupkemungkinan bisa dijadikan salah satu kalender event pariwisata.

Kegiatan ini juga sebagai simbol kerukunan umat beragama, karena yang berdoa tidak hanya dari tokoh Islam saja, namun juga dari Katholik dan Kristen.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar